tugas bahasa indonesia tulisan ilmiah

TUGAS BAHASA INDONESIA

TULISAN ILMIAH

Nama                    : Raka Dwi Purna Yudha

Kelas                     : 3 EA14

Npm                      : 10208998

UNIVERSITAS GUNA DARMA

FAKULTAS EKONOMI

MANAJEMEN

2011

BAB 4

TULISAN ILMIAH

Pengertian Artikel Ilmiah Populer

Artikel mmerupakan karya tulis lengkap, misalnya laporan berita, surat kabar, dan sebagainya (KBBI 2002: 66), atau bisa juga sebuah karangan/prosa yang di muat dalam media massa, yang membahas isu tertentu, persoalan, atau kasus yang berkembang dalam masyarakat secara lugas (Tartono 2005:84).

Ada beberapa pengertian lain dari artikel:

Artikel merupakan karya tulis atau karangan, karangan non fiksi, karangan tak tentu panjangnya, karangan yang bertujuan untuk meyakinkan, mendidik, atau menghibur, sarana penyampaiannya adalah surat kabar, majalah, dsb, wujud karangan berupa berita atau “kharkas” (Pranata 2002: 120)

Jenis-jenis berdasarkan dari siapa yang menulis dan fungsi atau kepentingannya (Tartono 2005: 85-86). Berdasarkan penulisnya, ada artikel redaksi dan artikel umum. Artikel redaksi ialah tulisan yang di garap oleh redaksi dibawah tema tertentu yang menjadi isi penerbit. Sedangkan artikel umum merupakan tulisan yang ditulis oleh umum. Sedangkan dari fungsinya atau kepentingannya, ada artikel khusus dan artikel sponsor. Artikel khusus adalah nama lain dari artikel redaksi. Sedangka artikel sponsor ialah artikel yang membahas atau memperkenalkan sesuatu.

Pada dasarnya, ada beberapa jenis model penulisan artikel. Model-model tersebut bisa di kelompokkan kepada tingkat kerumitannya. Model yang paling mudah ialah model penulisan populer. Tulisan populer biasanya tulisan ringan yang tidak “njelimet” atau rumit dan bersifat hiburan. Selain itu, bahasa yang digunakan juga cenderung bebas (perhatikan, misalnya bahasa yang digunakan di majalah). Model yang paling sulit ialah penulisan ilmiah. Model ini mensyaratkan  objektivitas dan kedalaman pembahasan, dukungan informasi yang relevan,  dan  biasa yang di harapkan menjelaskan “ mengapa” atau “bagaimana” suatu perkara itu terjadi, tanpa pandang bulu dan eksak (Soesono 1982 :2). Dari aspek bahasa, tentu saja tulisan ilmiah mensayaratkan bahasa yang baku,  ada satu model penulisan yang berada di tengah-tengahnya. Model tersebut di kenal dengan penulisan ilmiah populer dan merupakan perpaduan penulisan populer dan ilmiah. Istilah ini mengacu pada tulisan yang bersifat ilmiah, namun di sajikan dengan cara penuturan yang mudah dimengerti (Soesono 1982:6 Creste 2005 : 171). Meskipun bersifat ilmiah (karena memakai metode ilmiah), bukan berarti tulisan yang di hasilkan di tujukan kalangan akode misi. Sebaliknya, artikel ilmiah populer di tujukan kepada para pembaca umum, dan kita perlu membedakan antara kosakata ilmiah dan populer. Kata-kata populer merupakan kata-kata yang akan di pakai dalam komunikasi sahari-hari, sedangkan kata-kata yang biasa di pakai oleh  kaum pelajar terutama dalam penulisan ilmiah, pertemuan-peretmuan resm, diskusi-diskusi khusus disebut kata-kata ilmiah (Kepaf 2004 : 105-106).

Langkah-langkah dalam menulis artikel:

  • Menguji gagasan

Prinsip paling dasar dari  melakukan kegiatan menulis adalah menentukan atau memasatikan topik atau gagasan apa yang hendak di bahas. Jika, sudah di tentukan gagasannya, kita bisa melakukan sejumlah pengujian.

(georgina dalam Pranata 2002:124;band nadeak 1989:44)

  • Pola penggarapan artikel

Ketika hendak menulis artikel, kita tidak hanya diperhadapkan pada satu kemungkinan. Soesono (1982:16-17) memaparkan setidaknya lima pola yang bisa di gunakan untuk menyajikan artikel tersebut. Pola pemecahannya antara lain:

  • Pola pemecahan topik :

Pola ini untuk memcah  topik yang masih berada dalam lngkup pembicaraan yang menjadi subtopik / bagian yang lebih sempit ligkupnya kemudian di analisa.Pola dan pemecahannya : pola ini lebih da hulu mengemukakan masalah yang masih berada dalam lingkup pokok bahasan yang diberi dengan jelas. Kemudian menganalisa pemecahan masalah yang di kemukakan.

  • Pola kronologi : pola ini menggambarkan topik yang menurut urut-urut dan peristiwa yang terjadi.
  • Pole pendapat : pola ini bisa di pakai jika penulis yang bersangkutan hendak mengemukakan pendapatnya sendiri tentang  topik yang di kerjakan.
  • Pola perbandingan : pola ini membandingkan dua aspek atau lebih dari suatu topik dan menunjukkan persamaan dan perbedaannya. Pola pembandingan paling sering di gunkan untuk menyusun tulisan.

Menulis bagian pendahuluan

Untuk bagian pendahuluan, ada tujuh macam bentuk pendahuluan yang bisa digunakan (Soesono 1982 : 42).  Dengan dari tujuh bentuk pendahuluan dapat menjadi alternatif untuk mengawali penulisan artikel.

  • Ringkasan

Pendahuluan yang berbentuk ringkasan mengemukakan isi tulisan secara garis besar

  • Pernyataan yang menonojol

Pertanyaan yang berisi tentang ketertarikan atau kekaguman agar bertujuan untuk membuat pembaca merasa tertarik

  • Pelukisan

Pendahuluan yang melukiskan suatu fakta, kejadian, atau hal untuk membuat pembaca ingin tahu / ikut membayangkan bersama penilisan apa-apa yang hendak disajikan dalam artikel.

  • Anekdot

Pembukaan jenis ini menawan karena memberi selingan kepada non fiksi seolah-olah menjadi fiksi

  • Pertanyaan

Pendahuluan ini memberikan rangsangan keingintahuan sehingga dianggap pendahuluan yang bagus / baik.

  • Kutipan orang lain

Pendahuluan berupa kutipan seseorang dapat langsung menyentuh rasa si pembaca, sekaligus membawanya ke pokok bahasan yang akan dikemukakan dalam artikel itu

  • Amanat langsung

Pendahuluan berbentuk amanat langsung kepada pembaca agar akan terasa lebih akrab karena seolah-olah tertuju kepada perorang-orangan.

Menulis bagian pembahasan atau  tubuh utama

Untuk ini di sarankan bagiannya di pecah menjadi beberapa bagian masing-masing di batasi dengan subjudul-subjudul. Selain memberi kesempatan agar pembaca beristirahat sejeak.  Subjudul itu juga bertugas sebagai  penyegar, pemberi semangat baca yang baru (Soesono 1982: 46). Oleh karena itu, ada baiknya subjudul tidak di tulis secara kaku.

Menutup artikel

Dalam sebuah artikel bagian yang menentukan adalah penutup. Bagian ini biasanya memuat simpulan dari isi tulisan secara keseluruhan,  bisa saja berupa saran, imbalan, ajakan dan sebagainya (Tartono 2005:88)

Pemeriksaan isi artikel

Ketika selesai menulis artikel, hal selanjutnya yang perlu kita lakukan ialah melakukan pemeriksaan menyeluruh. Untuk memastikan bahwa tulisan yang kita hasilkan kita baik, kita harus rajin memeriksa tulisan kita. Untuk  memudahkan mengoreksikan artikel, beberapa pertanyaan dapat membantu kita dalam menjawab (Pranata 2002:129-130)

Untuk pembukaan, misalnya apakah kalimat pembuka bisa menarik pembaca? Dapatkah pembaca mulai mengerti ide yang kita tuangkan ? jika tulisan kita cenderung serius, adakah kata-kata yang tidak sepantasnya dikatakan?

Untuk isi / tubuh, apakah kalimat mendukung sudah benar-benar mendukung pembukaan ?  apakah masing-masing kalimat berhubungan dengan ide pokok ? dan lain lain.

Untuk kesimpulan, apakah mencangkup semua ide tulisan ? bagaimana sikap / tindakan kita terhadap kata-kata dalam kesimpulan yang di buat ?

Jika kita memberikan respon “tidak” untuk tiap pertanyaan, berarti kita perlu mengecek / merevisi ulang artikel dengan mengganti dan menulis bagian yang salah.

  • Contoh Tulisan Ilmiah

Abstrak
Sindroma balint merupakan suatu sindrom yang utamanya terdiri dari simultanagnosia, ataksia optik, disorientasi spasial , dan hemispasial neglek. Banyak gejala gejala penyerta lainnya , namun keberadaan 2 dari gejala diatas ditambah dengan disorientasi spasial sudah memenuhi syarat untuk ditegakkannya diagnosis sindroma balint .
Sindroma ini terjadi akibat kerusakan dari kedua lobus parietal , dengan faktor etiologi yang sangat beragam . Tidak ada suatu metode terapi yang khusus dapat menyembuhkan sindroma ini kecuali memperbaiki penyakit yang mendasarinya , dan prognosis yang dimiliki juga tergantung dari penyakit yang mendasarinya , namun biasanya buruk

Kata kunci : sindroma balint – manifestasi klinis – penatalaksanaan

Abstract
Balint syndrome is a syndrome which contain simultanagnosia, optic ataxia, spasial disorientation, and neglect hemispatial .There are a lot of clinical manifestation follow them , but for work of diagnostic purpose , we just need 2 of them and add spatial disorientation. This syndrome occur biparietal damage, cause a several number of etiologic factors.
There are not specific therapy, except to manage its underlying desease, and prognostic factor for this circumstasnces usually poor .

Keywords : balint syndrome – clinical manifestation – management

Pendahuluan
Sindroma Balint merupakan sindroma yang timbul karena kerusakan kedua sisi lobus parietal, yang pertama kali ditemukan oleh seorang dokter Hungaria bernama Reszo Balint pada tahun 1909 .(1) Saat itu ia menyadari bahwa pasiennya memiliki keterbatasan dalam penglihatannya dimana pesien tidak dapat melihat lebih dari satu obyek pada waktu yang bersamaan, disertai ataksia optik, dan ketidakmampuan pasien untuk menjangkau obyek yang letaknya berhadapan dengan dirinya .(1,2)
Dalam ilustrasinya , Balint mengungkapkan sewaktu dilakukan pemeriksaan terhadap si pasien dengan dua buah benda yang saling melekat satu sama lain ( misalnya sisir dan sendok ) , maka si pasien hanya melihat benda yang didepannya saja , apabila percobaan tersebut diulang lagi , dengan sebelumnya kedua benda tersebut diturunkan ; maka pasien tampak kebingungan , karena ia malah tidak melihat kedua benda tersebut , namun yang ia lihat benda yang terletak lebih di belakang lagi dari kedua benda yang melekat itu ; yaitu papan tulis yang penuh dengan coretan tulisan dengan menggunakan kapur .(1,2)
Simultanagnosia yang terjadi pada pasien pasien tersebut ternyata tidak terpengaruh terhadap lapang pandang yang dimilikinya ; karena pada pemeriksaan lebih lanjut , tampak lapang pandang intak dengan pemeriksaan menggunakan satu obyek ; dan dari penelitian lebih lanjut tampak bahwa simultanagnosia juga tidak terpengaruh terhadap besar obyek yang dilihat ; jadi pasien dapat saja melihat entah itu semut atau gajah selama hanya satu obyek tunggal (1,3)
Sindroma biparietal yang terkena ini , ternyata juga timbul dari adanya hemispasial neglect dan kekacauan kata kata yang diderita pasien . Lebih lanjut akan kita diskusikan , hal hal apa saja yang membangkitkan sindroma ini , dan analisa hipotesis yang mendasari terjadinya keadaan ini .(2)

Etiologi dan anatomi sindroma Balint
Secara anatomi , tidak hanya lesi yang dapat menyebabkan hemispasial neglect ( utamanya pada daerah perbatasan temporoparietal ) yang dapat menyebabkan sindroma ini , tapi juga lesi lesi bilateral yang memiliki jaras penghubung pada area asosiasi posterior didaerah kortek. Lesi didaerah oksipitoparietal , yang mengenai gyrus angularis pada lobus oksipital dorsorostral , lalu area precuneus juga dapat menyebabkan sindroma ini , dengan penyebaran kearea girus temporalis superior . (1,2,3)
Apabila sindroma Balint terjadi tanpa hemispasial neglect , maka kemungkinan penyebab terbesar , kerusakan melibatkan daerah kuneus dan prekuneus dari perbatasan parieto-oksipital , dan girus angularis pada kedua belah sisi otak besar .(3)
Keterlibatan girus parieto-oksipital dalam hal ini , dapat terjadi akibat stroke akibat emboli jantung, penetrasi peluru , dan hal hal lainnya ; hal ini disebabkan karena girus ini terletak pada daerah yang diperdarahi arteri otak bagian medial dan posterior , sehingga sebab sebab lainnya yang disebut diatas dapat pula mencakup akibat hipoperfusi cerebral secara global , oligemia yang disebabkan hipoksia , hiperglikemia, peningkatan asidosis laktat disepanjang daerah tersebut .(3)
Suatu keadaan yang timbul terkait dengan operasi by-pass jantung yang dijalani pasien , sehingga yang bersangkutan mengalami syok kardiogenik sehingga menyebabkan hipotensi dan hipoksia sering terjadi dan memicu timbulnya sindroma Balint yang tidak disadari . (3,4)
Sebab lainnya adalah suatu glioma yang bercorak kupu kupu , yang timbul di satu sisi lobus parietal dan menyebar ke lobus parietal diseberangnya , melewati korpus kallosum ; apabila dilakukan radiasi pada keadaan tersebut , maka nekrosis yang timbul akibat radiasi tersebut , dapat juga menyebabkan keadaan ini .(1,2,4)
Penyakit penyakit degeneratif, seperti alzheimer sudah dilaporkan dapat menyebabkan sindroma Balint .(2)
Kelainan kelainan yang seringkali ditemukan pada sindroma ini , karena terkait dengan kerusakan pada bagian bagian otak yang sudah disebutkan diatas , sudah banyak dilaporkan dalam berbagai kepustakaan ; diantara kelainan kelainan tersebut ialah agnosia asosiatif, prosopagnosia, alexia, gangguan lapang pandang, dan beberapa gangguan kognitif . Dengan banyaknya kelainan penyerta yang timbul , seringkali pemeriksan kesulitan menegakkan suatu diagnosa sindroma Balint ; namun Holmes dan Horax mengatakan bahwa ,apabila sudah dipenuhi 2 tanda utama dari keadaan ini yaitu gangguan konstriksi atensi pada visual ( yang mencakup simultanagnosia dan ataksia optik ) serta disorientasi spasial ; maka penegakkan diagnosa sindroma ini sudah sangat memadai .(1,4)

Kelainan kelainan yang sering timbul pada sindroma Balint
Bila sindroma ini sudah masuk dalam stadium berat , penderita akan tampak seperti orang buta , tidak ada reflek ancam , gaya berjalan tampak seperti orang sempoyongan , dan tidak dapat mempertahankan posisi bila berhadapan dengan lawan bicaranya secara frontal . Pada pemeriksaan , bila pemeriksan tenang dan sabar, dengan meletakan obyek didepan pasien hingga matanya mampu memfiksasi obyek tersebut ( tanpa ada obyek lainnya ) , pasien mulai menyadari dan mampu melihat obyek tersebut , namun pada saat itu , pasien betul betul tidak akan melihat disekeliling obyek yang dilihat , sehingga perhatiannya hanya terfokus pada obyek tersebut .(4,5)
Pada suatu pemeriksaan sindroma balint yang sudah cukup berat ; pernah seorang pasien disuruh untuk menggambar suatu obyek diatas kertas gambar. Keesokan harinya begitu pemeriksa memperlihatkan gambar yang telah dibuat pasien , dengan sedikit terkesima penuh kekaguman, pasien memiringkan kepalanya, dan memicingkan matanya , dan berujar kepada si pemeriksa ,” dokter, saya tidak melihat gambar apapun yang ada , namun apabila bentuk yang dokter maksud itu adalah pola dan corakan serat serat kertas yang ada dihadapan saya ; maka corakan tersebut memang sangat mengagumkan “.(4)

Gangguan konstriksi atensi pada visual : Simultanagnosia
Holmes dan Horax , memeriksa seorang veteran perang dunia I berumur 30 tahun , dengan bekas luka tembak yang menembus gyrus parieto-oksipital , dan menulis kesimpulannya bahwa pasien hanya dapat melihat satu objek pada satu waktu .(2,3,4)
Coslett dan Saffran , melukiskan bahwa pasien yang ia periksa tidak saja sangat terganggu dengan pola penglihatannya sekarang dimana pasien hanya dapat melihat satu orang pada acara televisi yang pasien tonton , tapi juga pasien sering kebingungan apabila membaca rangkaian kata ; begitu juga pada saat menulis , karena seringkali pasien melihat ujung pensilnya hilang berganti dengan corakan kertas , dan berganti lagi dengan huruf yang ia tulis .(4,5)
Lebih lanjut , Holmes dan Horax menemukan bahwa pasien sindroma Balient tidak dapat membedakan besar-lecil, panjang-pendeknya sebuah benda , bukan karena tidak dapat memperbandingkannya ,namun lebih karena tidak ada obyek yang dapat dipergunakan sebagai obyek pembandingnya.(3)
Sehingga dapat dikatakan simultanagnosia adalah suatu padanan yang digunakan untuk melukiskan adanya kelainan dalam mengintegrasi suatu pola pandangan . Namun perlu dicatat , bahwa menurut Wolpert , suatu simultanagnosia saja , tidak hanya terjadi pada sindroma balint , karena setiap lesi yang terjadi pada kortek parieto-oksipital sebelah kiri , seringkali menyebabkan simultanagnosia ; sementara Farah mengatakan bahwa simultanagnosia pada sindroma Balint lebih tepat disebut dorsal dan ventral simultanagnosia , yang merupakan suatu kelainan akibat lesi di parieto-oksipital kiri dan menyebar kedaerah lobus oksipital , sehingga pasien pasien sindroma balint yang menderita simultanagnosia , tidak hanya tidak dapat melihat lebih dari satu obyek pada saat yang bersamaan , tapi juga terdapat suatu disorientasi spasial , dimana ia tidak tahu mengenai letak obyek tersebut atau kemana harus mencari keberadaan obyek tersebut .(1,4,5)

Disorientasi spasial
Holmes dan Horax mengatakan bahwa disorientasi spasial merupakan tanda utama dari sindroma Balint . Mereka melukiskan , bahwa pada pemeriksaan terhadap seorang pasien yang menderita sindroma Balint , bahwa pasien itu sedang berada beberapa meter dari tempat tidurnya , begitu disuruh kembali untuk merubah arahnya menuju tempat tidurnya ; si pasien berbalik, dengan kebingungan mencari dimana tempat tidurnya ; begitu menemukan tempat tidurnya , dan pada saat ia mulai melangkah ; isi pasien berkata ; bahwa ia harus mencari kembali dimana posisi tempat tidurnya . (8)
Tidak pelak lagi , bahwa kedua gangguan ini (simultanagnosia dan disorientasi spasial ) merupakan suatu masalah yang cukup serius bagi pasien dalam menjalani kehidupannya sehari hari .(6,8)

Pergerakan mata yang bermasalah
Pergerakan okulomotor yang bermasalah , juga kerapkali timbul dalam sindroma Balint , seperti gangguan fiksasi, sakadik , pergerakan pursuit dan bola mata . Dengan pasien yang tidak dapat mempertahankan fiksasi kedua bola matanya , maka kemungkinan terjadinya sakadik cukup besar , sehingga akan membuat penghayatan persepsi penglihatan yang kacau karena pergerakan bola mata yang kacau .(2,4)
Holmes dan Horax melukiskan , bahwa dalam pemeriksaan pasien mereka ; si pasien dapat memfiksasi pandangannya terhadap satu obyek ; namun apabila tempat dari obyek tersebut di gerakan / diubah / digeser dengan cepat ; maka si pasien akan kehilangan pandangannya terhadap obyek yang bergerak itu , tidak masalah apakah pergeseran itu hanya beberapa derajat .(2,3,6)

Ataksia Optik
Pada penderita sindroma Balint , terdapat ketidakmampuan untuk menjangkau obyek . Dalam salah satu tulisannya , Holmes dan Horax melukiskan, bahkan sesaat setelah melihat sendok, pasien tidak dapat melihat lurus ke sendok tersebut, dan saat mencoba menjangkaunya, gerakannya sangat tidak akurat , karena dilakukan dengan cara tangannya meraba raba mencari sendok tersebut, hingga menyentuh sendok . (2,3)
Atau contoh lainnya ; berikan pasien penderita sindroma ini sebuah pensil ; lalu minta kepadanya untuk menggambarkan sebuah titik pada lingkaran yang sudah tergambar diatas kertas . Pasien dengan sindroma Balint tidak akan bisa melakukan hal tersebut , bukan karena ketidaktahuannya akan bentuk lingkaran atau fungsi dari pensil , namun lebih karena ia tidak tahu atau tepatnya tidak dapat melihat bentuk lingkaran .(2)

Kelemahan persepsi
Holmes dan Horax menemukan kelainan ini bersama dengan disorientasi spasial . Dikarenakan pasien pasien dengan sindroma ini , tidak dapat melihat dua benda secara bersamaan , maka iapun tidak dapat memperkirakan benda mana yang lebih besar dari lainnya , benda mana yang paling dekat dengannya ; namun tidak demikian bila ada satu benda yang diperlihatkan kepadanya . Misalnya kita memperlihatkan pensil , maka pasien akan tahu bagian mana yang diatas atau yang dibawah . Ketidakmampuan persepsi tersebut juga berlaku pada bidang warna .(6,7)

Kontribusi hemisfer kiri terhadap pergeseran atensi terhadap obyek yang dilihat
Egly dan kawan kawan melakukan penelitian ini terhadap pasien pasien penderita sindroma Balint . Dari hasil eksperimen mereka didapat hasil bahwa terdapat pergeseran atensi diantara obyek pada lesi lobus parietal khususnya sebelah kiri . Pada pasien pasien denan lesi unilateral didapatkan pergeseran atensi , dimana respon terhadap kontraletaral terhadap lesi lebih besar daripada ipsilateral . Dari hasil penelitian lebih jauh didapatkan hasil bahwa lobus parietal kanan mengurusi pergeseran atensi berdasarkan lokasi , sementara lobus parietal kiri mengurusi pergeseran atensi berdasarkan obyek . Kinerja yang sinergis diantara kedua lobus tersebut , disebabkan adanya jaras jaras neocorteks yang menghubungkannya . Pada lapang pandang kanan dalam penelitian ini , tidak didapatkan suatu kelainan .(6,7)

Terapi dan Prognosis
Terapi yang kita gunakan dalam penatalaksanaan sindroma ini adalah sangat tidak spesifik , dan kesemuanya harus berawal dari penyakit yang mendasarinya . Sehingga apabila underlying desease yang menyebabkannya sudah kita atasi , diharapkan manifestasi klinis yang timbul dapat membaik .(1,3,4)
Demikian pula dengan prognosis yang dimiliki , akan sangat tergantung dari underlying desease yang menyebabkan sindroma ini terjadi , namun biasanya dikarenakan pasien sudah dalam stadium lanjut waktu memeriksakan penyakitnya ke dokter , prognosis yang biasanya terjadi adalah buruk . (5,6,7)

Kesimpulan
Seluruh gambaran penting dari sindroma in dapat digolongkan dalam 2 bagian besar , yaitu :
1. penyempitan atensi visual terhadap satu obyek
2. berkutangnya akses terhadap representasi topografik yang berasal dari stimulus visual
terhadap lapang pandang dunia luar maupun memori topografik yang menyertainya .
Keadaan tersebut menyebabkan pasien pasien yang menderita sindroma Balint ini akan melakukan :
1. memiliki keengganan untuk mengenali obyek dan lokasinya
2. proses persepsia yang tidak layak
3. tidak berlakunya representasi spasial dan atensi guna mengenali lingkungan luar yang
berhubungan dengannya .
Tidak ada suatu metode terapi yang khusus dapat menyembuhkan sindroma ini kecuali memperbaiki penyakit yang mendasarinya , dan prognosis yang dimiliki juga tergantung dari penyakit yang mendasarinya , namun biasanya buruk

PENELITIAN KUANTITATIF

BABI PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

:           berupa pengantar mengenai arti penting topik tersebut untuk

diteliti, alur berpikir hingga muncul permasalahan, yang diakhiri

oleh perumusan masalah yang berbentuk kalimat tanya

B. Tujuan Penelitian

:          berisi tujuan diadakannya penelitian tersebut

C. Manfaat Penelitian

:          berisi manfaat teoritis dan manfaat praktis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A.      Variabel terikat / kriterium

:       berisi pengertian atau defmisi variabel tersebut, aspek / dimensi / komponen / bentuk / gejala dsb dari variabel tersebut yang nantinya dijadikan indikator dari alat ukur yang digunakan, faktor-faktor yang mempengaruhi, dan sebagainya

B. Variabel bebas / prediktor

:          berisi pengertian atau definisi variabel tsebut, aspek / dimensi

/ komponen / bentuk / gejala dsb dari variabel tersebut yang nantinya dijadikan indikator dari alat ukur yang digunakan, faktor-faktor yang mempengaruhi, dan sebagainya

C. Subjek Penelitian

:         untuk menggambarkan subjek penelitian — berisi pengertian, karakteristik dsb) mengenai subjek penelitian (misal : remaja, ibu rumah tangga, waria, pekerja seks komersil, dsb)

D. Hubungan antara Variabel A dengan B atau Perbedaan pada variabel A

berdasarkan variabel B

:           berupa dinamika yang menggambarkan keterkaitan antara

variabel A clan Variabel B (baik berupa hubungan, pengaruh, atau perbedaan), sehingga nantinya dapat ditarik suatu hipotesis

E. Hipotesis

BAB III METODE PENELITIAN

A. Identifikasi variabel-variabel penelitian

:         berisi variabel apa saja yang ada dalam penelitian tersebut

B. Definisi operasional variabel-variabel penelitian

:         bentuk operasional dari variabel-variabel yang digunakan, biasanya berisi definisi konseptual, indikator yang digunakan, alat ukur yang digunakan (bagaimana cara mengukur) & penilaian alat ukur (semakin tinggi skor menunjukkan semakin tinggi …….)

C. Subjek penelitian

:         berisi karakteristik subjek yang digunakan dalam penelitian, juga diberi penjelasan mengenai populasi, sampel dan teknik sampling yang digunakan

D. Teknik pengumpulan data

:           teknik dan alat ukur yang digunakan dalam pengumpulan data dan setiap alat ukur yang digunakan perlu dijelaskan

E. Validitas dan reliabilitas alat pengumpul data

:            berisi pengertian mengenai konsep validitas dan reliabilitas serta teknik yang dilakukan. Jika menggunakan alat ukur yang sudah ada, hasil uji validitas dan reliabilitasnya harap ditulis.

F.  Teknik analisis data

:            teknik yang digunakan untuk menganalisis data penelitian

BAB IV  PENUTUP

A.      Simpulan

:    berupa poin-poin yang berisi hasil penelitian yang menjawab hipotesis penelitian dan hasil tambahan lainnya.

B. Saran

:       saran untuk subjek atau pihak-pihak yang berkaitan dengan hasil penelitian, juga untuk penelitian selanjutnya

Daftar Pustaka

Lampiran

PENELITIAN EKSPERIMEN

BABI   PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

:         berupa pengantar mengenai arti penting topik tersebut untuk diteliti, alur berpikir hingga muncul permasalahan & diakhiri oleh perumusan masalah yang berbentuk kalimat tanya

B. Tujuan Penelitian

:           berisi tujuan diadakannya penelitian tersebut

C. Manfaat Penelitian

:           berisi manfaat teoritis dan manfaat praktis

BAB II  TINJAUAN PUSTAKA

A. Variabel terikat

:        berisi pengertian atau definisi variabel tersebut, aspek / dimensi / komponen / bentuk / gejala dsb dari variabel tersebut yang nantinya dijadikan indikator dari alat ukur yang digunakan, faktor-faktor yang mempengaruhi, dan sebagainya

B. Variabel bebas

:        berisi pengertian atau definisi variabel tersebut, aspek / dimensi / komponen / bentuk / gejala dsb dari variabel tersebut yang nantinya dijadikan indikator dari alat ukur yang digunakan, faktor-faktor yang mempengaruhi, dan sebagainya

C. Subjek Penelitian

:          untuk menggambarkan subjek penelitian — berisi pengertian, karakteristik dsb)

mengenai subjek penelitian (misal : remaja, ibu rumah tangga, waria, pekerja seks komersil, dsb)

D. Pengaruh / efektivitas              variabel bebas terhadap (untuk meningkatkan) variable

terikat

:          berupa dinamika yang menggambarkan pengaruh dari variabel

bebas terhadap variabel terikat pada subjek penelitian (kelompok eksperimen dan kelompok kontrol), sehingga nantinya dapat ditarik suatu hipotesis

E. Hipotesis

BAB III  METODE PENELITIAN

A. Identifikasi variabel penelitian

:           berisi variabel apa saja yang ada dalam penelitian tersebut

B. Definisi operasional variabel penelitian

:         bentuk operasional dari variabel-variabel yang digunakan, biasanya berisi definisi konseptual, indikator yang digunakan, alat ukur yang digunakan (bagaimana cara mengukur) & penilaian alat ukur

C. Subjek penelitian

:           berisi karakteristik subjek yang digunakan dalam penelitian.

D. Teknik pengumpulan data

:        teknik dan alat ukur yang digunakan dalam pengumpulan data dan setiap alat ukur yang digunakan perlu dijelaskan

E. Validitas dan reliabilitas alat ukur

:        berisi pengertian mengenai konsep validitas dan reliabilitas serta teknik yang dilakukan. Jika menggunakan alat ukur yang sudah ada, hasil uji validitas dan reliabilitasnya harap ditulis.

F. Rancangan Eksperimen

:           menggambarkan rancangan eksperimen yang digunakan dalam penelitian

G.Teknik analisis data

:           teknik yang digunakan untuk menganalisis data penelitian

BAB IV  PENUTUP

A.      Simpulan

:       berupa poin-poin yang berisi hasil penelitian yang menjawab hipotesis penelitian dan hasil tambahan lainnya.

B. Saran

:       saran untuk subjek atau pihak-pihak yang berkaitan dengan hasil penelitian, juga untuk penelitian selanjutnya

Daftar Pustaka

Lampiran

PENELITIAN KUALITATIF

BABI  PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

:           berisi pengantar mengenai alasan topik tersebut diteliti dan signifikansi masalah

B. Pertanyaan Penelitian

:           berupa perumusan masalah yang berbentuk kalimat tanya (mengapa, bagaimana)

C. Tujuan Penelitian

:           berisi tujuan diadakannya penelitian tersebut

D. Manfaat Penelitian

:           berisi manfaat teoritis dan manfaat praktis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Fokus Penelitian (konsep) 1

:         berisi pengertian atau definisi konsep tersebut, aspek / dimensi / komponen / bentuk / gejala dsb dari konsep tersebut yang nantinya akan dijadikan indikator dari konsep tersebut, faktor­faktor yang mempengaruhi, dan sebagainya

B. Fokus penelitian (konsep) 2 (jika menggunakan 2 konsep)

:         berisi pengertian atau definisi konsep tersebut, a5pek / dimensi / komponen / bentuk / gejala dsb dari konsep tersebut yang nantinya akan dijadikan indikator dari konsep tersebut, faktor­faktor yang mempengaruhi, dan sebagainya

C. Dinamika yang menggambarkan keterkaitan antara konsep 1 dan konsep 2 (jika

menggunakan 2 konsep)

D. Hipotesis (jika mengajukan hipotesis)

BAB III  METODE PENELITIAN

A. Subjek penelitian

:         berisi karakteristik subjek yang digunakan dalam penelitian dan jumlah subjek yang akan diteliti

B. Tahap-tahap penelitian

:         berisi gambaran mengenai tahap persiapan dan pelaksanaan yang dilakukan dalam penelitian

C. Teknik pengumpulan data

:         gambaran mengenai teknik dan alat ukur yang digunakan dalam pengumpulan data

D. Instrumen Penelitian

:         alat bantu yang digunakan di dalam penelitian

E. Keabsahan dan keajegan penelitian

:         berisi pengertian dan gambaran mengenai konsep keabsahan (validitas – dimana didalamnya termasuk triangulasi data) dan keajegan (reliabilitas – termasuk cek dan ricek) dalam penelitian kualitatif

BAB IV  PENUTUP

A.      Simpulan

:             berupa poin-poin yang berisi hasil penelitian yang menjawab pertanyaan penelitian dan hasil temuan lainnya.

B. Saran

:               saran untuk subjek atau pihak-pihak yang berkaitan dengan hasil penelitian, juga untuk peneliti selanjutnya

Daftar Pustaka

Lampiran (termasuk pedoman wawancara, pedoman observasi, verbatim)

STUDI KASUS (1)

Keterangan :

Format untuk laporan studi kasus psikologi pendidikan, perkembangan, sosial & klinis . Jumlah subjek : 1 orang (identitas dirahasiakan)

BABI  PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

:         berisi latar belakang masalah, berupa pengantar singkat mengenai alasan mengapa topik tersebut diteliti

B. Pertanyaan Penelitian

:         Permasalahan yang diajukan dalam penelitian (berbentuk kalimat tanya

mengapa, bagaimana)

C. Tujuan Penelitian

:           berisi tujuan diadakannya penelitian tersebut

D. Manfaat Penelitian

:           manfaat yang diharapkan diperoleh dari hasil penelitian ini

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Fokus Penelitian (konsep) 1

:         berisi pengertian atau definisi konsep tersebut, aspek / dimensi / komponen / bentuk / gejala dsb dari konsep tersebut yang nantinya akan dijadikan indikator dari konsep tersebut, faktor­faktor yang mempengaruhi, dan sebagainya

B. Fokus penelitian (konsep) 2 (jika menggunakan 2 konsep)

:           berisi pengertian atau definisi konsep tersebut, aspek / dimensi

/ komponen / bentuk / gejala dsb dari konsep tersebut yang nantinya akan dijadikan indikator dari konsep tersebut, faktor­faktor yang mempengaruhi, dan sebagainya

BAB III METODE PENELITIAN

A. Subjek penelitian

:         berisi karakteristik subjek yang digunakan dalam penelitian dan jumlah subjek yang akan diteliti

B. Tahap-tahap penelitian

:         berisi gambaran mengenai tahap persiapan dan pelaksanaan yang dilakukan dalam penelitian

C. Teknik pengumpulan data

:         gambaran mengenai teknik dan alat ukur yang digunakan dalam pengumpulan data

D. Instrumen Penelitian

:           alat bantu yang digunakan di dalam penelitian

E. Keabsahan dan keajegan penelitian

:         berisi pengertian dan gambaran mengenai konsep keabsahan (validitas – dimana didalamnya termasuk triangulasi data) dan keajegan (reliabilitas – termasuk cek dan ricek)

BAB IV  PENUTUP

A.      Simpulan

:    berupa poin-poin yang berisi hasil penelitian yang menjawab pertanyaan

penelitian dan hasil temuan lainnya.

B. Saran

:       saran untuk subjek atau pihak-pihak yang berkaitan dengan kasus tersebut, juga untuk peneliti selanjutnya

Daftar Pustaka

Lampiran (termasuk pedoman wawancara, pedoman observasi, verbatim)

STUDI KASUS (2)

Keterangan :

Format untuk laporan studi kasus psikologi indutri – organisasi. Jumlah subjek : 1 orang / 1 perusahaan (identitas dirahasiakan)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

:         berisi latar belakang masalah, berupa pengantar singkat mengenai alasan

mengapa topik tersebut diteliti

B. Pertanyaan Penelitian

:         Permasalahan yang diajukan dalam penelitian (berbentuk kalimat tanya – mengapa, bagaimana)

C. Tujuan Penelitian

:         berisi tujuan diadakannya penelitian tersebut

D. Manfaat Penelitian

:         manfaat yang diharapkan diperoleh dari hasil penelitian ini

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Fokus Penelitian (konsep) 1

:        berisi pengertian atau definisi konsep tersebut, aspek / dimensi / komponen / bentuk / gejala dsb dari konsep tersebut yang nantinya akan dijadikan indikator dari konsep tersebut, faktor­faktor yang mempengaruhi, dan sebagainya

B. Fokus penelitian (konsep) 2 (jika menggunakan 2 konsep)

:        berisi pengertian atau definisi konsep tersebut, aspek / dimensi / komponen / bentuk / gejala dsb dari konsep tersebut yang nantinya akan dijadikan indikator dari konsep tersebut, faktor­faktor yang mempengaruhi, dan sebagainya

BAB III METODE PENELITIAN

A. Subjek penelitian

:        berisi karakteristik subjek yang digunakan dalam penelitian dan jumlah subjek yang akan diteliti

B. Tahap-tahap penelitian

:        berisi gambaran mengenai tahap persiapan dan pelaksanaan yang dilakukan dalam penelitian

C. Teknik pengumpulan data

:        gambaran mengenai teknik dan alat ukur yang digunakan dalam pengumpulan data

D. Instrumen Penelitian

:        alat bantu yang digunakan di dalam penelitian

E.  Keabsahan dan keajegan penelitian

:      berisi pengertian dan gambaran mengenai konsep keabsahan (validitas – dimana didalamnya termasuk triangraasi data) dan keajegan (reliabilitas – termasuk cek dan ricek)

BAB IV  PENUTUP

A.      Simpulan

:       berupa poin-poin yang berisi hasil penelitian yang menjawab pertanyaan penelitian dan hasil temuan lainnya.

B.  Saran

:      saran untuk subjek atau pihak-pihak yang berkaitan dengan kasus tersebut, juga untuk peneliti selanjutnya

Daftar Pustaka

Lampiran (termasuk pedoman wawancara, pedoman observasi, verbatim)

STUDI KASUS (3)

Keterangan :

Format untuk laporan studi kasus psikologi komunitas. Jumlah : 1 kasus di suatu komunitas

BAB I  PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

:         berisi latar belakang masalah, berupa pengantar singkat mengenai alasan mengapa topik tersebut diteliti

B. Pertanyaan Penelitian

:         Permasalahan yang diajukan dalam penelitian (berbentuk kalimat tanya – mengapa, bagaimana)

C. Tujuan Penelitian

:           berisi tujuan diadakannya penelitian tersebut

D. Manfaat Penelitian

:           manfaat yang diharapkan diperoleh dari hasil penelitian ini

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Psikologi Komunitas

:         berisi pengertian dan berbagai aspek yang berkaitan dengan psikologi

komunitas (program, prinsip-prinsip, dsb)

C. Fokus Penelitian (konsep) 1

:         berisi pengertian atau definisi konsep tersebut, aspek / dimensi / komponen / bentuk / gejala dsb dari konsep tersebut yang nantinya akan dijadikan indikator dari konsep tersebut, faktor­faktor yang mempengaruhi, dan sebagainya

D. Fokus penelitian (konsep) 2 (jika menggunakan 2 konsep)

:         berisi pengertian atau definisi konsep tersebut, aspek / dimensi / komponen / bentuk / gejala dsb dari konsep tersebut yang nantinya akan dijadikan indikator dari konsep tersebut, faktor­faktor yang mempengaruhi, dan sebagainya

BAB III METODE PENELITIAN

A. Subjek penelitian

:        berisi karakteristik subjek yang digunakan dalam penelitian dan jumlah subjek yang akan diteliti

B. Tahap-tahap penelitian

:        berisi gambaran mengenai tahap persiapan dan pelaksanaan yang dilakukan dalam penelitian

C. Teknik pengumpulan data

:        gambaran mengenai teknik dan alat ukur yang digunakan dalam pengumpulan data

D. Instrumen Penelitian

:          alat bantu yang digunakan di dalam penelitian

E. Keabsahan dan keajegan penelitian

:         berisi pengertian dan gambaran mengenai konsep keabsahan (validitas – dimana didalamnya termasuk triangulasi data) dan keajegan (reliabilitas – termasuk cek dan ricek)

BAB IV  PENUTUP

A.      Simpulan

:    berupa poin-poin yang berisi hasil penelitian yang menjawab pertanyaan penelitian dan hasil temuan lainnya.

B. Saran

:       saran untuk subjek atau pihak-pihak yang berkaitan dengan kasus tersebut, juga untuk peneliti selanjutnya

Daftar Pustaka

Lampiran (termasuk pedoman wawancara, pedoman observasi, verbatim)

Keterangan :

Subjek I                : orang kunci pada komunitas tersebut / anggota komunitas biasa Subjek IIE.

Keabsahan dan keajegan penelitian

Subyek II             : orang yang memahami masalah komunitas tersebut (setara dengan significant

other)

STANDAR PENILAIAN

Kriteria yang digunakan dalam penilaian adalah sebagai berikut :

1. Presentasi

:           alat bantu yang digunakan, materi yang dipresentasikan, kelancaran, sikap, dll

2. Penulisan Materi

:         materi yang diangkat, alur/logika penulisan, metode penelitian yang

digunakan, kesesuaian format, tata bahasa, dsb

3. Penguasaan Materi

:         penguasaan atas masalah yang diangkat, teori yang digunakan, metodologi, kemampuan menjawab pertanyaan

PENULISAN ILMIAH (PI)

1. Bentuk Laporan

:         berupa proposal, yaitu dalam bentuk proposal penelitian kuantitatif, proposal penelitian kualitatif dan proposal studi kasus (belum mengambil subjek)

2. Format aporan / tata penulisan

:         sama dengan laporan tugas akhir / skripsi (baik untuk penelitian kuantitatif, kualitatif maupun studi kasus), namun hanya sampai Bab III

3. Standar Penilaian

:           sama dengan standar penilaian pada tu
Daftar Pustaka :
1. Mendez MF. Corticobasal Ganglionic Degeneration With Balint’s Syndrome. J
Neuropsychiatry Clin Neurosci 12:273-275, May 2000
2. Liu GT, Newman NJ. Cranial nerve II and afferent visual pathway in Goetz CG (
editors ) Textbook of clinical Neurology 2nd ed. Elsevier Philadelphia, 2003 , pg 128
3. Rizzao M, Veccera SP. Psychoanatomical substrates of Balint’s syndrome. J
Neurol Neurosurg Psychiatry. 2002 Feb;72(2):162-78
4. Al-Khawaja . Neurovisual rehabilitation in Balint’s syndrome. J Neurol Neurosurg
Psychiatry 2001;70:416
5. Moreaud O. Balint Syndrome.
Arch Neurol. 2003;60:1329-1331
6. Phan ML,Schendel KL,Recanzone GH,Robertson LC. Auditory and Visual Spatial
Localization Deficits Following Bilateral Parietal Lobe Lesions in a Patient with
Balint’s Syndrome. Journal of Cognitive Neuroscience. Vol. 12, Issue 4 – July 2000
7. Robertson L,Treissman A, Friedman-Hill S,Grabowecky M. The Interaction of Spatial
and Object Pathways: Evidence from Balint’s Syndrome. Journal of Cognitive
Neuroscience. Vol. 9, Issue 3 – May 1997
8. Shah PA. Migraine aura masquerading as Balint’s syndrome. J Neurol Neurosurg Psychiatry
1999;67:554-555

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image