AKTIVA TETAP DAN AKTIVA TIDAK BERWUJUD

Aktiva Tetap dan Aktiva Tidak Berwujud

PERBEDAAN AKUNTANSI UMUM DENGAN AKUNTANSI PAJAK

Berbeda dengan praktek akuntansi umum yang memberikan keleluasaan pada wajib pajak untuk memakai pendekatan penyusutan per aktiva, perjenis atau kelompok sesuai dengan masa manfaat ekonomisnya, ketentuan pajak membatasi kepada metode per aktiva dan perjenis.

Menurut undang-undang pajak penghasilan, penyusutan atau depresiasi merupakan konsep alokasi harga perolehan tetap berwujud dan amotrisasi merupakam komsep alokasi harga perolehan harga tetap tidak berwujud dan harga perolehan harta sumber alam. Jadi, dalam UU Pajak mencakup juga pengertian yang dikenal dalam dunia akuntansi keuangan.

Klasifikasi Aktiva Tetap dan Aktiva Tidak Berwujud

Klasifikasi aktiva tetap berwujud

-         Aktiva yang dapat disusutkan (depreciable assets)

Contoh : Bangunan, mesin dan peralatan yang lain.

-         Aktiva yang tidak dapat disusutkan (nondepreciable assets)

Contoh : Tanah

Klasifikasi aktiva tetap tidak berwujud

-         Aktiva yang masa manfaatnya dibatasi oleh hukum (ketentuan, persetujuan atau sifat aktiva)

-         Aktiva yang masa manfaatnya tidak terbatas (goodwill dan merk dagang)

Perolehan Aktiva

Perolehan aktiva dapat diperoleh dengan berbagai cara, seperti :

-         Pembelian Akriva

1.   Tunai (kas)

2.   Kredit (angsuran)

-         Perolehan dengan sewa guna usaha modal (leasing)

-         Perolehan dengan pertukaran

-         Perolehan dengan membangun sendiri

-         Perolehan dengan hibah, bantuan atau pemberian

Penyusutan Aktiva

Untuk mengitung besarnya penyusutan Aktiva tetap berwujud dibagi menjadi dua golongan, yaitu :

1.      Aktiva berwujud yang berupa bangunan

2.      Aktiva berwujud yang berupa bangunan (max = 20 thn)

Aktiva berwujud yang bukan bangunan terdiri dari empat kelompok, yaitu :

1.      Kelompok 1: kelompok harta berwujud bukan bangunan yang mempunyai masa manfaat 4 tahun.

2.      Kelompok 2 : kelompok harta berwujud bukan bangunan yang mempunyai masa manfaat 8 tahun.

3.      Kelompok 3 : kelompok harta berwujud bukan bangunan yang mempunyai masa manfaat 16 tahun.

4.      Kelompok 4 : kelompok harta berwujud bukan bangunan yang mempunyai masa manfaat 20 tahun.

Aktiva berwujud yang berupa bangunan dibagi menjadi dua, yaitu :

1.      Permanen : masa manfaatnya 20 tahun

2.      Tidak permanen : bangunan yang sifatnya sementara, terbuat dari bahan yang tidak tahan lama, atau bangunan yang dapat dipindah-pindahkan. Masa manfaatnya tidak lebih dari 10 tahun.

Metode dan tarif penyusutan :

Metode penyusutan yang dipergunakan adalah metode garis lurus (straight line method) dan metode menurun (declining balance method). Wajib pajak diperkenankan untuk memilih salah satu metode untuk melakukan penyusutan. Metode garis lurus diperkenankan dipergunakan untuk semua kelompok aktiva tetap berwujud. Sedangkan metode menurun hanya diperkenankan digunakan  untuk kelompok aktiva berwujud bukan bangunan saja.

1.    Metode Garis Lurus (Straight Line) adalah metode yang menghasilkan jumlah beban penyusutan yang sama setiap tahun sepanjang umur manfaat aktiva tetap.

Contoh: Biaya gedung sebesar Rp 40 juta dan manfaatnya 20 tahun

. Penyusutan setiap tahun      adalah Rp 2 juta. (40 juta: 20 )

2.    Metode Saldo Menurun (Decresing Charge Method) adalah metode yang menghasilkan beban penyusutan yang terus – menerus sepanjang estimasi umur manfaat aktiva.

Contoh :

Sebuah mesin dan ditempatkan pada bulan Juni 2000 dengan harga perolehan Rp 150 Juta. Masa manfaat dari mesin tersebut adalah 4 tahun. Jika tarip penyusutan mesin ditetapkan 50% maka penghitungan penyusutan adalah sebagai berikut:

Saat dimulainya penyusutan :

Saat penyusutan dapat dimulai pada :

1.      Bulan dilakukannya pengeluaran

2.      Untuk harta yang masih dalam pengerjaan, penyusutannya dimulai pada bulan pengerjaan harta tersebut selesai.

3.      Dengan ijin dari Direktur Jenderal Pajak, penyusutan dapat dimulai pada bulan harta berwujud mulai digunakan untuk mendapatkan, menagih dan memlihara penghasilan atau pada bulan harta tersebut mulai menghasilkan.

Amortisasi

Harta tak berwujud digolongkan menjadi :

1.      Kelompok 1 : kelompok harta tak berwujud yang mempunyai masa manfat 4 tahun

2.      Kelompok 2 : kelompok harta tak berwujud yang mempunyai masa manfat 8 tahun

3.      Kelompok 3 : kelompok harta tak berwujud yang mempunyai masa manfat 16 tahun

4.      Kelompok 4 : kelompok harta tak berwujud yang mempunyai masa manfat 20 tahun

Metode dan tarif amortisasi

Metode amortisasi yang dipergunakan adalah metode garis lurus (straight line method) dan metode saldo menurun (declining balance method). Wajib pajak diperkenankan untuk memilih salah satu metode untuk melakukan amortisasi :

Tabel berikut menggambarkan pengelompokan harta tak berwujud, metode serta tarif amortisasinya :

Kelompok, metode, dan tarif amortisasi seperti disebutkan dalam tabel di atas berlaku juga untuk :

1.      Pengeluaran untuk biaya pendirian dan biaya perluasan modal suatu perusahaan pengeluaran ini dapat juga dibebankan pada tahun terjadinya pengeluaran.

2.      Pengeluaran yang dilakukan sebelum operasi komersial, misalnya biaya studi kelayakan dan biaya produksi percobaa, yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun. Pengeluaran ini dikapitalisasikan kemudian diamortisasi sesuai tabel di atas. Satu hal yang harus diperhatikan adalah bahwa biaya operasional yang bersifat rutin, seperti biaya rekening dan telepon, gaji pegawai dan biaya kantor lainnya, tidak boleh dikapitalisasi tetapi dibebankan sekaligus pada tahun pengeluaran

Amortisasi Berdasar Metode Satuan Produksi

I. Hak/pengeluaran di bidang penambangan minyak dan gas bumi

Amortisasi dengan metode satuan produksi diterapkan pada amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan pengeluaran lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun dibidang penambangan minyak dan gas bumi. Dalam hal ini, metode satuan produksi dilakukan dengan menerapkan persentase tarif amortisasi yang besarnya setiap tahun sama dengan persentase perbandingan antara realisasi penambangan minyak dan gas bumi pada tahun yang bersangkutan dengan taksiran jumlah seluruh kandungan minyak dan gas bumi di lokasi tersebut yang dapat diproduksi.

Seandainya jumlah produksi yang sebenarnya lebih kecil dari yang diperkirakan, sehingga masih terdapat sisa pengeluaran yang belum diamortisasi, maka atas sisa tersebut dibebankan sekaligus dalam tahun pajak yang bersangkutan.

II. Hak penambangan salain minyak dan gas bumi, hak pengusahaan hutan, hak pengusahaan sumber dan hasil lainnya.

Amortisasi dengan metode satuan produksi setinggi-tingginya 20% setahun, diterapkan pada amortisasi atas :

1.         Pengeluaran untuk memperoleh hak penambangan selain minyak dan gas bumi,

2.         Pengeluaran untuk memperoleh hak pengusahaan hutan,

3.         Pengeluaran untuk memperoleh hak pengusahaan sumber dan hasil alam lainnya, yang       mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.

Penarikan atau Pelepasan Aktiva
Salah satu contoh penarikan aktiva menurut UU No. 10 tahun 1994 pasal 4 ayat 1 adalah : penjualan. Aktiva tetap yang tidak digunakan lagi dapat dilepas dengan menghapus biaya serta akumulasi penyusutan aktiva yang bersangkutan.

Untuk tujuan akuntansi transaksi penghasilan dapat memberikan penghasilan. Demikian juga, untuk tujuan pengenaan pajak penghasilan, tidak semua tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak merupakan objek pajak. Bahkan tidak semua produk dari transaksi penghasilan itu merupakan objek pajak.

Pengertian penghasilan menganut konsep basis yang luas. Untuk memperjelas pengertian itu, undang-undang memberikan contoh-contoh kategori penghasilan sebagai berikut:

1.    Gaji, upah, tunjungan, honorarium,dll

2.    Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan dan penghargaan

3.    Laba usaha

4.    Keuntungan penjual atau pengalihan harta.

5.    Penerimaan kembali pembayaran pajak yang di bebankan sebagai biaya.

6.    Bunga, deviden, royalty, dan sewa dari harta.

7.    Penerimaan atau perolehan pembayaran harta

8.    Keuntungan karena pembebasan utang

9.    Selesih lebih karna penilaian kembali aktiva.

Keuntungan Pelepasan Aktiva Tetap

Dalam pasal 11UU no.7 tahun 1983 menyatakan hanya penarikan atau pelepasan aktiva tetap golongan bangunan dan penarikan luar biasa yang dapat menghasilkan keuntungan atau kerugian yang di perhitungkan pada tahun penarikan.

Namun menurut UU No.10 tahun1994 perlakuan berbeda demikian tidak ada lagi. Hampir sama dengan perlakuan akuntansi, semua penarikan atau pelepasan harta akan mendatangkan keutungan atau kerugian. Perhitungan keuntungan juga di terapkan pada trnsaksi tukar menukar harta walaupun tidak terjadi pembayaran. Begitu juga dengan pertukaran harta walaupun hartanya sama atau sejenis masih dalam satu kelompok.

Harta yang di hibahkan, diberikan atau di bantukan kepada badan keagamaan, pendidikan, social dan pengusaha kecil termasuk koperasi akan dihitung keuntungan bagi pelepas dan penghasilan bagi penerima.

Dalam keputusan menteri keuangan No.604/KMK.04/1994 tanggal 31 desember 1994 diatur tentang badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial, dan pengusaha kecil.

Devaluasi Aktiva

Dilakukan perusahaan jika nilai suatu aktiva terlalu tinggi (overstated) dari nilai manfaatnya. Devaluasi menurunkan nilai aktiva dengan membebankannya ke laporan laba/rugi atau saldo laba yang ditahan. Dalam ketentuan perpajakan devaluasi aktviva perusahaan tidak dikenal.

Reorganisasi Aktiva

Dilakukan perusahaan untuk mengurangi rugi operasi yang secara berkelanjutan. Akan menurunkan nilai aktiva tetap, laba yang ditahan, nominal, nilai modal saham, dengan selisih defisit dapat dibebankan ke pengurangan modal saham. Ketentuan perpajakan : dengan mengabaikan turunnya daya beli uang, jumlah WP diukur berdasarkan nilai historis barang atau jasa yang diserahkan.

Apresiasi Aktiva

Untuk tujuan perpajakan dan komersial, dasar penilaian aktiva merupakan harga perolehan (cost) yang diukur sebesar harga pasar wajar.

Ketentuan :

Tentang penilaian kembali bersifat repetitif dan otomatis setiap 5 tahun perusahaan dapat melakukan revaluasi terhadap aktiva yang belum dilakukan penilaian kembali pada saat revaluasi masa sebelumnya.

VN:D [1.9.22_1171]
Rating: 7.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
AKTIVA TETAP DAN AKTIVA TIDAK BERWUJUD, 7.0 out of 10 based on 3 ratings
Share

There Are 2 Responses So Far. »

  1. Bagaimana penilaian dan penyajian aktiva tetap tak berwujud dan berikan contohnya

    VA:D [1.9.22_1171]
    Rating: 4.0/5 (1 vote cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Salam Kenal,

    Mau tau, untuk kelompok harta tak berwujud yang mempunyai umur ekonomis 4,8,16,20 bisa dikasih contohnya apa2 saja & untuk aktiva seperti, komputer, printer, meja & ac itu mempunyai umur ekonomis berapa Ya..?? Saya kurnag tau untuk mengetahuinya.. Mohon bantuannya…thx

    VA:D [1.9.22_1171]
    Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image