Corat coret baju seragam selesai UN? Biasa.

Kamis 19 April kemarin adalah hari terakhir Ujian Nasional (UN) bagi siswa siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) atau sederajatnya. Sebagian besar siswa banyak yang melakukan tradisi Corat coret baju seragam sekolah sebagai luapan kegembiraanya melewati UN yang berarti akhir dari masa  sekolahnya. Namun ada juga bagi siswa yang kreatif, momen seperti ini digunakan untuk menyumbangkan baju seragam sekolahnya kepada orang-orang yang lebih membutuhkan atau kepada adik-adik kelasnya.

Memang sudah sifat manusia untuk meluapkan kegembiraan selepas melewati suatu hal tertentu yang selama ini membutuhkan banyak pengorbanan baik waktu maupun biaya. Namun bukan berarti dengan melakukan hal-hal yang negatif.

Corat coret baju seragam yang dilakukan oleh siswa selepas UN bukanlah hal yang patut dikuti bagi adik-adik kelasnya nanti. Karena itu bukanlah hal yang bermanfaat melainkan hanya merugikan orang lain. Tradisi corat coret diikuti dengan konvoi sepeda motor hanya akan membuat masyarakat sekitar berpandangan negatif kepada anak sekolah jaman sekarang. Hanya akan semakin menambah buruk citra sebagai seorang pelajar. Yang seharusnya menjadi tombak pembangunan bagi bangsa malahan menjadi profil buruk sebagai seorang pemuda.

Bukankah lebih bijaksana jika momen akhir sekolah dimanfaatkan untuk silaturahmi kerumah-rumah Bapak Ibu guru. Setidaknya Sebagai rasa terimakasih atas jasa-jasa mereka yang telah susah payah mendidik kita hingga kita menjadi sekarang ini, atau kita bisa meminta restu mereka agar untuk kedepanya nanti kita diberi kemudahan dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal yang demikian itu pasti akan membuat bangga bagi guru-guru kita. Saya sebagai penulis sudah merasakannya sendiri.

Jadi pada hakikatnya perbuatan corat coret itu adalah penyimpangan tanggung jawab yang telah dilakukan oleh siswa-siswa yang terlibat dalam aksi tersebut. Mereka lupa dengan tanggungjawab mereka sebagai seorang pelajar yang harus menjadi pemuda yang bisa banggakan negara atau setidaknya membanggakan sekolahnya sendiri. Bukankah dengan aksi corat coret tadi akan memperburuk citra sekolahnya sendiri?

Namun yang namanya tradisi adalah tradisi, tradisi tidak mudah untuk dihilangkan karena sudah menetap pada fikiran seseorang. Begitu pula dengan aksi corat coret siswa sekolah, sangat sulit untuk untuk mencegah mereka melakukan hal seperti itu karena aksi yang mereka lakukan sudah menjadi tradisi dari kakak-kakak kelasnya sebelumnya.

Bagaimanapun juga meski hal itu masih terjadi saya sebagai mahasiswa masih berharap semoga siswa-siswa lainya tidak akan mengikuti tradisi yang tidak bermanfaat itu. Masih banyak hal yang bisa digunakan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat. Bukan dengan merugikan orang lain.

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image