Beberapa Pelanggaran Etika di Dunia Kesehatan

Menurut Nazif(2003) etika adalah panduan berbuat bagi orang lain di lingkungan organisasi, profesi atau cabang pengetahuan tertentu. Menurut Bertens(1994:27) etika disebut juga ‘filsafat praktis’. Praktis karena cabang ini langsung berhubungan dengan perilaku manusia dengan harus atau tidak harus dilakukan manusia.

Ada 2 kelompok pelanggaran etika :

Pertama, disengaja berarti si pelaku tahu apa yang dilakukan merupakan pelanggaran dan sepantasnya mendapat sanksi. Kedua, tidak disengaja atau pelanggaran bawah sadar terutama untuk materi yang pernah dibaca namun tidak sadar atau memang tidak mengetahui batasan etika.

Kebanyakan pelanggaran etika yang terjadi di Indonesia dilakukan dengan sengaja. Para pelaku pelanggaran etika tahu benar apa dampak dan hukuman yang akan mereka terima. Sayangnya, hukuman yang ada tidak juga menyadarkan tindakan salah para pelaku pelanggar etika tersebut. Beberapa contoh pelanggaran etika di Indonesia di dunia kesehatan masyarakat seringkali terjadi, bahkan bukan sering tetapi setiap hari.

  • Limbah medis rumah sakit yang dibuang semabrangan oleh pihak rumah sakit, bahkan limbah medis tersebut terkadang sengaja dipasok untuk pembuat mainan anak-anak. Limbah medis seperti suntikan, tempat obat bius, dan tempat infus misalnya. Bisa dibayangkan bahaya yang mengancam anak-anak dan berasal dari mainan mereka sendiri. Walaupun sudah dicuci bersih tetapi virus-virus yang yang sudah menempel pada limbah medis tersebut tidak begitu saja hilang. Penanganan limbah medis memang tidak mudah dan murah, bahkan terbilang sangat mahal. Alasan itu membuat pihak rumah sakit yang tidak bertanggung jawab melakukan tindakan yang menyimpang, tidak melakukan penanganan dengan cara yang benar untuk mengurangi pengeluaran rumah sakit misalnya. Solusi pasti yang harus dilakukan rumah sakit adalah dengan melakukan penanganan yang benar, biasanya dengan cara pembakaran khusus. Selain itu, pemerintah yang bekerja dalam bidang kesehatan masyarakat harus lebih sering menginspeksi rumah sakit untuk menghindari pihak rumah sakit yang bertindak nakal.
  • Kasus kedua adalah bahan pengawet makanan. Maksud dan tujuan dari pada penggunaan bahan pengawet makanan adalah untuk memelihara kesegaran dan mencegah kerusakan makanan atau bahan makanan. Beberapa pengawet yang termasuk antioksidan berfungsi mencegah makanan menjadi tengik yang disebabkan oleh perubahan kimiawi dalam makanan tersebut. Tetapi sekarang ini banyak produsen yang menggunakan bahan pengawet makanan yang tidak seharusnya atau menggukannya secara berlebihan. Pengawet yang diizinkan (Permenkes No.722/1988) adalah : Asam Benzoat, Asam Propionat. Asam Sorbat, Belerang Dioksida, Etil p-Hidroksi Benzoat, Kalium Benzoat, Kalium Bisulfit, Kalium Meta Bisulfit, Kalkum Nitrat, Kalium Nitril, Kalium Propionat, Kalium Sorbat, Kalium Sulfit, Kalsium Benzoit, Kalsium Propionat, Kalsium Sorbat, Natrium Benzoat, Metil-p-hidroksi Benzoit, Natrium Bisulfit, Natrium Metabisulfit, Natrium Nitrat, Natrium Nitrit, Natrium PPropionat, Natrium Sulfit, Nisin dan Propil-p-hidroksi-benzoit. Produsen menggunakan alasan standar bila ditanya mengapa memilih menggunakan bahan pengawet berbahaya; “Untung yang didapat sedikit bila menggunakan bahan pengawet yang diizinkan permenkes”. Mereka tidak peduli efek buruk yang akan terjadi pada konsumen, yang penting mereka tidak merugi. Bahan pengawet berbahaya yang sering digunakan adalah formalin dan boraks. Padahal hal tersebut mengganggu kesehatan konsumen, dalam jangka pendek konsumen hanya akan mengalami sakit perut, sakit kepala ringan, gatal-gatal pada kulit, tetapi dalam jangka panjang akan ada gelaja serius seperti gagal ginjal, sakit jantung, keram otak, koma sampai pada kematian. Solusi menghindari hal ini adalah pembelian zat kimia harus disertai keterangan resmi dari permenkes misalnya, sedangkan untuk konsumen cara menghindarinya adalah lebih banyak makan makanan rumahan dan hati-hati memilih bahan makanan.
  • Drug abuse atau penyalahgunaan obat adalah cara menggunakan obat hanya untuk kesenangan pribadi atau golongan saja misalnya, ketergantungan menggunakan obat tidur dan yang paling banyak adalah penggunaan narkoba (obat jenis ini adalah obat yang dapat menimbulkan perasaan senang (euphoria) yang biasanya membuat candu). Obat tidur, walaupun untuk membelinya menggunakan resep dokter, penggunaan secara berlebihan membuat kecanduan pemakainya juga. Penjual narkoba sekarang ini semakin nekat, bahkan sudah memasuki lingkungan anak tingkat SD. Alasan penggunaan obat tidur awalnya hanya untuk membantu pasien insomnia tetapi pasien merasa lebih baik dan akhir terbiasa minum obat ini jika tidak bisa tidur. Solusinya sebernanya mudah, si pasien hanya perlu lebih sering olahraga. Sedangkan penjual narkoba alasannya adalah uang, mereka ingin mencari uang banyak tetapi dengan cara yang mudah. Solusinya, orang tua harus bisa memahami dan mengawasi anak-anaknya di rumah, peran guru di sekolah dijalankan, pemerintah harus lebih gencar memusnahkan penjual dan merehabilitasi penggunanya.
sumber :
terkait

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image