TULISAN ETIKA BISNIS

analisis kasus
“ PELANGGARAN PENAYANGAN IKLAN ROKOK PT HM Sampoerna Tbk “

P E N D A H U L U A N
Iklan adalah “segala bentuk pesan tentang suatu produk barang / jasa yang disampaikan lewat suatu media, baik cetak maupun elektronik yang ditujukan kepada sebagian atau seluruh masyarakat”.

Menurut Etika Pariwara Indonesia, iklan ialah “pesan komunikasi pemasaran atau komunikasi publik tentang sesuatu produk yang disampaikan melalui suatu media, dibiayai oleh pemrakarsa yang dikenal, serta ditujukan kepada sebagian atau seluruh masyarakat.” Dengan demikian, iklan merupakan suatu alat komunikasi antara produsen/penjual dan para konsumen/pembeli.

Menurut Kotler, periklanan didefenisikan sebagai “bentuk penyajian dan promosi ide, barang atau jasa secara nonpersonal oleh suatu sponsor tertentu yang memerlukan pembayaran”.
Pada umumnya bentuk pelanggaran terhadap materi iklan yang paling sering dilakukan oleh pelaku usaha berupa “Penggunaan animasi atau kartun” untuk mempromosikan iklan rokok tersebut, tetapi tak jarang pula ada iklan rokok yang menunjukkan “Peragaan wujud rokok” yang secara nyata telah dilarang.

Pasal – Pasal terkait :
Pasal 9 ayat 1 (j): “Pelaku usaha dilarang menawarkan, mempromosikan, mengiklankan suatu barang dan atau jasa secara tidak benar, dan atau seolah-olah menggunakan kata-kata yang berlebihan seperti aman, tidak berbahaya, tidak mengandung risiko atau efek sampingan tanpa keterangan yang lengkap”.
Pasal 17 ayat 1 (d) : “Pelaku usaha periklanan memproduksi iklan yang tidak memuat informasi mengenai resiko pemakaian barang dan atau jasa”. Kedua pasal diatas mengatur mengenai isi iklan rokok yang ditayangkan di televisi.

Media iklan merupakan salah satu pihak yang terlibat dalam kegiatan usaha periklanan yang terdiri atas :
• Sponsor (Pemasang Iklan) Setiap badan usaha atau perseorangan yang memasang iklan dan bertanggungjawab atas pembayaran tempat (space), waktu dari media yang digunakan. Pemasangan iklan tersebut dapat secara langsung artinya dari sponsor langsung kepada media maupun secara tidak langsung, artinya sponsor menyerahkan pelaksanaannya kepada perusahaan periklanan dan perusahaan periklanan yang merencanakan pemasangan iklan ke media tertentu.
• Pihak Media Sarana komunikasi yang dipakai untuk menyampaikan dan menyebarluaskan pesan-pesan iklan, antara lain : radio, televisi, bioskop, surat kabar, majalah, papan iklan, pos langsung, petunjuk penjualan, selebaran, pengantar penawaran dan alat peraga.
• Pengusaha Periklanan Suatu perusahaan jasa yang kegiatannya meliputi perencanaan, pembuatan dan pengaturan serta pengawasan penyampaian iklan untuk kepentingan pengiklan dengan menerima imbalan untuk jasa yng diberikannya.
• Konsumen Individu yang pada akhirnya memakai barang, jasa dan atau menganut paham serta gagasan yang ditawarkan melalui iklan. Umumnya setiap iklan harus menurut prinsip-prinsip yang jujur, seperti yang dirumuskan secara umum dan dipakai dalam dunia periklanan.

C O N T O H K A S U S
Contoh mengenai pelanggaran terhadap isi iklan rokok adalah “Iklan Sampoerna Tarik Iklan Kartun”. Manajemen PT HM Sampoerna Tbk. Akhirnya menarik seluruh penanyangan dan penempatan iklan A-Mild yang menggunakan kartun binatang yang sedang berkumpul antara lain semut, keong, cumi-cumi serta ikan yang tengahnya muncul logo Sampoerna Mild. A- Mild memutuskan untuk menarik seluruh penayangan dan penempatan iklan versi animasi sebagai bagian dari tanggung-jawab perusahaan dengan adanya masukan dari berbagai pihak yaitu kalangan psikolog anak, YLKI dan DPR. Disamping itu pula, PT HSM Sampoerna merasa perlu segera merespon masukan yang diterima untuk menghindari misinterpretasi atas iklan yang menggunakan kartun ini.

Iklan rokok animasi ala A-Mild dianggap menyalahi kode etik periklanan karena pengunaan animasi seolah-olah ditujukan atau dimaksudkan bagi anak-anak. Berdasarkan UU Perlindungan Konsumen disebutkan iklan rokok tidak boleh menggunakan gambar yang dapat merangsang konsumen atau anak-anak untuk ikut merokok kearena membahayakan kesehatan. Disamping itu, di dalam Etika Pariwara Iklan terhadap iklan rokok dan Undang-undang No. 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran, salah satu ketentuan penayangan iklan rokok adalah tidak diperbolehkan ditujukan kepada khalayak khusus yakni anak-anak dibawah usia 18 tahun.

Oleh karena itu, baik secara langsung maupun tidak langsung, apapun bentuknya apalagi animasi tidak dibenarkan. Karena meskipun jam tayang iklan rokok mulai pukul 21.30 hingga 05.00 waktu setempat tidak menutup kemungkinan anak tetap melihat tayangan iklan di televisi pada jam itu, apalagi hari libur. Saat ini, hampir sebagian besar remaja Indonesia merokok dan hal ini cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan bidang kedokteran, rokok memiliki dampak yang tidak baik apalagi untuk anak-anak dan remaja. Oleh karena itu, segala bentuk iklan rokok yang memanfaatkan anak-anak sebagai obyek sasaran iklan, harus diberantas dan ditindak tegas.

P E N Y E L E S A I A N
Upaya ini dilakukan oleh KPI sebagai langkah hukum guna penegakan regulasi dan mendorong kepatuhan industri rokok maupun perusahaan atau lembaga penyiaran. Adanya pelanggaran tersebut membuktikan masih rendahnya penegakan hukum di negara ini dikarenakan patah oleh kepentingan bisnis rokok semata. Disamping masalah jam tayang iklan rokok, pelanggaran tayangan iklan rokok dapat berupa promosi dalam acara hiburan atau event-event tertentu.

Penyiaran iklan rokok dan produk tembakau wajib memenuhi ketentuan berikut yaitu
• Tidak mempengaruhi atau merangsang khalayak untuk mulai merokok
• Tidak menyarankan bahwa tidak merokok adalah hal yang tidak wajar
• Tidak menampilkan produk rokok atribut rokok maupun perlengkapan rokok, atau memperagakan dalam bentuk gambar, tulisan atau gabungan keduanya, rokok atau orang sedang merokok, atau mengarah pada orang yang sedang merokok.
• Tidak menampilkan ataupun ditujukan terhadap khalayak di bawah usia 17 tahun.
• Tidak mempengaruhi atau merangsang khalayak untuk mulai merokok berarti sebaiknya suatu iklan rokok yang ditayangkan di media elektronik tidak menggunakan permainan kata-kata, gambar atau cara apapun yang diperkirakan dapat mempengaruhi orang-orang yang melihatnya menjadi terangsang atau tertarik untuk merokok. Etika yang berkenaan dengan tayangan iklan rokok dalam Etika Pariwara Indonesia menyebutkan bahwa :
• Iklan-iklan rokok dan produk khusus dewasa (intimate nature) hanya boleh disiarkan mulai pukul 21.30 hingga pukul 05.00 waktu setempat.
• Materi Iklan yang tepat sama tidak boleh ditampilkan secara sambung-ulang (back to back) lebih dari dua kali.

K E S I M P U L A N
Menurut Etika Pariwara Indonesia (EPI), Media Periklanan harus memenuhi hal-hal sebagai berikut :
• Data Perusahaan, Profil dan jumlah khalayak media wajib dinyatakan secara benar, lengkap, dan jelas, berdasarkan sumber data terbaik yang dimiliki media yang bersangkutan.
• Cakupan Khalayak, Pernyataan tentang cakupan distribusi atau siaran media haruslah yang sesuai dengan data pada jangkauan efektif dan stabil.
• Pemesan, Pembelian ruang dan waktu iklan di media hanya dapat dilakukan oleh perusahaan yang beroperasi secara sah di Indonesia.
• Pesanan, Program, jadwal atau frekuensi penempatan iklan harus dipegang teguh. Dalam hal terjadi force mayeur, media yang bersangkutan harus memberitahukan kepada pemesan pada kesempatan pertama.
• Iklan Nirpesanan, Penyiaran iklan di luar pesanan resmi, harus mendapat persetujuan dari pengiklan atau perusahaan periklanan yang terkait.
• Penempatan Iklan, Media wajib memisahkan sejauh mungkin penempatan iklan-iklan dari produk yang sejenis atau bersaing. Kecuali pada program, ruang, atau rubrik khusus yang memang dibuat untuk itu.
• Monopoli, Monopoli waktu/ruang/lokasi iklan untuk tujuan apa pun yang merugikan pihak lain tidak dibenarkan.
• Tarif, Tarif iklan yang berlaku harus ditaati oleh pemesan.
• Informasi Dasar, Segala informasi dasar yang menyangkut tarif iklan, program, ruang, waktu atau lokasi iklan, dan segala bentuk rabat harus diumumkan secara terbuka, jujur dan benar, dan diberlakukan seragam kepada semua pemesan.
• Perubahan Tarif Iklan, Perubahan tarif iklan dan segala ketentuan penyiaran wajib diberitahukan secara tertulis dan dalam tenggang waktu yang layak.
• Komisi dan Rabat, Komisi dan rabat optimal hanya diberikan kepada perusahaan periklanan yang menjadi anggota asosiasi penandatangan EPI.
• Komisi dan rabat harus diperuntukkan hanya kepada pemesan sebagai suatu badan usaha, bukan sebagai pribadi.
• Bukti Siar, Dokumen bukti penyiaran iklan wajib diserahkan media kepada pemesan sesuai jadwal yang telah disepakati.
• Pemantauan, Pemantauan atas penyiaran iklan wajib dilakukan perusahaan periklanan sebagai bagian dari layanan usahanya.
• Penggantian, Penggantian iklan yang tidak memenuhi mutu reproduksi atau siaran, ataupun tidak sesuai dengan jadwal akibat kelalaian media, wajib diulang siar tanpa biaya, atau diselesaikan menurut kesepakatan sebelumnya antara para pihak.
• Pembayaran, Pembayaran iklan wajib dilakukan pemesan sesuai dengan jumlah, syarat-syarat, dan jadwal yang sudah disepakati.
• Ancaman, Media tidak boleh memaksakan sesuatu pemesanan iklan dari pengiklan atau perusahaan periklanan dengan ancaman apa pun.
• Ketentuan Lain, Pelaku periklanan wajib menghormati dan mematuhi segala ketentuan lain yang berlaku bagi media periklanan yang tercantum sebagai kode etik profesi atau usaha media, dari asosiasi pengemban EPI.

Etika Pariwara Indonesia yang sejalan dengan Peraturan Perundang- undangan lainnya memiliki pengaturan yang sama mengenai jam tayang iklan rokok. Harapan dalam hal ini adalah penerapan jam tayang ini sudah sesuai karena tidak bersamaan dengan jam menonton anak-anak dan remaja yang berada dibawah umur.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
Share

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image