Adat isitiadat Papua (potong jari)

PAPUA – Saat wanita lain sedang sibuk mengangkuti batu panas dengan sebuah bilah kayu yang yang dibelah, nousa (ibu tua) itu tampak diam saja. Dia sebetulnya sangat ingin ambil bagian dalam acara pesta ini, tapi sudah tidak mungkin lagi baginya untuk mengangkat banyak hal. Tangannya cacat, hampir seluruh jemarinya hilang. Jika saja tidak disisakan seiris jempol di kedua tangannya, maka bisa jadi banyak orang yang mengira itu bukanlah sepasang tangan manusia.

Jari jemari nousa yang kesepian itu adalah sebuah sejarah panjang yang bercerita tentang kehilangan. Tentang orang-orang tersayang yang pergi, menyisakan sang nousa sendiri.

Cacat tangan itu memang sesuatu yang disengaja. Disebut ikipalin (adat potong jari), jika ada seseorang yang kau sayangi mati, maka potonglah jarimu satu dua biji. Itu melambangkan sebuah duka yang mendalam. Rasa sakitnya ditinggal pergi ibaratnya sampai ujung jari. Daripada sakit terus menerus, maka lebih baik dihilangkan saja, dipotong dengan kapak batu yang tidak terlalu tajam, namun bisa membuat ujung jari remuk remas jika dihunjamkan.

Saya tidak bisa membayangkan sakitnya. Jika pada abad pertengahan, di Eropa orang sudah mengembangkan guillotine (alat penggal kepala) untuk meminimalisir rasa sakit. Maka itulah hebatnya Suku Dani, yang hingga hari ini tidak memiliki evolusi berarti untuk sekedar alat potong jari.

Darah yang mengucur dari ujung jari yang terpotong dibebat dengan daun yang sebelumnya sudah diolesi dengan ramuan tradisional. Menghilangkan rasa nyeri juga risiko terinfeksi dan borok jika dibiarkan terbuka.

Sebuah lukisan realis di lobby hotel Baliem Pilamo mengandaikan proses ini dengan sangat menarik. Lukisan kisah penciptaan dalam Bibel yang terkenal digambar ulang. Tampak dua tangan milik Adam dan Tuhan yang bersatu, seperti lambing connecting people milik Nokia. Hanya saja telunjuk Adam hilang terpotong dan diperban dengan daun dan kulit rotan. Ini adalah mop, lelucon khas Papua.

“Dua jari ini hilang karena adik saya mati dalam perang,” kata Nousa menunjuk jari manis dan kelingkingnya. “Kalau dua ini saya potong karena suami saya meninggal, saya sedih sekali,” lanjutnya memperlihatkan telunjuk dan jari tengahnya.

Tradisi yang mengerikan ini memang sudah berjalan selama ribuan tahun. Bisa jadi suatu saat para arkeolog masa depan banyak menemukan jari jemari tanpa tangan di bawah lapisan tanah Wamena. Bukti peradaban Suku Dani pernah tinggal di atasnya. Saya pikir, dengan banyaknya jumlah perang suku yang terjadi selama ini, pasti banyak ibu dan istri yang potong jari.

Tapi sebetulnya potong jari ini hanyalah satu alternatif dalam berkabung. Dalam tradisi Suku Dani, banyak cara yang bisa ditunjukkan untuk mengunggkapkan duka. Cara yang lain adalah potong telinga, lebih mengerikan bukan.

Sseorang jamaat gereja Hulesi terlihat tidak memiliki dua cuping telinga. Menurut pengakuannya, itu merupakan bentuk belasungkawa terhadap anaknya yang mati lebih dulu. Sebetulnya ini lebih mengerikan dari potong jari. Saya jadi bersyukur tradisi ini tidak ada di Sunda, karena Tuhan menciptakan banyak perempuan rupawan di dalamnya.

Cara lain untuk mengutarakan kesedihan pada Suku Dani adalah dengan melumuri tubuh dengan lumpur sungai. Bang Herman menunjukkan saya seorang wanita yang mukanya penuh lumpur berwarna kuning saat upacara bakar batu,”Suaminya baru saja meninggal, Sukma,” kata Bang Herman menjelaskan.

Bagi keluarga yang sedang berduka, maka pantang untuk pergi jauh dari desa. Masa berkabung ini hanya diisi dengan mendekam diri. Seminggu dua minggu atau lebih. Minggu selanjutnya sudah bisa keluar kampung, tapi dengan tujuan yang tidak jauh. Dilakukan bertahap hingga rasa sedih hilang dan sudah bisa beraktivitas lagi dengan normal.

Apakah ungkapan kesedihan yang dipertunjukkan oleh seseorang yang kehilangan anggota keluarganya. Menangis, barang kali itu yang paling sering kita jumpai. Bagi umumnya masyarakat pengunungan tengah dan khususnya masyarakat Wamena ungkapan kesedihan akibat kehilangan salah satu anggota keluarga tidak hanya dengan menangis saja.

Biasanya mereka akan melumuri dirinya dengan lumpur untuk jangka waktu tertentu. Namun yang membuat budaya mereka berbeda dengan budaya kebanyakan suku di daerah lain adalah memotong jari mereka.

Hampir sama dengan apa yang dilakukan oleh para Yakuza (kelompok orangasasi garis keras terkenal di Jepang) jika mereka telah melanggar aturan yang telah ditetapkan oleh organisasi atau gagal dalam menjalankan misi mereka. Sebagai ungkapan penyesalannya, mereka wajib memotong salah satu jari mereka. Bagi masyarakat pengunungan tengah, pemotongan jari dilakukan apabila anggota keluarga terdekat seperti suami, istri, ayah, ibu, anak, kakak, atau adik meninggal dunia.

Pemotongan jari ini melambangkan kepedihan dan sakitnya bila kehilangan anggota keluarga yang dicintai. Ungkapan yang begitu mendalam, bahkan harus kehilangan anggota tubuh. Bagi masyarakat pegunungan tengah, keluarga memiliki peranan yang sangat penting. Bagi masyarakat Balim Jayawijaya kebersamaan dalam sebuah keluarga memiliki nilai-nilai tersendiri.

pemotongan jari itu umumnya dilakukan oleh kaum ibu. Namun tidak menutup kemungkinan pemotongan jari dilakukan oleh anggota keluarga dari pihak orang tua laki-laki atau pun perempuan. Pemotongan jari tersebut dapat pula diartikan sebagai upaya untuk mencegah ‘terulang kembali’ malapetaka yang telah merenggut nyawa seseorang di dalam keluarga yang berduka.

Seperti kisah seorang ibu asal Moni (sebuah suku di daerah Paniai), dia bercerita bahwa jari kelingkingnya digigit oleh ibunya ketika ia baru dilahirkan. Hal itu terpaksa dilakukan oleh sang ibu karena beberapa orang anak yang dilahirkan sebelumnya selalu meninggal dunia. Dengan memutuskan jari kelingking kanan anak baru saja ia lahirkan, sang ibu berharap agar kejadian yang menimpa anak-anak sebelumnya tidak terjadi pada sang bayi. Hal ini terdengar sangat eksrim, namun kenyataannya memang demikian, wanita asal Moni ini telah memberikan banyak cucu dan cicit kepada sang ibu.

Pemotongan jari dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang memotong jari dengan menggunakan alat tajam seperti pisau, parang, atau kapak. Cara lainnya adalah dengan mengikat jari dengan seutas tali beberapa waktu lamanya sehingga jaringan yang terikat menjadi mati kemudian dipotong.
Begitulah tata cara berbela sungkawa pada Suku Dani. Maka jika aku mati, silahkan kau potong jari.

Namun kini budaya ‘potong jari’ sudah ditinggalkan. sekarang jarang ditemui orang yang melakukannya beberapa dekade belakangan ini. Yang masih dapat kita jumpai saat ini adalah mereka yang pernah melakukannya tempo dulu. Hal ini disebabkan oleh karena pengaruh agama yang telah masuk hingga ke pelosok daerah di Papua.

Sumber :travel.detik.com

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
Share

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image