Peristiwa Lubang Buaya

Hari ini, tepatnya dini hari menjelang Subuh, enam orang perwira tinggi dan seorang perwira menengah Angakatan Darat diculik dan kemudian dibunuh oleh pasukan Cakrabirawa pimpinan Dul Arief.

Keenam perwira tinggi yang dibunuh tersebut adalah: Panglima Angkatan Darat Letjen TNI Ahmad Yani, Mayjen TNI R. Suprapto, Mayjen TNI M.T. Haryono, Mayjen TNI Siswondo Parman, Brigjen TNI DI Panjaitan, dan Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo. Jenderal TNI A.H. Nasution yang juga jadi target penculikan berhasil meloloskan diri/ Ajudan Nasution, Lettu Pierre Tandean, akhirnya menjadi korban penculikan dan akhirnya juga dibunuh di Lubang Buaya.

Kelompok yang melakukan penculikan kemudian berhasil merebut Radio Republik Indonesia. Di corong RRI, Letnan Kolonel Untung, yang mengaku sebagai pimpinan dari gerakan tersebut, mengeluarkan pernyataan yang menyebut aksi penculikan sebagai upaya menyelamatkan pemerintahan Indonesia dari kudeta yang dirancang Dewan Jenderal. Untung juga mengumumkan pembentukan Dewan Revolusi yang dipimpin langsung dirinya.

Tak sampai 24 jam, penguasaan atas RRI serta sejumlah obyek vital lainnya berhasil diambil alih pasukan Kostrad yang dipimpin Kolonel Sarwo Edhie Wibowo. Kostrad sendiri saat itu dipimpin Letnan Jenderal Soeharto.

Peristiwa penculikan dan pembunuhan enam perwira tinggi itu merupakan puncak dari konflik dan persaingan politik, baik di antara sesama partai politik, konflik dalam internal TNI, hingga persaingan politik yang lebih tinggi yang juga melibatkan semua elite politik Indonesia saat itu, dari mulai Soekarno, Nasution, hingga Aidit.

Akibat dari peristiwa berdarah itu, Indonesia berada dalam suasana darurat. Partai Komunis Indonesia, yang kemudian didakwa sebagai otak penculikan, harus kehilangan semua elitnya. Ratusan ribu anggota, simpatisan, dan siapa pun yang diduga terkait dengan PKI, langsung maupun tidak, mengalami pembunuhan, penahanan, dan pengasingan. Sebagian besar tanpa melalui proses pengadilan.

Sejarah mencatat, setelah peristiwa tersebut, Indonesia mengalami krisis terbesar semenjak kemerdekaan. Krisis itu tak hanya mengakibatkan ekonomi terpuruk, konsensus politik juga menjadi pecah, yang berujung pada lengsernya Soekarno dan disusul dengan naiknya Jenderal Soeharto ke pucuk kekuasaan di Indonesia.

Sudah 41 tahun peristiwa politik ini berlangsung, namun penafsiran sejarah terus dilakukan untuk memeriksa motif, proses, dan akibat dari krisis politik yang menjalar menjadi kekacauan sosial dan pertumpahan darah. Rangkaian peristiwa yang terjadi di sekitar 1 Oktober, membelah sejarah kita dalam beragam penafsiran. Upaya menyingkap siapa dalang dari peristiwa ini melahirkan pelbagai teori konspirasi. Pelbagai teori dilansir: dari yang menuduh PKI, Soeharto, Soekarno, CIA, hingga teori yang menyebut perstiwa berdarah itu semata sebagai ekses dari konflik internal Angkatan Darat.

Peristiwa berdarah yang dikenal sebagai peristiwa Lubang Buaya ini, akhirnya menjadi lubang hitam bagi ingatan kolektif bangsa. Bukan hanya karena peristiwa itu menyisakan lubang teori yang masih terus diperdebatkan, melainkan juga menyisakan lubang hitam yang lebih mengendap lagi bekasnya: trauma, dendam, dan ketakutan yang hingga kini butuh waktu berlebih dan kesabaran yang berlipat-lipat untuk bisa diselesaikan.

http://bandungjurnal.com/main.php?page=jurnal&d.hj=15b5d2758&name=-1-Oktober-1945;–Peristiwa-Lubang-Buaya-

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 9.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: +1 (from 1 vote)
Peristiwa Lubang Buaya , 9.5 out of 10 based on 2 ratings
Share

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image