About the Author

author photo

I am a man of the same with men in general in this world, which sets it apart is that I have the ability to sense and communicate with other worlds, why? because I was a kid indigo kind of time travel, I can see the future and the past of any event, for more detail please make friends with me, I will gladly accept you as my friend

See All Posts by This Author

my love junior high school story

“kisah ini sebagai renungan buat kita untuk menyadari bhwa cinta tdk hrs berwujud benda”

Pacar saya adalah seorang siswa SMP, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di hati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang. satu minggu dalam masa perkenalan, dan 3 tahun dalam masa pacaran, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-2 saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.

Saya seorang pria yang sentimentil dan benar-2 sensitif serta berperasaan kasar. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan. Pacar saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidak mampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam hubungan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya berani kan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan untuk mengakhiri hubungan ini. “Mengapa?”, dia bertanya dengan terkejut.
“Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya “inginkan” Dia terdiam dan termenung di depan laptopnya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?”.

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, “Saya punya pertanyaan untukmu, jika kamu dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?”
Dia termenung dan akhirnya berkata, “Saya akan memberikan jawabannya besok.”

Hati saya langsung gundah mendengar responnya.
Keesokan paginya, dia tidak menghubungi saya, dan adik saya memberikan sebatang coklat dengan terselip sebuah kertas dengan coret-2 tangan seseorang yang bertuliskan….

“Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya.”

Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya.
Saya melanjutkan untuk membacanya kembali.

“Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-2 saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya.”.

“Kakimu sering sakit karna kamu pernah tertabrak motor, saya harus memberikan kaki dan badan saya untuk menggendongmu agar kamu tidak leleh dan kesakitan.”.

“Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu dirumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu.”.

“Kamu selalu pegal-2 pada waktu ‘teman baikmu’ datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal.”.

“Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi ‘aneh’. Dan aku harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami hari ini.”.

“Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu.”.

“Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah . Menceritakan warna-2 bunga yang bersinar dan indah seperti tampannya wajahmu”.

“Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku.”.

“Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu.”. “Untuk itu, sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. Sayang, aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain
yang dapat membahagiakanmu.”.

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi
kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya kembali.

“Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan jawaban saya dan ingin melanjutkan kembali hubungan ini, saya menunggu di depan pintu rumahmu dan akan selalu ke rumahmu saat kamu butuh saya.”

“Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk melihat wajahmu untuk yang terakhir kalinya. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia.”

Saya segera berlari dan membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran lengkap dengan coklat dan roti kesukaanku. Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintaiku.

Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu. Karena cinta tidak selalu harus berwujud “benda”.

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image