Gunakan Kacamata Mahasiswa untuk Memandang Kekalahan Indonesia

Timnas Indonesia harus menghempaskan harapan nya untuk lolos ke semifinal Piala AFF 2012. Setelah Andik dan kawan-kawan takluk dari tuan rumah Malaysia 0-2 di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia pada hari Sabtu, 1 Desember 2012.

Dua gol Harimau Malaya, julukan malaysia dicetak oleh Azammuddin Bin Mohd Akil pada menit ke 27 dan Mahalli Jasuli pada menit ke 30. Kenyataan ini membuat timnas harus pulang ke tanah air dengan menelan pil pahit karena tak bisa lolos dari fase group Piala AFF untuk kali kedua

Saat pertandingan berlangsung, ada sempat terlintas secercah harapan muncul dari sudut kiri bawah televisi agar terdapat penayangan bahwa Laos mengalahkan Singapura, sehingga Indonesia tetap dapat menang dengan hanya berjuang mengejar skor imbang. Namun ternyata mukjizat tidak terjadi. Singapura dan Malaysia tetap maju ke semifinal.

Memang tak bisa dipungkiri bahwa ‘jam terbang’ pemain di pentas internasional sangat mempengaruhi. Betapa banyak yang terlihat panik dan emosi di babak kedua dalam mengejar ketertinggalan. Andik pun seperti bermain sendiri dan seperti mau menyelesaikan semua peluang sendiri tanpa mau mengumpan ke tengah pada pemain lain lagi.

Adanya konflik di PSSI, mengenai masalah statuta dan persoalan legal-ilegal yang membingungkan sebelum pembentukan Timnas asuhan Nila Maizar itu sedang diungkit-ungkit menjadi salah satu penyebab kekalahan timnas, karena memberikan imbas kepada pemain timnas menjadi tidak fokus berlatih, serta pemain lainnya yang berbakat menjadi tak punya restu dari klubnya untuk ikut andil dalam perjuangan nasional di rumput hijau itu.

Dengan kekalahan klasik Indonesia atas Malaysia serta konflik dan segala bentuk permasalahan di kancah persepakbolaan Indonesia harusnya menyadarkan kita untuk bersatu agar mencapai tujuan visi dan misi demi kemajuan sepakbola Indonesia bersama. Baik semua yang pro maupun kontra dengan Timnas ini, pandanglah semua pertandingan layaknya dengan kacamata mahasiswa. Saat Indonesia bertanding tetaplah didukung, meskipun jika kalah pasti kesedihan itu didapat. Soal kepengurusan itu masalah belakangan, tetapi janganlah ikut meledek kesebelasan sendiri kalau kalah, walaupun perasaaan jengkel sering bergejolak di dalam hati dengan serangan opini negatif dan provokasi dari media manapun.

Tetaplah dukung Timnas Indonesia, karena merekalah yang disepakati mewakili nama baik negara kita. Supaya mereka juga tidak menjadi bingung dengan identitas kebangsaannya, karena tidak selamanya sepak bola kita terpecah belah seperti ini. Pasti suatu saat akan dapat titik temunya. Itulah harapan saya sebagai seorang Mahasiswa.

Bangkitlah Pahlawan Garuda di Medan Rumput Hijau. Salam damai.
Visit me On: http://www.uzi-online.blogspot.com

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image