Bolaku sayang bolaku malang

Siapa yang tidak suka olahraga sepakbola? Dari anak-anak hingga dewasa pasti suka akan olahraga yang satu ini. Terlebih lagi Rakyat Indonesia khususnya, bisa terlihat di tengah-tengah kekacauan negri tanah air kita, sepak bola dapat menyatukan kita. Betapa tidak, jiwa nasionalis akan dijunjung saat kita menonton para timnas merumput melawan negara lain, garuda didadaku, merah putih tetaplah berkibar, jayalah bangsaku. Kita mengharapkan kemenangan timnas tanah air, semangat yang menggelora dari pemain serta dukungan yang heboh supporter ketika menyaksikan pertandingan menyatukan jiwa “setiap Indonesia”.

Seperti hal olahraga lain, tentunya sepakbola juga mempunyai sebuah organisasi pemersatu di Indonesia. Uniknya kepengurusan sepakbola di Indonesia saat ini terjadi dualisme yaitu PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) yang secara “legal” dipilih dan saat ini diketuai oleh Djohar Arifin, serta organisasi baru yang disebut KPSI (Komite Penyelamatan Sepakbola Indonesia) yang diketuai oleh La Nyalla Mattalitti. Kedua organisasi ini tidak ada yang mau mengalah. Apa akibatnya? Kita tidak bisa bermain dengan kekuatan penuh. “Garuda” tidak bisa terbang keangkasa apabila hanya terbang dengan separuh sayapnya. Bagaimana kita bisa menang melawan negara tetangga sekaligus “musuh bebuyutan” kita yaitu negara Malaysia? Timnas kita tidak bisa menang tanpa kekuatan penuh. Bila dilihat dari beberapa track record timnas beberapa kejuaraan terakhir kita selalu mengalami kegagalan, kita selalu takluk dengan negara besar ASEAN lain seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. Beberapa pemain terbaik Indonesia seperti Firman Utina, Christian Gonzales, dan kawan-kawan tidak bisa ikut merumput bersama timnas Indonesia. Sungguh sangat disesalkan apabila ini terus berlangsung. Tidak hanya beberapa pemain lama saja yang tidak bisa membela tanah air, pemain baru yang berbakat juga akan kurang tereksplorasi. Bila dualisasi kepengurusan ini terus berlanjut tidak heran apabila Timnas Indonesia akan mengalami kekalahan terus menerus.

Bagaimana ini semua bisa terjadi? Apakah terdapat unsur politik dibalik semua ini? Siapa yang tahu? Sungguh dramatis apabila salah satu pemersatu bangsa Indonesia ini mengalami perpecahan hanya karena kepentingan beberapa kelompok.

Dalam olahraga termasuk sepakbolapun butuh sportivitas, bukan hanya pemain, supporterpun harus bisa sportif, harus bisa menerima kekalahan karena menang kalah adalah hal biasa, dan kekalahan adalah awal dari kesuksesan. Selain supporter diharapkan para pemimpin organisasi persepakbolaan Indonesia juga dapat berpikir jernih dan mengintrospeksi diri sendiri karena atas keegoisan organisasi menggiring persepakbolaan Indonesia kejalan buntu. Semoga kekalahan dan kelemahan kita ditahun lalu bisa menjadi pelajaran yang baik untuk para pemimpin organisasi persepakbolaan Indonesia. Tahun baru ini tahun 2013 diharapkan ada perubahan menjadi lebih baik bagi bangsa Indonesia terutama kepengurusan timnas Indonesia. Semangat Garudaku! kepakan sayapmu hingga angkasa!!

Blog Pribadi : http://www.mufiks.blogspot.com

There Are 2 Responses So Far. »

  1. Semoga di tahun 2013 nanti adalah tahun kebangkitan negara kita. terbanglah tinggi garudaku! Jaya selalu!

  2. Manajemen yang baik dan kepengurusan yang baik adalah salah satu kunci sukses untuk dunia persepakbolaan.

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image