About the Author

author photo

Hanya seorang yang biasa .. :)

See All Posts by This Author

GRADASI HINGGA SENJA

Dalam senja ini begitu indah bersama gradasi langit-Nya yang merona jingga. Begitu indah setiap langkah meski lelah sempat singgah. Jengkal demi jengkal pelataran sekolah ini kutelusuri bersama sisa senyumannya, yang terbingkai dengan dimensiku. Semakin kucoba menepisnya jauh-jauh, semakin dekat bayangannya padaku. Ah, serba salah rasanya. Akhirnya, meski aku tahu akan perasaan ini, aku bersikap seakan tak pernah mengetahuinya. Aku tak menghiraukan rasa itu. Rasa yang sulit untuk aku  ingat sendiri. Dentingan jam sekolah menyadarkanku dari lamunan tak bertepi, suaranya yang begitu keras menarikku kembali ke dalam kenyataan. Bahwa dia hanyalah sebatas mimpi di dalam ceritaku. Aku terus berjalan melalui koridor kelas dan di belokan terakhir, aku terhenti. Terdengar suara yang sepertinya ku kenal. Mereka terdengar sedang berbicara serius, atau lebih tepatnya sedang bertengkar.
            “Untuk apa kamu menyamar jadi Fisha dan mengajakku bertemu di sini? Kamu bohong sama aku, Rain!”
            “Untuk bisa bertemu dan bicara sama kamu,Has!”
            “Dengan cara menipu seperti ini?! Kamu merasa benar?” Suara Irhas meninggi.
            “Iya! Maaf…Maaf!?” Rainy menunduk.
            “Tapi kalau tak seperti ini, kapan kamu memperdulikan aku? Kamu selalu saja dekat dengan gadis yang memakai kain kebesaran di kepalanya itu!” Sungut Rainy.
            “Jaga ucapanmu Rain! Namanya Fisha, dan yang dipakainya itu disebut jilbab. Kain hijab yang bisa melindunginya dari teriknya matahari dan dari panasnya api neraka!”
            “Aakh! Apalah itu namanya, yang penting kamu jawab pertanyaanku, Has!”
Aku mencoba meyakinkan bahwa yang bertengkar itu adalah Irhas dan Rainy. Aku mengintip mereka dari samping dinding.
            “Apakah harus setiap orang itu menunjukkan kepeduliannya secara langsung?! Aku kira tidak, Rain.”
            “Tapi, kenapa kamu tak pernah membalas perasaanku?” Tanya Rain kesal.
            “Kamu adalah sahabatku, Rain. Tidak lebih.”
            “Tapi Has….”
            “Tidak Rain, tidak lebih dari itu. Mungkin jika bisa lebih dari itu, saat itu semoga kita sudah memperbaiki kesalahan kita hari ini. Maaf Rain, aku harus pulang.”
            Irhas hampir berlalu sebelum akhirnya Rainy menyentuh kedua tangan Irhas. Dia mencoba mencegah Irhas meninggalkan hatinya terlalu jauh.
            “Jangan pergi, Has….”
            “Lepaskan tanganmu Rain, sungguh Allah melihat kita! Istigfarlah!”
            “Tidak!”
            Aku ingin berlari dari drama yang begitu membuat perasaanku terasa semakin aneh ini. Rasaku begitu perih dan aku ingin pergi secepat mungkin. Hatiku sendiri ingin menarikku jauh dari sana.
            “Dan kenapa lagi aku? “ Bisikku dalam hati. Aku menarik nafas panjang dan mencoba melalui mereka, tetapi entah kenapa kaki ini terhenti tepat di depan pandangan mereka. Aku tak pernah tahu tentang perasaan Irhas yang sebenarnya, dan rasanya aku tak ingin mengetahuinya. Tetapi Irhas merasa bersalah dengan tatapanku yang begitu aneh baginya.
            Setelah itu, aku baru sadar, dia telah melihat kehadiranku. Irhas mengibaskan kedua tangan Rainy dan entah kenapa dia mengejarku. Aku terus menyeret langkahku yang sangat berat. Dan aku tak percaya, diri yang begitu kuat ini meneteskan air mata.
            “Apa yang terjadi padaku?” Tanyaku dalam hati.
            Angin berhembus kencang mengibas sedikit ujung jilbabku, lalu gerimis tipis membasahi hati yang begitu kacau. Semakin kencang angin sampai menghempaskan semua kertas yang kubawa. Semua berserakan. Irhas berlari membantuku memunguti kertas-kertas itu. Dalam jarak ini, aku masih mendengar suara Rainy yang meneriakkan nama Irhas.
            “Irhaaaas!! Aku sayang sama kamu!! Has…jangan pergi!!” Rainy kesal dan berlari pergi melalui pintu samping sekolah. Irhas seakan tidak mendengar teriakan Rain, dia terus saja mengambil kertas-kertasku yang bertebaran. Aku mencoba meninggalkannya, dan suaranya menghentikanku.
            “Na! Ini kertasnya…,” Irhas memberikannya padaku.
            “Makasih.” Aku melanjutkan langkah ini. Irhas hanya diam, dia tetap di tempatnya berdiri.
            Aku sudah mengusap air-air yang menetes dari dua sudut mataku ini, sampai aku kesal! Kenapa mereka tidak mau berhenti!? Aku kesal!
            Irhas mencoba meraih bayanganku. Dia memanggil, namun aku tetap diam.
            “Na! Nadzha!! Tunggu!” Kaki Irhas bergerak satu langkah. “Na, apa yang kamu lihat tidak seperti yang kamu fikirkan!” Langkah Irhas terhenti dan langkahku pun terhenti.
            “Aku…tidak…,” suara Irhas menggantung.
            “Sudahlah, tidak usah dijelaskan . Aku sudah mendengarkan semuanya. Maaf, aku tidak bermaksud menguping. Lagipula, untuk apa kamu menjelaskannya padaku?” Ucapku tanpa menoleh. Aku mencoba melangkah lagi, langkah yang semakin berat.
            “Percuma kamu terus menerus mencoba mengusapnya, Na! Karena tetesan air mata itu hanya bisa diseka, bukan diusap.” Ucap Irhas yang berhasil menahan langkahku. “Tapi Maafkan aku, untuk saat ini…aku belum bisa menyekanya untukmu. Seandainya kau halal bagiku. Tapi, suatu saat nanti pasti aku akan menyekanya,” sambung Irhas lagi.
            “Di antara kita bukankah tidak ada apa-apa?! Jadi, tidak usah kamu berkata seperti itu.” Aku membalikkan badan, tentunya dengan air mata yang sebenarnya masih tertahan dalam.
            “Benarkan apa yang kuucapkan? Jadi maaf Has, jika aku lancang mendengarkan pembicaraan kalian tadi. Sekarang sudah terlalu sore, aku harus pulang. Assalamu’alaikum.” Aku pun berlalu, pergi secepat mungkin dari bayangan Irhas.
            “Wa’alaikumsalam warahmatullah…Na…,” ucap Irhas lirih, setelah aku telah jauh meninggalkan ribuan tanya dalam perasaannya. Irhas terduduk bersama hati yang mendung. Saat menoleh ke tanah, tangannya meraih selembar kertas yang bermotif sama dengan kertas yang dibawa olehku.
            “Ini pasti milik Nadzha,” ucap Irhas. Dia melipat dan memasukkanya ke dalam tas. Dia pun beranjak pergi dari senja hari ini. Senja yang membuat instrumen-instrumen nada di hatinya mengalun lirih.
            Waktu sekolah telah usai. Irhas beranjak pergi dari kelasnya bersama Fathan. Mereka sudah lama bersahabat. Aku pun memilih jalan lain agar tidak berpapasan dengan mereka. Sepertinya untuk saat ini, aku ingin jauh dari Irhas.
            “Na!! Ayo cepat!” Suara Fisha mengagetkanku.
            “Oh, iya Sha. Ayo!” Sahutku padanya.
            Kami pun mengayuh sepeda dengan bersemangat, canda tawa tak terbendung lagi ketika kami telah larut dalam kebersamaan. Sayangnya, Fia tidak bisa ikut dalam kebersamaan kali ini. Fia itu salah satu sahabat kami, yang sangat kami sayangi. Hari ini dia tidak bisa pulang bersama karena harus membantu acara keluarganya di rumah.
            Di perjalanan, Fathan menghentikan kami. Kali ini dia sendirian.
            “Hai, Na! Hai, Sha!” Sapa Fathan dengan ramah.
            “Hai Than, ada apa?” Tanyaku padanya.
            “Aku hanya ingin menyampaikan pesan dari Irhas untuk Fisha,Na.” Jawab Fathan tanpa panjang lebar.
            “Oh.” Sahutku singkat.
            “Begini Sha, Irhas meminta untuk dipinjamkan buku yang kemarin kamu baca itu,” ucap Fathan.
            “Oh,aduh…buku itu bukan punyaku,Than. Buku itu punya Nadzha.” Jelas Fisha dengan wajah kebingungan.
            “Yah, bagaimana ya, Sha?!” Sahut Fathan yang juga bingung.
            “Kenapa wajah kalian bingung? Ya sudah, besok buku itu kuberikan padanya. Beres kan ?” Ucapku meyakinkan mereka. Aku tidak ingin memperlihatkan keadaan hatiku pada Irhas yang masih dingin. Sampai sekarang pun, aku tidak pernah tahu apa alasan kedekatan Irhas dengan Fisha. Berulang kali kutanyakan pada hati mereka. Tetapi hati mereka mungkin terlalu sulit mendengarkan perasaanku.
            “Baiklah, kalau begitu. Setelah ini kalian pulang kan?” Tanya Fathan menyelidik. Aku dan Fisha saling melirik.
            “Mau tahuu aja!!” Jawab kami bersamaan. Canda tawa kami membahana lagi ketika pergi meninggalkan Fathan yang semakin bingung. Rupanya di kejauhan Irhas memperhatikan kami. Kemudian dia mengayuh sepedanya dan menghampiri Fathan.
            “Hey, Than. Gimana reaksinya Nadzha?” Tanya Irhas penasaran.
            “Reaksinya asam basa pH netral, Has.” Jawab Fathan tak jelas.
            “Maksudnya?” Irhas menaikkan satu alisnya. “Kenapa malah ngobrolin Kimia sih! Aku Tanya apa, kamu jawabnya apa.” Lanjut Irhas.
            “Dia biasa saja sih, tapi kurasa memang sepertinya menyembunyikan sesuatu di dalam hatinya.” Jawab Fathan dengan ekspresi wajahnya yang rumit. “Dan siap-siap saja, mungkin besok Nadzha mencarimu,” lanjut Fathan.
            “Ya, baiklah. Aku mengikuti mereka dulu ya, Than.”
            “Ya sudah, cepat sana Has!” Ucap Fathan menyemangati.
            Rak buku berjajar rapi membentuk labirin yang berujung pada sebuah taman cantik di samping perpustakaan ini. Meski tersedia tempat membaca yang nyaman di dalam ruang perpustakaan, tetapi bagi pengunjung yang ingin membaca bersama udara bebas pun, disediakan bangku-bangku taman di sana. Dan inilah yang membuatku suka berlama-lama membaca di sini. Tetapi jika hujan datang, aku tidak bisa membaca di taman itu. Karena taman itu hanya beratapkan langit.
            Sementara Fisha mencari buku yang disukainya, aku duduk di sebuah kursi panjang. Menulis apapun yang ingin aku tulis.
            Desember 2011
Tahukah…
Instrumen-instrumen senja kemarin begitu kelu
Kala temara hatiku jadi sebuah noktah
Mengejar sekelumit kira yang kaku
Kias, sekalipun bisa kutempuh
Kau telah menaruh hati dalam kebekuan
Tanpa sadar kepingan air mata meribas
Meraih ilusimu yang parau
Aku tergamang sangat pelik
Biarpun pena berkata datar
Tak ada peduli…
Telah patah perih jadi pengerih
Sampai retak meredam euphoria akan pesonamu
Maaf…
Jika terlalu tinggi diksi yang kupilih
Tak ada maksud menelaah hatimu
Bukan maksud menulis elegiku
Ataupun merangkai prolog sampai epilog
Aku hanya ingin menghapus penuh rasaku
Menepis rasa panarmu dalam keruh
Menepis pekatmu dalam jemu
            Entah bagaimana caranya, pena selalu bisa merangkaikan kata-kata untuk kutulis. Mereka menari-nari di atas kertas ini mengikuti perasaanku saja. Dan sejak tadi perasaanku mengatakan, ada yang memperhatikanku. Aku tengok ke kanan, tengok ke kiri. Dan yang kulihat hanya sepi, tidak ada siapa-siapa.
            Sesaat kemudian, kupikir itu hanya perasaanku saja. Yah, kemudian aku berdiri dan hampir beranjak dari kursi itu sebelum Fisha tiba-tiba berlari tak jelas ke arahku. Membuatku terduduk lagi. Aneh sekali tingkahnya itu.
            “Huff, hampir saja,” ucap Irhas lirih sambil mengelus dada. Dia memberikan isyarat terima kasih pada Fisha karena mengalihkan perhatianku. Lalu dia pun pergi mengendap-endap.
            “Kamu kenapa sih, Sha? Lari-lari tak jelas seperti itu. Bikin kaget saja.” Protesku padanya.
            “I-i-itu a-aku, senang Na! Ya, aku senang. Ini lho ada buku yang bagus!?” Fisha mencoba meyakinkanku dengan menunjukkan buku yang dibawanya.
            “Oh, aku kira ada apa. Kamu ini suka over acting, Sha.” Ucapku heran.
            “Ya, maklumlah. Tahap menuju kedewasaan.” Sahut Fisha sambil mengedipkan satu matanya.
            “Huu…cacingan ya matamu?!” Aku tertawa.
            “Eh, memangnya kenapa? Bukannya benar?” Fisha menaik-naikkan kedua alisnya. Membuat wajahnya semakin aneh.
            “Dewasa yang dimaksud itu bukan hanya dalam artian usia tahu!?” Ucapku sambil mencubit pipinya. Fisha mencoba menangkis-nangkis tanganku lalu dia segera berpindah ke kursi lain, di seberang mejaku. Rupanya, dia ingin menyelamatkan wajahnya dari serangan susulan dariku. Dia tak rela jika pipinya harus menjadi bengkak seperti bakpao karena keusilanku.
            “Jadi, orang yang umurnya mungkin lebih tua dari kita…”
            “Belum tentu sikap dan kepribadian atau karakter mereka itu sudah dewasa, Nona.” Sebuah suara melanjutkan kalimat Fisha. Pemilik suara itu, aku mengenalnya. Dia berjalan menghampiri kami, lalu aku tersenyum kepadanya.
            “Kak Faris!!” Fisha menghambur ke arah Faris. Dia memeluk kakaknya dengan erat. Mungkin karena rasa rindunya yang telah jatuh sampai ke dasar hati. Dalam.
            “Maafkan aku ya Fish, kedatanganku membawa bencana alam untuk matamu ya?!” Ucap Faris yang membuat Fisha dan aku bingung.
            “Lho kok?!” Fisha melepaskan pelukannya.
            “Itu, matamu jadi kebanjiran karena kamu melihatku.” Faris menunjuk mata adiknya sambil tertawa kecil.
            “Iiih.” Fisha menampik tangan kakaknya sambil tersenyum, lalu memukul bahunya pelan.
“Dua tahun, Kak! Kakak hanya mengabari ayah dan ibu saja, padaku tidak! Sms tidak, telepon pun tidak, e-mailku tidak dibalas! Huh, kakak ini mahasiswa komunikasi kok tidak bisa berkomunikasi.” Protes Fisha panjang lebar.
“Kakak nggak punya pulsaa!?” Faris tertawa. Dia pun berhasil membuatku tertawa juga.
“Iklan.” Sahutku pada mereka. Aku pun heran melihat tingkah kakak beradik itu. Meskipun aku tidak terlalu mengenal bagaimana kakak dari sahabatku itu. Tetapi dengan melihat besarnya rasa sayang Fisha terhadap Faris, sudah cukup meyakinkanku bahwa sahabatku memiliki kakak yang baik. Kakak yang juga sangat menyayanginya.
Fisha mengajak kakaknya untuk duduk bersama. Kami bertiga sangat larut dalam pembicaraan. Membicarakan ini, mendiskusikan itu, meredam tentang hal yang fiksi terkadang jadi realita ataupun sebaliknya. Sekedar berbagi pengalaman dan merangkum sesuatu yang rumit menjadi fleksible.
     “Kak, mengenai kedewasaan tadi, berarti maksud kakak bahwa kedewasaan seseorang itu sebenarnya tergantung pada sikap dan kepribadian atau karakter mereka ya?” Tanya Fisha dengan wajah penuh keseriusan. Sebaliknya, dengan wajah santai Faris menjawab,”That’s Right!.”
       “Dan agar semua point itu tercapai, butuh proses dan waktu yang berbeda pada setiap pribadi. Untuk bisa menuju kedewasaan itu sendiri. Betul tidak?” Aku mencoba menimpali.
       “Hm…” Fisha mengangguk-angguk.
        “Betul sekali, Nona.” Sahut Faris dengan tersenyum manis. Tiba-tiba dia membisikkan sesuatu pada Fisha. Aku memandang mereka dengan heran. Fisha tertawa kecil sambil memandangku. Faris beranjak dari kursi dan meraih bukuku yang ada di atas meja panjang itu.
         “Kak, itu buku…”
         “Ku pinjam sebentar ya!” Faris terus berjalan menuju taman. Dia membuatku semakin heran.
          “Tapi, Sha…”
         “Sudah Na, Kak Faris cuma pinjam sebentar.” Fisha mencoba meyakinkanku.
Ponselku bergetar, kujawab nomor yang memanggil itu.
           “Halo, assalamu’alaikum?” ucapku pelan. Karena sebenarnya, ada larangan menyalakan ponsel di area perpustakaan.
            “Wa’alaikumsalam. Na, pulangnya jam berapa? Katanya mau menemani Ibu.”
             “Astagfirullah! Nadzha lupa, Bu. Ya, Nadzha pulang sekarang, Bu.” Aku panik. Kusampaikan kata maaf saja pada Fisha, karena tidak bisa menemaninya lebih lama.
Segera kuputar secepat mungkin roda-roda sepeda yang saling mengejar waktu ini. Berpacu dengan waktu.
Dari balkon atas perpustakaan, Irhas menabrak Faris yang baru beranjak dari taman.
“Maaf, Kak.” Ucap Irhas dengan hati yang redup.
Faris memperhatikan wajah Irhas kemudian tersenyum manis. “Debar itu rentan oleh waktu. Sekalipun hati tersekat ragu, yakinlah bahwa kebekuan tidak selamanya jadi beku.” Faris menepuk-nepuk bahu Irhas dan berlalu meninggalkannya.
Setelah beberapa saat tertegun, kakinya berlari cepat meraih sepeda lalu melesat jauh. Irhas telah mengingat sesuatu.
Hembusan angin riuh rendah mengantarkanku menemuinya.
         “Has ini buku yang ingin kamu pinjam. Jika sudah selesai, tolong segera kembalikan.” Kuberikan sebuah buku pada Irhas.
           Irhas tersenyum,”Baiklah.” Aku hanya membalasnya dengan senyum datar. Lalu aku melanjutkan langkahku, tetapi Irhas memberikan sesuatu untukku.
           “Ini, Na. Aku juga ingin meminjamkan sebuah buku, aku harap kamu mau mebacanya. InsyaAllah ilmunya bisa bermanfaat untukmu.” Aku menerima buku itu dan Irhas meninggalkanku. Aku melihat langkahnya sampai bayangannya menghilang dalam sekelebat perasaanku.
***
Aku duduk di bangku taman perpustakaan. Bermain bersama Tara, seorang anak yatim piatu berumur 4 tahun yang sangat kusayangi. Dia sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Kami sering seperti ini sejak pertama kali aku mengunjungi panti asuhannya. Saat itu kebetulan ekstrakurikuler basket yang kuikuti, megadakan kunjungan ke panti asuhan dimana Tara tinggal.
Ketika anak-anak lainnya berebut hadiah yang dibagikan, aku melihatnya menangis sambil memegangi pintu gerbang panti asuhan. Aku mendekatinya dan menenangkannya.
“Hai, cantik. Kenapa menangis?” Aku tersenyum padanya.
Dengan suara terisak dia menjawab,”Kakak hilang. A-aku ditinggal sendirian.”
Aku menjajari tinggi anak itu dan menggenggam tangan kecilnya. “Nama kamu siapa?”
“Tara.” Jawab Tara sembari mengusap air matanya.
“Mm…boleh tidak, kakak menjadi kakaknya Tara?” Tanyaku pada anak itu. Mendengar ucapanku, mata bening Tara menatapku dengan bahagia.
“Benarkah kakak mau jadi kakakku?” Tanya Tara meminta kesungguhan ucapanku. Mata beningnya yang menangis membuatku ikut merasakan kesedihannya.
“Iya, cantik. Boleh Ya?”
“Boleh,Kak!” Tara merasa sangat senang. Aku memeluknya erat, dan aku menahan air mata yang ingin sekali meruntuh. Aku tak ingin mencontohkan sikap yang cengeng padanya.
“Tara, air matanya jangan diusap yah!?”
“Kenapa,Kak?”
“Air mata itu harusnya diseka, bukan diusap.” Jawabku sembari menyeka air mata Tara. Ya, kata-kata itu adalah kata-kata yang pernah Irhas ucapkan padaku.
Aku sangat menyayangi Tara. Dan aku tak bisa melihatnya kesakitan, menahan rasa sakit seperti saat ini.
“Ya Allah, haruskah anak sekecil Tara menerima kesakitan ini? Jika bisa kutukar kesakitannya dengan kesehatanku untuknya, aku akan menukarnya. Dia masih terlalu muda untuk menderita kanker otak itu. Jalan hidupnya seharusnya masih panjang.” Seruku dalam hati.
Aku tersadar dari lamunan ketika tangan kecil Tara menarik-narik tanganku. Dia mengajakku berjalan-jalan. Namun sesaat kemudian, Tara tersenyum tetapi meneteskan air mata. Tara melepaskan genggamanku. Dia berlari meninggalkanku, tetapi aku tak bisa mengejarnya.
“Tara! Tunggu kakak!” Aku mencoba memanggilnya.
“Kakak Nadzha, Tara senang mau bertemu Ibu di surga. Terimakasih ya kakak, sudah sayang sama Tara.” Tara mengucapkanya sambil melambaikan tangannya. Lalu bayangannya tak bisa kuraih lagi. Aku menangis.
“Astagfirullahaladziim!!” Irhas terbangun dari tidurnya. Dia terus beristigfar. Fathan, teman satu kosnya yang telah melaksanakan sholat malam, ikut terkejut. Fathan memberikan segelas air putih untuk Irhas.
“Kamu mimpi buruk,Has?”
“Iya,Than. Tidak biasanya aku bermimpi seperti ini.” Irhas melihat jam dinding di sudut kamarnya. Jam dinding itu rasanya berputar lamban. Pagi buta seperti ini, terasa masih larut malam.
“Lebih baik kamu qiyamul lail,Has. InsyaAllah bisa menenangkan perasaanmu.” Irhas hanya mengangguk lalu bangkit. Dia berjalan menuju kamar mandi lalu mencuci muka sekaligus berwudhu.
Digelarnya sajadah, lalu tahajjud pun ditunaikannya. Dia memohon segala keridhaan Allah, keteguhan iman, dan berharap Allah selalu memberikan takdir terbaik untuknya.
Kemudian Irhas teringat lagi akan mimpinya. Di dalam mimpinya, dia melihatku sedang bermain bersama seorang anak perempuan cantik di taman samping perpustakaan kota. Irhas tak tahu siapa anak itu, dan kenapa anak itu pergi meninggalkanku.
***
Semburat fajar di ufuk Timur enggan menyinari pagiku. Seluruh gradasi langit hanya satu. Abu-abu. Tetapi kuharap hari ini, tidak akan ada pilu. Hanya ada kebahagiaan dan rasa syukur.
“Kakak, aku ingin jalan-jalan di taman dengan kakak.” Pinta Tara padaku. Antara khawatir dan bimbang, aku pun mengiyakan keinginan Tara.
Sepanjang jalan, dia banyak bertanya tentang ini dan itu. Dan tak jarang, ocehan khas anak-anak yang diucapkannya, membuatku geli.
Kursi panjang berwarna putih kududuki bersama Tara. Kami bercanda dan tertawa. Tara terlihat sangat bahagia.
“Nadzha.” Suara Fisha memanggil dengan riang. Aku hanya melambaikan tanganku padanya. Fisha masuk kembali ke perpustakaan lalu menghampiriku dengan menggandeng Fia.
Fisha mencubit pipi Tara dengan lembut. “Na, ini Tara yang…” Ucapan Fia menggantung.
“Iya, ini adikku. Tara, ini Kak Fisha dan ini Kak Fia. Sekarang Tara punya dua kakak lagi.” Ucapku pada Tara.
“Horeee!” Tara meraih tangan Fisha dan Fia.
Irhas meminta Fathan menemaninya ke perpustakaan. Sesampainya di sana, Irhas langsung menuju taman. Dia pun menemukanku dan yang lain bermain bersama Tara. Tara tidak mengenal Irhas sama sekali, tetapi ketika melihat Irhas, Tara melambaikan tangannya pada Irhas. Irhas kebingungan.
Aku, Fia, dan Fisha menoleh ke arah yang dituju Tara,”Irhas?!” Ucap kami bertiga dengan heran.
“Tidak bisakah kamu memaafkan aku, Na?” Irhas bicara padaku ketika yang lain sibuk bermain gelembung bersama Tara.
Aku tertegun, aku bingung dengan perasaan ini. Sebenarnya masalah antara Irhas dan aku bukanlah sesuatu yang pelik. Tetapi karena ombak pikiran kami sendirilah yang membuatnya terlalu rumit. Apalagi setelah aku membaca selembar kertas milikku yang kukira hilang, ada di sela-sela buku yang dipinjamkan Irhas. Dan di sebalik kertas itu, Irhas menuliskan sesuatu.
Dalam sekelebat rindu
Terjalin saja cahaya matamu
Sekalipun harus kutunggu satu windu
Untuk meraihmu sampai senja
Menemani rinai waktu
Hanya satu…
Debar itu rentan oleh waktu
Sekalipun hati tersekat ragu
Yakinlah…
Kebekuan tak selamanya jadi beku
Irhas Arifin
“Na?” Suara Irhas membawaku kembali ke dunia nyata.
Aku menatap langit. Irhas menunduk. “Masalah di antara kita itu seperti itu.” Aku menunjuk langit.
Irhas menatap ke arah yang kutunjuk. “Langit?” Irhas kemudian menatapku. “Jadi, tak jelas?” Tanya Irhas lagi.
“Memang tidak pernah jelas kan, Has?” Aku balik bertanya. Mataku bergerak-gerak ke arah manapun, entah mencari apa. Mungkin, mencari kepastian. Sekilas kulihat Tara masih mengejar-ngejar gelembung yang Fathan tiupkan.
Irhas masih diam. Kali ini, dia yang menatap langit. “Benarkah tidak pernah jelas? Yakinkan lagi hatimu. Percayalah, abu-abu akan segera bergradasi indah.” Irhas beranjak menemui Tara dan yang lainnya.
“Hai, kakak Irhas.”
“Hai, cantik. Kok tahu nama kakak? Kan belum kenalan.” Irhas mengusap kepala Tara lembut. Tara hanya tersenyum manis. Irhas mencubit pipi Tara dengan lembut dan menggendongnya. Aku hanya berdiri saja di samping Irhas. Tara meraih tanganku dan menggenggamnya.
“Klik.” Suara tepuk tangan kemudian riuh rendah terdengar dari Fisha, Fia dan Fathan. Faris telah berdiri di dekat mereka dengan kameranya.
“Ayo, ayo! Tolong para model, ekspresinya mana?” Faris tersenyum sambil membidik kameranya lagi.
“Kak Faris!?” Aku merasa malu.
“Klik.” Foto kedua berisi posisiku yang rawan. Ketika bidikan kedua dilancarkan, Irhas sedang melihat ke arahku. Ah, entah bagaimana jadinya. Aku segera menjauh dari Irhas. Fisha dan Tara berfoto bersama. Faris menuju ke arah Fia, dan Fia bersembunyi di belakang Fisha.
“Kak Faris! Jangan seperti itu. Aku takut sama kamera.” Fia terus menghindari Faris yang usil itu. Sampai tasnya terjatuh. Ketika Fia akan mengambil tasnya, Fathan juga ingin membantu mengambilkannya. Sialnya, Fisha tiba-tiba berlari dari Fia. “Klik.” Faris pun mendapatkan korban ketiganya. Fia merebut kamera itu dari Faris dan mengamankannya. Dia memberikannya pada Fisha.
Setelah Irhas dan Fathan pamit pulang, di bawah keteduhan langit ini hanya tinggal ada kami berlima. Aku duduk di kursi panjang bersama Tara yang berbaring di pangkuanku.
“Terima kasih ya Allah, telah Engkau berikan kebahagiaan untuknya. Terima kasih telah membuatnya tersenyum.” Ucapku dalam hati.
“Kakak, terima kasih ya. Tara sayang sama kakak.”
“Iya, cantik. Sama-sama. Kakak juga sayang sekali sama Tara.” Kukecup keningnya dengan lembut.
“Tara ngantuk. Tara tidur dulu ya, Kak.” Tara memejamkan kedua matanya. Dia terlalu lelah. Namun kebahagiaannya menepis semua lelah yang telah ditempuhnya. Tara telah tenang. Dia sangat bahagia karena akan bertemu ayah dan ibunya di surga.
“Tara….” Isakku sambil memeluk Tara untuk terakhir kalinya. Fia dan Fisha mencoba menenangkanku.
Gerimis akhirnya merintikkan melodi untuk mengiringi kepergian Tara. Tiap tetesnya yang jatuh, memecah cahaya lembayung menjadi spektrum kesedihan. Faris memayungi kebekuan yang kami rasakan. Faris menatap ke arah langit. Lalu dia memandang ke arahku.
“Ya Allah, sembuhkanlah kesedihan yang telah lama enggan meruntuh dari hati dan jiwanya itu. Amiin.” Ucap Faris dalam palung hatinya.
Fisha mengulurkan tangannya, dia mengembalikkan sebuah buku.
“Ini buku…”
“Yang dipinjam kakakku, Na. Ini, Kak Faris menitipkannya padaku. Terima kasih ya.”
“Oh, begitu. Iya, sama-sama.” Kumasukkan buku itu ke dalam tas. Bergegas aku berlari meninggalkan Fisha yang sebenarnya ingin mengatakan sesuatu kepadaku.
Sebenarnya, kegiatan ekstrakurikuler basketku telah usai 15 menit yang lalu. Keringat telah terkuras habis untuk latihan hari ini. Dan aku kembali lagi ke lapangan basket yang ada di sudut sekolah itu. Jaketku masih tertinggal di sana. Ku buka pintu menuju lapangan yang sudah mulai berkarat termakan usia.
“Hai.” Sapa Faris yang tengah duduk di kursi penonton. Aku berputar, mencari pemilik suara itu. Dan aku terhenti ketika dia menghampiriku.
“Cari ini?” Faris menunjukkan jaketku yang ada digenggamannya. Aku hanya diam. Faris menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. Beberapa saat hening. Hanya hati kami yang berdialog sendiri. Dialog batin. Faris memandangku dengan nanar. Keadaan di antara kami memang telah berubah, semenjak kudengar pembicaraan antara Irhas dan Faris di rumah sakit dua bulan yang lalu.
“Has, bagaimana keadaanmu? Cepat sembuh ya! Sudah banyak yang merindukanmu.” Faris duduk di kursi dekat jendela ruang rawat. Aku mengurungkan niatku untuk masuk.
“Alhamdulillah, Kak. Rasa sakitnya sedikit-sedikit berkurang.” Jawab Irhas lirih.
“Kak, boleh aku menceritakan tentang sesuatu padamu?” Irhas bertanya dengan suara tertahan.
“Berceritalah, Has.” Faris mendekatkan kursinya ke pembaringan Irhas.
“Suatu hari kemarin, aku mengenal seorang gadis berbalut kain hijab. Sekian detik di setiap waktuku, aku mengenalnya dengan baik. Tapi ada suatu hal yang membuatnya menjadi sangat jauh dariku. Dan aku rasa, salah satu sebabnya adalah rasaku yang telah singgah di hatinya. Aku sangat bahagia, Allah telah menitipkan sebuah perasaan yang indah ini. Tetapi mungkin waktuku tidak akan selamanya ada. Kak Faris, bolehkah aku meminta tolong padamu?” Irhas bercerita dengan lirih.
“Ya, apa?”
“Tolong, jaga gadis itu untukku. Jaga Nadzha. Sayangi dia seperti aku menyayanginya.” Pinta Irhas.
Faris terdiam lama.
“Kak?” Irhas meminta kepastian.
“Kamu pasti sembuh, Has. Berjuanglah!” Ucap Faris penuh antusias. “Kamu kuat, Has!” Lanjut Faris.
Irhas hanya tersenyum dalam beku. Faris pun berpamitan pulang pada Irhas tanpa melanjutkan pembicaraannya. Dan langkah Faris terhenti saat baru mencapai pintu ruang rawat Irhas.
Sangat lirih tahlil terucap dari bibir Irhas yang pucat. Sampai Faris tak mendengarnya dengan jelas. Yang didengarnya hanyalah sebuah suara panjang dari alat pendeteksi pacu jantung di samping pembaringan Irhas.
Dalam senyum bekunya, dia telah tenang. Seseorang yang mengisi gradasi rona jingga dalam senjaku, telah meninggalkan detik waktu. Namun, aku harus meyakinkan diriku bahwa kebekuan takkan selamanya jadi beku.
Aku merindukan ocehan-ocehan Tara. Aku merindukan saat yang Irhas bilang sebagai gradasi indah. Dua orang yang sangat aku sayangi itu bukannya telah hilang dariku, mereka hanya kembali ke asal. Kenangan mereka di hatiku takkan pernah hilang. Sekalipun hilang, mereka hanya hilang dari pandanganku saja. Dan ketulusan mereka, akan selalu abadi untukku.
Suara hentakan kaki Faris mengembalikan fikiranku yang sedang mengingat jauh. Dia berlari mendrible bola dan dengan jarak yang tak terlalu dekat, bola basket itu dimasukkannya ke dalam ring.
“Yap!” Faris bersorak untuk dirinya sendiri. Aku masih saja diam di tengah lapangan.
“1-0 ya, Na! Katanya kamu jago basket, mana buktinya?” Faris tertawa kecil.
Aku melempar tasku ke sisi lapangan. Kurapikan jilbab, agar tak menahan gerakanku saat bermain. Aku berlari ke arah bola basket itu jatuh. Dalam sesaat, bola itu sudah berada di tanganku. Aku mendrible bola dan Faris terus mencoba merebutnya. Kulakukan crossover dengan memantulkan bola dari tangan kiri ke tangan kanan dan sebaliknya. Kupantulkan bola itu di antara celah kaki untuk mengecoh Faris. Dan ‘hap’. Pointku dan Faris satu sama. Faris tersenyum melihatku.
Sambil mendrible bola, Faris mencoba membuatku mengeluarkan sepatah kata untuk menjawab.
“Nadzha, bolehkah aku mengisi ruang hatimu?” Faris berlari-lari memutariku.
“Untuk apa, Kak!” Jawabku ketus. Aku merebut bola basket itu dari tangan Faris. Kulakukan lagi crossover untuk mencetak angka. Dan, ya! Masuk lagi.
“Untuk menjagamu sampai senja.” Faris berhenti.
Aku melihatnya sesaat, kemudian aku berlari mengambil jaket dan tasku. Aku meninggalkan Faris sambil mendrible bola basket. Faris mengejar langkahku.
“Kalaupun aku tidak boleh mengisinya. Berikan satu alasan yang bisa kuterima, Na!” Faris menghentikan langkahnya.
Aku berbalik dan melemparkan bola basket itu padanya. Dengan sigap Faris menangkapnya. Kuikat tali sepatu lalu aku berdiri lagi. Kulihat ke arah luar, hujan turun sangat deras.
“Kakak bisa mengisi ruang itu, dengan kesungguhan hati kakak sendiri. Kak Faris bias mengisi ruang itu, dengan membuktikan kesungguhan hati yang kakak miliki.” Aku tersenyum padanya namun sesaat kemudian, aku meredupkan senyuman itu. Aku sendiri bingung, kenapa aku tersenyum kepadanya. Aku mundur beberapa langkah lalu berbalik dan berlari secepat mungkin. Aku terus berlari menembus ribuan tetes hujan yang dingin. Aku tak tahu harus ke mana kuberlari. Aku berlari lagi dalam dingin yang semakin menusuk dan seketika gelap.
***
Kuturuni tangga menuju ruang tamu dengan perlahan. Hanya kudapati Ibuku. Kelihatannya telah banyak tamu yang datang berkunjung.
“Akhirnya kamu bangun juga, Na! Syukurlah.” Ucap Ibu bahagia. “Barusan ada keluarga teman lama Ibu yang bersilaturahim. Ternyata anaknya teman Ibu itu kenal baik sama kamu. Bahkan orang tuanya berniat ingin melamar kamu setelah kamu siap nanti, Na.” Jelas Ibu panjang lebar.
“Apa?” Aku terkaget bukan main.
“Jika kamu mau menerimanya, besok kamu harus memakai sebuah cincin yang dititipkan Nak Faris kepada Ibu ini.” Ibu memperlihatkan kotak bening berisi sebuah lingkaran putih bertahtakan kilauan cantik. Sebuah cincin.
“Apa? Kak Faris?” Aku meraih kotak itu lalu berlari menaiki tangga.
Ibu hanya kebingungan. “Ah, anak zaman sekarang itu.” Ibu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Aku berdiri di balkon atas kamarku yang menghadap langsung ke halaman belakang. Ku genggam kotak itu sambil membaca tulisan tangan Faris dalam bukuku yang dipinjamnya.
Adapun aku hadir
Seperti patahan ilusi suatu debar
Hanya jadi pelita kecil berpinar,
Pantas pena mengukirku pelan
Walau tak sampai putus harapan
Dan aku bertahan…
Sejak rasaku mengaluni hatimu
Sejak debar, telah rentan oleh waktu
Sejak abu-abu mulai bergradasi indah
Ananda Nadzhalla…
Terimalah lingkaran putih
Dari hati yang mulai senja ini
Temaniku singgahi rinai waktu
Selamanya…
Faris Zaim
Kulingkarkan cincin itu di jari manisku. Dan aku tersenyum kepada langit.
***
“Na?” Suara Faris membangunkanku dari lamunan panjang. “Melamunkan siapa?” Faris menggodaku.
“Ah, tidak. Aku hanya mengingat masa-masa muda dulu.” Jawabku sambil menunduk.
Terkenang semua masa mudaku yang terkadang memberikan garis beku. Tidak ada kata ‘seandainya’ untuk memutar dimensi masa lalu. Karena sesuatu yang diandaikan kembali itu, sudah tidak mungkin terjadi. Yang terbaik sekarang adalah memperbaiki kesalahan hari ini demi masa depan kita.
Boleh saja lingkaran putih di jari manisku masih sama seperti dulu. Namun kini jari-jari yang muda telah menjadi renta. Dan helaian rambut Faris pun perlahan telah memutih. Dan tubuh ini boleh renta, tetapi jiwa kami masih terasa muda. Tatapan teduh dan senyuman manis Faris pun masih sama seperti dulu.
Di masa tuaku yang renta ini, terkadang masih teringat penyesalan akan kesalahan di masa muda. Dan waktu takkan pernah bisa terulang.
Faris menggenggam jemariku erat. “Nadzha, aku menyayangimu karena Allah.” Faris menatapku lekat.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Lalu aku pun bersandar pada bahunya. Bahu yang masih cukup kokoh untuk melindungiku. Dan keteduhan hatinya yang masih bisa meneduhi perasaanku.
“Takkan lelah hati ini untuk bersyukur dan berterima kasih atas hidup yang telah Engkau anugerahkan untukku, ya Allah. Beruntungnya aku memiliki seorang suami seperti Kak Faris. Terima kasih atas segala rahmat dan kasih sayang yang telah Engkau berikan untuk aku dan Kak Faris sampai senja ini tiba.” Ucapku dalam hati.
Bangku panjang berwarna putih yang kami duduki masih sama seperti saat masa-masa kemarin. Saat-saat indah, pelik, ataupun saat yang menyedihkan ketika itu.
“Semoga senjaku selalu indah bersamamu.” Ucapku lirih pada Faris.
“Amiin.” Jawab Faris sambil menatap ke arah langit. “Aku akan selalu menyayanginya, Has. Kamu tenang saja di sana.” Ucap Faris dalam hati.
Meski gradasi hingga senja ini lirih menyelimuti. Khiar  telah terpilih dengan pasti. Pilihan terbaik dari dua pilihan yang baik. Seorang Faris untuk menuntunku hingga senja, dalam jalan ridha-Nya.

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image