Karya Plagiat Pertamaku

Pesan moral :

STOP PLAGIATISME, KORUPSI, dan KECURANGAN SEJAK DINI!!!

****************************************

 Hujan. sepulang aku dari minimarket dekat rumah, hujan tiba-tiba turun. beruntung jarak antara rumahku dan minimarket tersebut sangat dekat. Tak perlu mengeluarkan payung, aku tinggal berlari menuju rumah. Meskipun sedikit khawatir bahan-bahan yang aku beli untuk membuat kue akan basah terkena air hujan.

Di tengah jalan, aku menatap langit yang kelabu. menatap hujan yang turun dari awan. Aku pun melangkahkan kakiku kembali menuju rumah. Meskipun sesekali aku masih memikirkan sebuah kata: HUJAN. Mengingatkanku pada sebuah puisi pertamaku, HUJAN.

Dari dulu aku adalah anak yang suka membaca, terutama membaca komik. Selain itu, dirumah juga telah disediakan majalah bobo, majalah untuk anak-anak seusiaku saat itu. Makin besarlah minat membacaku dari kecil. Namun ada satu hal yang kurasakan. Meskipun aku senang membaca, aku tidak mahir menulis. Terutama membuat karangan seperti, puisi, cerpen, maupun tugas menulis lainnya. Mungkin aku baru sadar, aku dulu bukannya tidak bisa, hanya belum mencobanya secara maksimal. karena akhirnya, membaca dan menulis menjadi bagian dari hobiku.

Pertama kalinya aku berani menulis adalah ketika aku duduk di kelas 4 atau 5 SD (maaf, aku sedikit lupa). Kami diharuskan membuat sebuah karya untuk mading sekolah yang saat itu baru dibuat oleh sekolah kami. Dari semua karya, akan dipilih beberapa untuk ditempel di mading sekolah. Banyak teman-temanku yang antusias dan membuat karyanya. ada yang menggambar, membuat bentuk hiasan lucu, membuat cerpen, dan lain sebagainya. Sedangkan aku, saat itu membuat sebuah puisi.

Hujan. itulah judul puisiku.

puisi yang dahulu sangat ku hapal di luar kepala (sayangnya sekarang aku lupa). Berkisah tentang hujan yang datang tiba-tiba.

Hujan

engkau datang tiba-tiba

turun kebumi dengan tak sengaja

membawa angin

mengusik masuk lewat jendela

itulah sepenggal puisi hujan yang masih aku ingat (meskipun aslinya tidak sependek itu). Dan setelah itu, kukumpulkan karyaku bersama karya teman-temanku lainnya. Semua berharap, karya kami akan terpilih dan akan ditampilkan pada mading sekolah, begitupula aku.

Beberapa hari kemudian, mading sekolah telah terpasang. Begitupula beberapa karya yang terpilih. Beberapa karya dua orang temanku di tampilkan, begitupula karyaku (mading kami dahulu hanya terdiri dari sebuah papan yang ditempel 2 buah steroafoam, sehingga karya yang muat hanya sekitar 7 buah). Semua teman mengucapkan selamat kepadaku dan kedua temanku. Saat itu, aku begitu bangga dan senang. Tanpa tahu apa yang telah aku lakukan saat itu.

Polos dan masih suci. itulah anak-anak. Begitupula kita saat masih kecil, termasuk aku. Tanpa aku sadari aku telah menjadi seorang plagiator. Seorang yang menyalin karya orang lain tanpa izin pemilik dan mengakuinya sebagai karyanya sendiri. Ingin tahu bagaimana aku melakukannya dahulu?

masih ingat dahulu aku memiliki setumpuk majalah bobo dirumah? ya, dari sanalah aku menyalinnya. Sebuah puisi berjudul sama, isi sama, hanya nama pengarang yang berbeda.

Kalian setuju, jika saat kecil kita sudah tidak jujur dan curang, sudah besar nanti akan menjadi seorang koruptor? memang benar, banyak anak-anak kecil yang sudah di ajari berbuat curang ketika dewasa hobinya adalah berbuat korupsi. Bagaimana jika sejak kecil menjadi seorang plagiator? apakah ketika besar ia akan menjadi seorang plagiator? mungkin saja. Tapi aku beruntung. Karena itu adalah yang pertama ku lakukan (dan semoga menjadi yang terakhir aku lakukan). Setelah itu aku belajar dan terus belajar. Berusaha membuat karya-karyaku sendiri. Meskipun jelek, tapi inilah usahaku.

Begitupula yang aku usahakan pada tugas-tugasku. Aku selalu berusaha mengerjakan sesuai kemampuanku. Kalaupun harus mencarinya lewat buku ataupun internet, selalu aku cantumkan sumbernya. Aku tak mau menjadi seorang Plagiator, apalagi KORUPTOR??

Kalian tahu? aku selalu berfikir. Beberapa karya hebat yang pernah aku baca (khusunya karya anak-anak), apakah itu betul-betul karya mereka? dibantukah mereka oleh orang-orang dewasa? Jika memang itu karya mereka, betapa bangganya aku kepada mereka yang telah memiliki bakat sejak kecil. Jika tidak, tolong hentikan. Apa hebatnya sebuah prestasi jika terdapat kecurangan didalamnya? karena itu, ajarilah generasi muda kita dengan kejujuran. Biarkan mereka berkreasi, berinovasi, dan mengembangkan kreatifitas yang mereka punya apa adanya.

 

NB : Tulisan ini aku buat dengan sebenar-benarnya sebagai permintaan maaf atas karya plagiat pertamaku. jika ada yang tahu pencipta puisi tersebut, sampaikan maafku untuknya. Mari kita ajarkan kejujuran kepada generasi muda kita!!

Stop Korupsi, plagiat, dan kecurangan sejak dini!!

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image