Hanya Sekedar Roman Picisan

Terdengar suara keras dari jam wekerku yang berusaha membangunkanku dari tidurku. Tak luput pula kumendengar senandung kicauan burung yang mampu membuatku sepenuhnya tersadar dari tidurku. Kulangkahkan kakiku dengan malasnya menuju kamar mandi dan setelah itu dengan segera kupakai seragam sekolahku dan bersiap seragam sekolah. Ketika akan beranjak ibuku memanggil.
“Rani sebelum berangkat srapan dulu!” ujar ibu dengan nada yang cukup tinggi.
“Rani sarapan disekolah aja ma, aku takut terlambat”. Jawabku sambil terburu-buru keluar rumah.
Dengan cepat kuberlari menuju jalan raya untuk menunggu bis yang akan mengantarku hingga sekolah. Akhirnya ada juga satu bis yang berhenti dan aku segera menaikinya. Ditengah perjalanan terjadi suatu kendala yaitu bis yang saya naiki mogok padahal tidak sampai 200 meter lagi aku sampai sekolah. Lalu aku memutuskan untuk berlari secepat mungkin dan berharap tidak terlambat masuk kelas. Untungnya sesampai kelas, aku belum terlambat walaupun kelas sudah dipenuhi teman-temanku.
Dengan lelahnya ku sandarkan tubuhku di bangku akibat lelah karena berlari-lari menuju sekolah. Akhirnya pelajaran pertama pun dimulai, ketika sedang pelajaran guru yang mengajar kelasku memberikan pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab. Namun ada satu cowok yang bisa menjawabnya, dia lah Rangga. Teman sekelasku yang duduk diujung kelas dengan sikapnya yang selama ini membuatku tertarik padanya.
“Ehm pacarmu bisa jawab tuh.” ujar Nisa teman sebangku ku dengan nada mengejek.
“Dia bukan pacarku kok!” bantahku sambil tertawa lirih.
Entah kenapa setiap kulihat tingkah dan sikap Rangga jantungku langsung berdebar-debar. Inikah yang namanya cinta? Atau hanya perasaanku saja?. Teman-temanku mengatakan bahwa yang kurasakan ini adalah cinta namun mengapa diriku ini selalu membantah. Entahlah mungkin perlahan-lahan nanti aku akan menemukan jawaban itu dengan sendirinya.
Akhirnya jam belajar pun digantikan oleh jam istirahat yang ditandai dengan bunyi bel dua kali. Aku dan Nisa dengan segera melesat menuju kantin karena perut kami yang sudah keroncongan. Kami akhirnya memesan dua mangkok bakso ukuran jumbo yang mungkin bisa mengenyangkan perut kami. Saat kami ingin mencari tempat duduk ternyata hanya tinggal satu tempat duduk saja, lalu aku mengalah dengan mempersilahkan Nisa untuk duduk dikursi tersebut. Tanpa diduga-duga seorang cowok berbicara tepat dibelakangku yang ternyata adalah Rangga.
“Ran, kamu bisa duduk ditempatku lagipula aku juga udah selesai makannya.” ujarnya dengan suara yang lembut.
Dengan kagetnya, aku langsung menoleh kebelakang dengan berkata agak gugup”Umm.. ehh.. i..iya makasih ya Rangga.”
Kejadian ini membuat jantungku berdegup kencang lagi. Entah kenapa setiap melihat wajahnya, aku menjadi gugup sekali. Apalagi dia sempat tersenyum padaku yang membuat wajahku memerah layaknya sebuah kepiting rebus yang baru saja matang.
Bel masuk pun berbunyi dan aku siap menghadapi pelajaran selanjutnya. Ternyata guru kami tidak masuk karena sedang sakit, hal ini justru membuat seluruh teman sekelasku senang. Sehingga hal ini dimanfaatkan oleh teman-temanku untuk bercanda, mengobrol, ataupun melakukan aktivitas yang membuat mereka senang. Tapi tidak dengan Rangga, yang kulihat dia terus saja membaca buku pelajaran meskipun tidak ada guru yang mengajar. Hal ini membuat diriku makin kagum dengan Rangga sehingga diriku tenggelam dalam khayalan yang tidak jelas. Tiba-tiba Nisa mengagetkanku.
“Hei melamun saja!, aku ada gosip baru nih!!!” ujarnya dengan cara mengagetkanku.
“Huh, apa sih? Mengagetkanku saja. Emang ada gosip apa?” ujarku dengan sedikit mencibir.
“Dengar-dengar katanya Rangga sedang dekat dengan seorang cewek” ujarnya dengan kata-kata yang membuatku penasaran.
“Memang kenapa kalo dia sedang dekat dengan cewek? Apa aku harus cemburu?” ujarku dengan nada tinggi.
Jujur perkataan yang baru saja aku katakan tidak sama dengan kata hatiku. Dalam hatiku, aku merasa sangat sedih ketika mendengar cerita tersebut. Namun kucoba untuk tenang karena hal ini masih sebuah gosip.
Akhirnya bel istirahat kedua berbunyi dan hal ini aku gunakan untuk mendekati Rangga perlahan-lahan  dan untuk mencari tahu apa memang benar Rangga sedang dekat dengan seorang cewek. Kebetulan sekali saat kudekati dia sedang sibuk dengan handphonenya. Perlahan-lahan kudekati dan aku terkejut sekali ketika kuintip handphone tersebut, ia sedang smsan dengan seorang cewek dengan menggunakan kata “sayang”.
Tubuhku langsung lemas  dan aku berusaha menjauh dari hadapannya. Kuhempaskan tubuhku ditempat dudukku, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja aku lihat. Hal ini membuatku makin  sedih dan pikiranku makin tidak terarah. Akhirnya pun bel masuk telah berbunyi. Saat jam pelajaran terakhir, aku sama sekali tidak konsentrasi dalam belajar. Pikiranku hanya tertuju pada kejadian tadi. Hal ini membuat air mataku perlahan-lahan menetes karena aku merasakan kesedihan yang cukup mendalam. Seseorang yang selama ini aku kagumi ternyata sedang dekat dengan seorang cewek.
Bel pulang pun berdering dan semua temanku pun pulang satu per satu meninggalkan kelas hingga menyisakan diriku sendiri. Disaat kesendirianku dikelas tak kusangka ternyata masih ada satu orang tmanku yang masih dikelas juga yang tidak lain adalah Rangga. Kemudian dia mendekatiku dan berbicara padaku.
“Kok kamu belum pulang?” tanyanya sambil mengampiriku.
“Mmmh.. mungkin sebentar lagi. Apa aku boleh bertanya sesuatu?” ujarku dengan nada lirih.
“Silahkan, aku akan menjawabnya.” jawabnya.
“Pada saat jam istirahat kedua, aku tak sengaja melihat kamu sedang smsan dengan seorang cewek dengan menggunakan kata”sayang”. Boleh aku tau siapa cewek itu?”. Tanyaku dengan rasa penasaran.
“Oh, sms itu ya? Itu adikku, namanya Mona. Aku kalau lagi smsan sama sia sering menggunakan kata sayang.” Jawabnya dengan tegas.
Dengan perasaan percaya tak percaya mendengar ucapan Rangga, hatiku seketika menjadi gembira namun bercampur dengan sedih. Gembira karena dia sedang tidak dekat dengan seorang cewek dan sedih karena telah berprasangka buruk pada Rangga.
“Maafkan aku Rangga yang telah berprasangka buruk padamu karena sebuah kecemburuaan belaka.” Tuturku dalam hati.
Mungkin sekarang aku sedang mengalami yang namanya sebuah roman picisan. Namun aku yakin suatu saat hal ini akan berkembang menjadi suatu cinta yang nyata. Bagiku cinta itu adalah sebuah anugerah yang diberikan Tuhan pada manusia sehingga kita para manusia akan merasakan kebahagiaan melalui sebuah kasih sayang dan cinta yang hakiki.

Post a Response

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image