Pelanggaran Kode Etik Terkait Penggunaan Hi-Tech

Seperti yang telah diterangkan sebelumnya mengenai beberapa kode etik yang diharapkan pada penggunaan media sosial, maka untuk artikel ini saya akan membahas tentang kemungkinan pelanggaran yang terjadi.

  1. Mengupdate atau memposting info yang secara langsung maupun tidak langsung menyinggung SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar golongan), pornografi atau unsur lainnya. Kemungkinan pelanggaran yang terjadi misalnya, seseorang sedang asyik bermain facebook atau twitter, kemudian mengupdate status yang menyinggung SARA, hal ini akan menimbulkan kontra tentunya. Kemudahan dalam penggunaan media sosial sering disalah artikan atau bahkan sengaja dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu dalam ‘mengambil keuntungan’. Sudah banyak ditemui artikel dalam blog, facebook dan lain-lain yang berisi tentang pelecehan agama. Solusinya, kita sebagai pengguna harus bijak dalam menyikapi masalah tersebut dengan tidak langsung terbakar emosi dan begitu saja percaya kepada berita-berita yang belum tentu benar.
  2.  Meskipun media sosial adalah tempat kita bisa ‘curhat’ atau tempat untuk ‘melampiaskan emosi’ kita, perhatikanlah ada pengguna lain yang mungkin akan mengganggap anda spammer apabila terus mengupdate hal yang tidak terlalu penting. Well, kita pasti pernah merasakan ada beberapa pengguna lain yang dianggap ‘mengganggu’ atau hanya sekedar mencari sensasi. Jangan berlebihan seolah dunia sosial itu hanya milik sendiri dan tidak ada batasannya. Cukup jadikan media sosial sebagai hiburan dalam kesehariannya, solusi tersebut mungkin akan lebih mudah untuk diterima oleh si spammer ketimbang ia harus ‘disindir’ oleh user lain.
  3.  Khusus untuk postingan blog, apabila kita mengambil script, program, tulisan, foto, animasi dan lainnya yang bukan merupakan hasil karya sendiri dan kita bermaksud ‘meng-copy-nya’ pada postingan pribadi kita, jangan lupa menyertakan sumber dan pemilik hak cipta. Untuk point ini banyak yang perlu diperhatikan, misalnya saja untuk satu kasus ada seorang mahasiswa yang hendak membuat tugas paper, ia mencari banyak sumber dari melalui internet kemudian ia susun rapi menjadi papernya sendiri. Baiknya, ia mencantumkan referensi URL dari sumber yang ia dapatkan. Karena jika tidak, akan ada kemungkinan si pemilik hak cipta merasa keberatan akan hal tersebut dia akan meminta pertanggung jawaban dan konsekuensi lainnya harus diterima oleh si pelaku.

 

 

 

Artikel ini juga dipublikasikan pada personal web saya di http://siwiramadhani.info/2012/05/pelanggaran-kode-etik-terkait-penggunaan-hi-tech/

Siwi Iswanti Ramadhani (12108283) – 4KA15

Etika & Professionalisme TSI (Prof. Dr. I Wayan Simri Wicaksana, S.Si, M.En

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image