<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Warta Warga</title>
	<atom:link href="http://wartawarga.gunadarma.ac.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wartawarga.gunadarma.ac.id</link>
	<description>Student Journalism</description>
	<lastBuildDate>Thu, 23 May 2013 05:09:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Audit Delay pada Perusahaan LQ45 yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia</title>
		<link>http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2013/05/analisis-faktor-faktor-yang-mempengaruhi-audit-delay-pada-perusahaan-lq45/</link>
		<comments>http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2013/05/analisis-faktor-faktor-yang-mempengaruhi-audit-delay-pada-perusahaan-lq45/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 May 2013 05:09:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>LASMA MARTHA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wartawarga.gunadarma.ac.id/?p=231339</guid>
		<description><![CDATA[ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi audit delay pada perusahaan LQ 45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Faktor-faktor yang diuji dalam penelitian ini yaitu ukuran perusahaan, laba/rugi operasi, opini auditor, tingkat profitabilitas, dan reputasi auditor. Sampel penelitian ini adalah 23 perusahaan LQ 45 yang tercatat di BEI (Bursa Efek [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>ABSTRAK<br />
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi audit delay pada perusahaan LQ 45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Faktor-faktor yang diuji dalam penelitian ini yaitu ukuran perusahaan, laba/rugi operasi, opini auditor, tingkat profitabilitas, dan reputasi auditor. Sampel penelitian ini adalah 23 perusahaan LQ 45 yang tercatat di BEI (Bursa Efek Indonesia) dari tahun 2008-2011 yang diambil dengan menggunakan metode purposive sampling. Faktor-faktor tersebut kemudian diuji dengan menggunakan regresi linier berganda pada tingkat signifikansi 5 persen. Hasil penelitian mengidentifikasi bahwa ukuran perusahaan, laba/rugi operasi, dan opini auditor secara signifikan berpengaruh terhadap audit delay, sedangkan tingkat profitabilitas dan reputasi auditor tidak berpengaruh terhadap audit delay pada perusahaan LQ 45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.<br />
Kata Kunci: Audit Delay, Ukuran Perusahaan, Laba/Rugi Operasi, Opini Auditor, Tingkat Profitabilitas, Reputasi Auditor.</p>
<p>PENDAHULUAN<br />
Salah satu kriteria profesionalisme dari auditor adalah ketepatan waku penyampaian laporan auditnya. Ketepatan waktu perusahaan dalam mempublikasikan laporan keuangan kepada masyarakat umum dan kepada BAPEPAM juga tergantung dari ketepatan waktu auditor dalam menyelesaikan pekerjaan auditnya. Ketepatan waktu ini terkait dengan manfaat dari laporan keuangan itu sendiri.<br />
Halim (2000) menyebutkan bahwa ketepatan waktu penyajian laporan keuangan dan laporan audit (timeliness) menjadi prasyarat utama bagi peningkatan harga saham perusahaan tersebut. Di sisi lain, auditing merupakan kegiatan yang membutuhkan waktu sehingga adakalanya pengumuman laba dan laporan keuangan tertunda.<br />
Pemenuhan standar oleh auditor tidak hanya berdampak pada lamanya penyelesaian laporan audit, tetapi juga berdampak pada peningkatan kualitas hasil audit. Pelaksanaan audit yang semakin sesuai dengan standar membutuhkan waktu semakin lama. Perbedaan waktu antara tanggal laporan keuangan dengan tanggal opini audit dalam laporan keuangan mengindikasikan tentang lamanya waktu penyelesaian audit yang dilakukan. Perbedaan waktu ini dalam audit sering disebut dengan audit delay.<br />
Ketertundaan laporan keuangan ini dapat berdampak negatif pada reaksi pasar. Makin lama masa tunda, maka relevansi laporan keuangan makin diragukan. Chambers dan Pennan (1984) dalam Subekti (2004) menunjukkan bahwa pengumuman laba yang terlambat menyebabkan abnormal returns negative, sedangkan pengumuman laba yang lebih cepat menunjukkan hasil sebaliknya. Hal ini terjadi karena investor pada umumnya menganggap keterlambatan pelaporan keuangan merupakan pertanda buruk bagi kondisi kesehatan perusahaan.<br />
Berbagai penelitian mengenai audit delay telah dilakukan. Penelitian ini mengkonfirmasi kembali kesimpulan dari penelitian-penelitian terdahulu mengenai faktor-faktor yangmempengaruhi audit delay. Hasil penelitian Whittred (1980), membuktikan bahwa audit delay yang lebih panjang dialami oleh perusahaan yang menerima pendapat qualified opinion. Fenomena ini terjadi karena proses pemberian pendapat qualified tersebut melibatkan negosisasi dengan klien, konsultasi dengan partner audit yang lebih senior dan perluasan lingkup audit.<br />
Hossain (1998) melakukan penelitian pada perusahaan-perusahaan publik di Pakistan dengan menggunakan sampel 103 perusahaan yang terdaftar di Karachi Stock Exchange pada tahun 1993. Variabel yang digunakan dalah ukuran perusahaan, debt equity ratio, perusahaan melaporkan laba / rugi, adanya cabang perusahaan untuk perusahaan multinasional, dan auditor. Dari hasil uji korelasi, antar variabel independen menunjukkan adanya korelasi yang tinggi antara variabel cabang dalam perusahaan multinasional dan auditor dibandingkan korelasi variabel-variabel perusahaan lainnya.<br />
Subekti dan Widiyanti (2004), berhasil membuktikan bahwa audit delay yang panjang dialami oleh perusahaan yang tingkat profitabilitasnya tinggi, ukuran perusahaan besar, perusahaan non- financial mendapatkan opini selain wajar tanpa pengecualian dan diaudit oleh KAP besar (the big six).<br />
Penelitian ini dilakukan untuk menguji kembali beberapa faktor – faktor dalam penelitian terdahulu yang mempengaruhi audit delay seperti ukuran perusahaan, laba/rugi operasi, opini auditor, tingkat profitabilitas, dan reputasi auditor, khususnya pada perusahaan LQ 45.<br />
Dari latar belakang yang telah diuraikan diatas, permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah: Apakah terdapat pengaruh antara ukuran perusahaan, laba/rugi operasi, opini auditor, tingkat profitabilitas, dan reputasi auditor terhadap audit delay?</p>
<p>TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS<br />
Laporan Keuangan<br />
Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.1 Revisi 2009, laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas. Sedangkan tujuan dari adanya laporan keuangan adalah memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas, yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi. Laporan keuangan juga menunjukkan hasil pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka.<br />
Para pemakai laporan keuangan akan menggunakannya untuk meramalkan, membandingkan, dan menilai dampak keuangan yang timbul dari keputusan ekonomis yang diambilnya.<br />
Audit Delay<br />
Audit delay merupakan lamanya atau rentang waktu penyelesaian audit yang diukur dari tanggal penutupan tahun buku sampai dengan tanggal diterbitkannya laporan audit (Halim,2000). Diungkap dalam penelitian Subekti dan Widiyanti (2004), perbedaan waktu yang sering dinamakan dengan audit delay adalah perbedaan antara tanggal laporan keuangan dengan tanggal opini audit dalam laporan keuangan yang mengindikasikan tentang lamanya waktu penyelesaian audit yang dilakukan oleh auditor.<br />
Dyer dan Mc Hugh (dalam Hilmi dan Ali, 2008) menggunakan tiga criteria keterlambatan untuk melihat ketepatan waktu dalam penelitiannya, yakni:<br />
1. Preliminary lag : interval jumlah hari antara tanggal laporan keuangan sampai penerimaan laporan akhir preliminary oleh bursa.<br />
2. Auditor’s report lag : interval jumlah hari antara tanggal laporan keuangan sampai tanggal laporan auditor ditandatangani.<br />
3. Total lag : interval jumlah hari antara tanggal laporan keuangan sampai tanggal penerimaan laporan dipublikasikan oleh bursa.<br />
Audit delay inilah yang dapat mempengaruhi ketepatan informasi yang dipublikasikan, sehingga akan berpengaruh terhadap tingkat ketidakpastian keputusan yang berdasarkan informasi yang dipublikasikan (Kartika, 2009).<br />
Ketepatan waktu penyusunan atau pelaporan suatu laporan keuangan perusahaan bisa berpengaruh pada nilai laporan keuangan tersebut. Keterlambatan informasi akan menimbulkan reaksi negatif dari pelaku pasar modal. Informasi laba yang dihasilkan perusahaan dijadikan sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan untuk membeli atau menjual kepemilikan yang dimiliki oleh investor. Artinya, informasi yang dipublikasikan tersebut akan menyebabkan kenaikan atau penurunan harga saham.<br />
Ukuran Perusahaan<br />
Ukuran perusahaan dapat dinilai dari beberapa segi. Besar kecilnya ukuran suatu perusahaan dapat didasarkan pada total nilai aktiva, total penjualan, kapitalisasi pasar, jumlah tenaga kerja dan sebagainya. Semakin besar aktiva suatu perusahaan maka akan semakin besar pula modal yang ditanam, semakin besar total penjualan suatu perusahaan maka akan semakin banyak juga perputaran uang dan semakin besar kapitalisasi pasar maka semakin besar pula perusahaan dikenal oleh masyarakat (Hilmi dan Ali, 2008).<br />
Menurut Dyer dan Mc. Hugh (1975) dalam Kartika (2009), perusahaan besar lebih konsisten untuk tepat waktu dibandingkan perusahaan kecil dalam menginformasikan laporan keuangannya. Pengaruh ini ditunjukkan dengan semakin besar nilai aktiva perusahaan maka semakin pendek audit delay dan sebaliknya.<br />
Perusahaan besar diduga akan menyelesaikan proses auditnya lebih cepat dibandingkan perusahaan kecil. Hal ini disebabkan oleh beberapa factor yaitu manajemen perusahaan yang berskala besar cenderung diberikan insentif untuk mengurangi audit delay dikarenakan perusahaan-perusahaan tersebut dimonitor secara ketat oleh investor, pengawas permodalan dari pemerintah. Pihak-pihak ini sangat berkepentingan terhadap informasi yang tercantum dalam laporan keuangan.<br />
Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis yang dapat disusun adalah sebagai berikut :<br />
H1 : Ukuran perusahaan berpengaruh terhadap audit delay.<br />
Laba/Rugi Operasi<br />
Menurut Hassanudin (dalam Utami, 2006), laba menunjukkan keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Perusahaan tidak akan menunda penyampaian informasi yang berisi berita baik. Dengan demikian perusahaan yang meraih laba cenderung lebih tepat waktu dalam pelaporan keuangannya dibandingkan dengan perusahaan yang mengalami kerugian.<br />
Hal tersebut sejalan dengan pendapat Ashton dan Elliot (dalam Subekti dan Widiyanti, 2004), bahwa ada beberapa alasan yang mendorong terjadinya kemunduran publikasi laporan keuangan, yaitu pelaporan laba atau rugi sebagai indikator berita baik atau berita buruk atas kinerja manajerial perusahaan dalam setahun. Menurut Ashton (dalam Prabandari dan Rustiana, 2007), perusahaan yang mengumumkan rugi untuk periode tersebut akan mengalami audit delay yang lebih panjang.<br />
Menurut Carslaw (dalam Kartika, 2009), ada dua alasan mengapa perusahaan yang menderita kerugian cenderung mengalami audit delay yang lebih panjang. Pertama, ketika kerugian terjadi perusahaan ingin menunda berita buruk tersebut, sehingga perusahaan akan meminta auditor untuk menjadwal ulang penugasan audit. Kedua, auditor akan lebih berhati-hati selama proses audit jika percaya bahwa kerugian ini mungkin disebabkan karena kegagalan keuangan perusahaan atau kecurangan manajemen.<br />
Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis yang dapat disusun adalah sebagai berikut:<br />
H2 : Laba/rugi operasi perusahaan berpengaruh terhadap audit delay.<br />
Opini Auditor<br />
Opini audit adalah pendapat akuntan independen atas laporan keuangan tahunan perusahaan yang telah diaudit. Auditor sebagai pihak yang independen didalam pemeriksaan laporan keuangan suatu perusahaan akan memberikan opini atas laporan keuangan yang diauditnya. Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) mengharuskan pembuatan laporan setiap kali kantor akuntan public dikaitkan dengan laporan keuangan.<br />
Laporan audit merupakan media yang digunakan auditor dalam berkomunikasi dengan masyarakat lingkungannya. Dalam laporan tersebut auditor menyatakan pendapatnya mengenai kewajaran laporan keuangan yang diaudit olehnya. Pendapat auditor tersebut disajikan dalam suatu laporan tertulis yang umumnya berupa laporan audit baku yang terdiri dari tiga paragraf yaitu paragraf pengantar (introductory paragraph), paragraf lingkup (scope paragraph), dan paragraf pendapat (opinion paragraph). Laporan audit hanya dibuat jika audit benar-benar dilakukan. Bagian dari laporan audit yang merupakan informasi utama dari laporan audit adalah opini audit.<br />
Carslaw dan Kaplan (1991) menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara opini auditor dengan audit delay. Perusahaan yang tidak menerima jenis pendapat akuntan unqualified opinion akan menunjukkan audit delay lebih panjang dibanding dengan perusahaan yang menerima opini unqualified opinion.<br />
Hal ini terjadi karena proses pemberian pendapat selain wajar tanpa pengecualian melibatkan negosiasi dengan klien, konsultasi dengan partner audit yang lebih senior atau staf teknis lainnya, dan perluasan lingkup audit (Elliot 1982 dala Halim 2000). Selain itu, perusahaan yang menerima opini selain unqualified opinion dianggap sebagai berita buruk sehingga penyampaian laporan keuangan akan diperlambat (Wirakusuma, 2004).<br />
Berdasarkan uraian diatas,maka hipotesis yang dapat disusun adalah sebagai berikut :<br />
H3 : Opini auditor berpengaruh terhadap audit delay.<br />
Tingkat Profitabilitas<br />
Profitabilitas sering digunakan sebagai pengukur kinerja manajemen serta efisiensi penggunaan modal kerja sehingga dapat menghasilkan laba bagi perusahaan. Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan (profitabilitas) pada tingkat penjualan, aset, dan modal saham tertentu (Hanafi dan Halim, 2003:85). Semakin tinggi profitabilitas maka semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba bagi perusahaan. Tingkat profitabilitas diperkirakan mempengaruhi audit delay dan timeliness.<br />
Menurut Givoly &amp; Palmon (1982), ketepatan waktu dan keterlambatan pengumuman laba tahunan dipengaruhi oleh isi laporan keuangan. Jika pengumuman laba berisi berita baik maka pihak manajemen akan cenderung melaporkan tepat waktu dan jika pengumuman laba berisi berita buruk, maka pihak manajemen cenderung melaporkan tidak tepat waktu. Carslaw &amp; Kaplan (1991) menyatakan bahwa perusahaan yang mengalami rugi cenderung memerlukan auditor untuk memulai proses pengauditan lebih lambat dari biasanya. Oleh karena hal tersebut, maka akan terjadi pula keterlambatan dalam menyampaikan kabar buruk kepada publik.<br />
Perusahaan yang memiliki tingkat profitabilitas yang lebih tinggi membutuhkan waktu dalam pengauditan laporan keuangan lebih cepat dikarenakan keharusan untuk menyampaikan kabar baik secepatnya kepada publik. Mereka juga memberikan alasan bahwa auditor yang menghadapi perusahaan yang mengalami kerugian memiliki respon yang cenderung lebih berhati-hati dalam melakukan proses pengauditan.<br />
Dari uraian diatas, tampak bahwa tingkat profitabilitas suatu perusahaan mempengaruhi rentang waktu penyelesaian audit dan pengumuman laporan keuangan tahunan.<br />
Berdasarkan uraian diatas,maka hipotesis yang dapat disusun adalah sebagai berikut :<br />
H4 : Tingkat profitabilitas berpengaruh terhadap audit delay.<br />
Reputasi Auditor<br />
Dalam menyampaikan suatu laporan atau informasi akan kinerja perusahaan kepada publik yang akurat dan terpercaya, perusahaan diminta untuk menggunakan jasa KAP. Dan untuk meningkatkan kredibilitas dari laporan itu, perusahaan menggunakan jasa KAP yang mempunyai reputasi atau nama baik. Hal ini biasanya ditunjukkan dengan KAP yang berafiliasi dengan KAP besar yang berlaku universal yang dikenal dengan Big Four Worldwide Accounting Firm atau Big Four (Hilmi dan Ali, 2008).<br />
Hasil penelitian Ashton, et al., Schwartz dan Soo (dalam Utami, 2006), menemukan bahwa audit delay akan lebih pendek bagi perusahaan yang diaudit oleh KAP yang tergolong besar. Hasil tersebut juga diperkuat dengan hasil penelitian Ahmad dan Kamarudin (2003) yaitu bahwa audit delay pada KAP Big Four akan lebih pendek dibandingkan dengan audit delay pada KAP kecil.<br />
Hal ini diasumsikan karena KAP besar memiliki karyawan dalam jumlah yang besar, dapat mengaudit lebih efisien dan efektif, memiliki jadwal yang fleksibel sehingga memungkinkannya untuk menyelesaikan audit tepat waktu, dan memiliki dorongan yang lebih kuat untuk menyelesaikan auditnya lebih cepat, guna menjaga reputasinya. Maka dapat disimpulkan bahwa perusahaan yang memakai jasa KAP besar cenderung tepat waktu dalam menyampaikan laporan keuangannya.<br />
Berdasarkan uraian diatas,maka hipotesis yang dapat disusun adalah sebagai berikut :<br />
H5: Reputasi auditor berpengaruh terhadap audit delay.</p>
<p>METODE PENELITIAN<br />
Pemilihan Sampel dan Pengolahan Data<br />
Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan LQ 45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2008 sampai 2011. Sampel dalam penelitian ini dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 23 perusahaan untuk masing-masing periode. Jumlah data dalam penelitian ini adalah sebanyak 92 perusahaan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berbentuk laporan keuangan yang ada di Bursa Efek Indonesia dan laporan opini auditor independen. Semua data tersebut diperoleh dari halaman web (website) resmi Bursa Efek Indonesia http://www.idx.co.id.<br />
Variabel Penelitian dan Definisi Operasional<br />
Variabel independen terdiri dari lima variabel yaitu ukuran perusahaan, laba/rugi operasi, opini auditor, tingkat profitabilitas, dan reputasi auditor. Untuk variabel dependen hanya satu yaitu audit delay.<br />
1. Audit Delay<br />
Audit delay diukur secara kuantitatif dalam jumlah hari, yaitu jangka waktu antara tanggal penutupan tahun buku hingga tanggal yang tertera pada laporan auditor independen. Sebagai contoh, laporan keuangan perusahaan periode 2008 dengan tanggal tutup buku 31 Desember 2008 mempunyai laporan auditor dengan tanggal 21 Maret 2009. Dengan demikian audit delay pada perusahaan tersebut selama 80 hari.<br />
2. Ukuran Perusahaan<br />
Penelitian ini menggunakan total asset yang kemudian diproksi dengan menggunakan natural log (Ln) sebagai tolak ukur skala perusahaan.<br />
3. Laba/Rugi Operasi<br />
Variabel ini diukur dengan menggunakan dummy yaitu untuk perusahaan yang mengalami laba diberi kode dummy 1, sedangkan yang mengalami rugi diberi kode dummy 0.<br />
4. Opini Auditor<br />
Penelitian ini menggunakan dua klasifikasi pendapat auditor, yaitu wajar tanpa pengecualian (Unqualified OpinionI) dengan kode dummy 1 dan selain wajar tanpa pengecualian (Qualified Opinion) dengan kode dummy 0.<br />
5. Tingkat Profitabilitas<br />
Penelitian ini menggunakan ROA (Return On Asset) yaitu laba bersih dibagi dengan total aset. Perusahaan dengan tingkat profitabilitas tinggi diduga akan menyelesaikan audit lebih cepat dibandingkan perusahaan dengan tingkat profitabilitas rendah.<br />
6. Reputasi Auditor<br />
Variabel ini diukur dengan menggunakan dummy yaitu untuk KAP yang berafiliasi dengan Big Four diberi kode dummy 1, sedangkan KAP yang tidak berafiliasi dengan Big Four diberi kode dummy 0.<br />
Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis<br />
A. Analisis Statistik Deskriptif<br />
Penelitian ini menggunakan analisis statistik deskriptif, yaitu untuk mengukur variabel penelitian dengan mean (rata-rata), nilai minimum dan maksimum, dan standar deviasi setiap variabel penelitian. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan software SPSS 17.<br />
B.  Uji Asumsi Klasik<br />
1. Uji Linearitas<br />
Uji linearitas bertujuan untuk mengetahui apakah hubungan antarvariabel yang hendak dianalisis sesuai dengan garis linear atau tidak. Pada uji linearitas, pengambilan keputusan didasarkan dengan melihat nilai signifikan pada Deviation from Linearity. Apabila nilai signifikan &gt; 0.05, maka hubungan antarvariabel adalah linear. Sebaliknya, apabila nilai signifikan  0.05, maka distribusi data normal, sebaliknya apabila nilai signifikan &lt; 0.05, maka distribusi data tidak normal.<br />
3. Uji Multikolinearitas<br />
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Dalam melakukan pengujian terhadap multikolinearitas, dapat menggunakan nilai tolerance dan lawannya Variance Inflation Factor (VIF). Jika nilai tolerance di atas 0.10 dan VIF di bawah 10, maka dapat disimpulkan bahwa model regresi bebas dari multikolinearitas.<br />
4. Uji Auto Korelasi<br />
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi linier terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Uji autokorelasi dapat menggunakan uji Durbin-Watson. Model regresi yang bebas dari autokorelasi adalah jika nilai Durbin-Watson, berada diantara nilai batas atas (dU) dengan 4-dU. Ketentuan yang digunakan dalam uji Durbin-Watson adalah sebagai berikut:<br />
1)  dW &lt; dL, berarti ada autokorelasi positif<br />
2)  dL&lt; dW &lt; dU, tidak dapat disimpulkan<br />
3)  dU &lt; dW &lt; 4-dU, berarti tidak terjadi autokorelasi.<br />
4)  4-dU &lt; dW  4-dL, berarti ada autokorelasi negatif<br />
5. Uji Heterokedastisitas<br />
Uji Heteroskedastisitas digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi yang digunakan terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Apabila residual variance dari suatu pengamatan ke pengamatan yang lain berbeda, maka disebut heteroskedastisitas, sebaliknya jika variance dari suatu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homokedastisitas.<br />
C. Uji Hipotesis<br />
1. Uji Regresi Variabel Dummy<br />
Tujuan dari uji regresi variabel dummy dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan linier antara variabel independen berskala nominal terhadap variabel dependen berskala interval. Pengujian dilakukan dengan menggunakan angka signifikansi dengan ketentuan apabila nilai signifikansi &gt; 0.05, maka ada hubungan linier antara variabel independen terhadap variabel dependen. Sebaliknya, apabila nilai signifikansi &lt; 0.05 maka tidak ada hubungan linier antara variabel independen terhadap variabel dependen.<br />
2. Uji Regresi Linier Berganda<br />
Model regresi linier berganda yang digunakan untuk menguji hipotesis dalam<br />
penelitian ini adalah sebagai berikut:<br />
Y= α + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4 X4 + β5 X5 + e<br />
Keterangan :<br />
Y = Audit Delay (AUDLY)<br />
X1 = Ukuran Perusahaan (SIZE) X2 = Laba/Rugi Operasi (PROFIT) X3 = Profitabilitas (ROA)<br />
X4 = Opini Auditor (OPINI) X5 = Reputasi Auditor (REP)<br />
β = Koefisien Regresi X1, X2, X3, X4, X5<br />
α = Konstanta<br />
e = Koefisien variabel lain yang belum diteliti<br />
3. Uji Parsial (Uji t)<br />
Uji t digunakan untuk menguji ada atau tidaknya pengaruh dari variabel bebas (independent) terhadap variabel terikat (dependent) secara individu (parsial).<br />
Jika sign t  0.05 maka suatu variabel bebas secara individu tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat.<br />
4. Uji Simultan (Uji F)<br />
Uji F digunakan untuk mengetahui pengaruh secara kesuluruhan (simultan) variabel bebas terhadap variabel terikat. Jika tingkat signifikan F dari hasil pengujian lebih kecil dari 0.05, maka variabel independen secara serentak berpengaruh terhadap audit delay.</p>
<p>PEMBAHASAN<br />
A. Analisis Statistik Deskriptif<br />
Hasil analisis statistik deskriptif yang berisi nilai maksimum, minimum, mean, dan standar deviasi dapat dilihat pada tabel 1.<br />
Tabel 1<br />
Statistik Deskriptif Variabel Penelitian Descriptive Statistics</p>
<p> 	 	 	 	N<br />
Minimum</p>
<p>Maximum</p>
<p>Mean</p>
<p>Std. Deviation</p>
<p> 	AUDLY<br />
92</p>
<p>25</p>
<p>131</p>
<p>67.97</p>
<p>21.095</p>
<p> 	SIZE<br />
92</p>
<p>15.36</p>
<p>20.13</p>
<p>17.1768</p>
<p>1.39361</p>
<p> 	ROA<br />
92</p>
<p>-62.38</p>
<p>40.67</p>
<p>9.9568</p>
<p>13.96580</p>
<p> 	Valid N (listwise)<br />
92</p>
<p> Sumber : Data diolah dengan SPSS 17</p>
<p>Berdasarkan tabel diatas maka dapat diketahui bahwa variabel audit delay memiliki rata-rata 67.97 hari dengan nilai minimum 25 hari pada Lippo Karawaci Tbk pada tahun 2010, nilai maksimum 131 hari pada Telekomunikasi Indonesia Tbk pada tahun 2008, dan standar deviasi sebesar 21.095 &lt; nilai rata-rata 67.97 menandakan perbedaan lamanya audit delay antar perusahaan adalah kecil.<br />
Variabel ukuran perusahaan (SIZE) memiliki rata-rata 17.1768 dengan nilai minimum 15.36, nilai maksimum 20.13, dan standar deviasi 1.39361  nilai rata-rata 9.9568 menandakan perbedaan profit antar perusahaan adalah besar.<br />
B.  Uji Asumsi Klasik<br />
1. Hasil Uji Linearitas<br />
Dalam uji linearitas ini, hanya ada 2 variabel saja yang dapat diuji terhadap variabel AUDLY, yaitu variabel SIZE dan variabel ROA.<br />
Tabel 2<br />
Hasil Uji Linearitas AUDLY*SIZE ANOVA Table</p>
<p>Sum of<br />
 	 	 	 	 	 	Mean	 	 	 	 	 	 	 </p>
<p>Squares<br />
 	 	df	 	 	Square<br />
F</p>
<p>Sig.</p>
<p> 	AUDLY *	 	Between	 	 	(Combined)<br />
37512.236</p>
<p>83<br />
 	 	451.955<br />
1.212</p>
<p>.417</p>
<p> 	SIZE	 	Groups<br />
 	 	 	 	 	 	Linearity<br />
254.399</p>
<p>1<br />
 	 	 	254.399<br />
.682</p>
<p>.433</p>
<p>Deviation from<br />
37257.837<br />
82<br />
454.364<br />
1.219<br />
.413<br />
Linearity	 	 	 	 	 </p>
<p> 	Within Groups<br />
2982.667</p>
<p>8</p>
<p>372.833</p>
<p> 	Total<br />
40494.902</p>
<p>91</p>
<p>Sumber : Data diolah dengan SPSS 17</p>
<p>Tabel 2 menunjukkan bahwa nilai signifikan dari Deviation from Linearity adalah sebesar 0.413 yang berada diatas 0.05. Hal tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara variabel AUDLY dan variabel SIZE adalah linear.</p>
<p>Tabel 3<br />
Hasil Uji Linearitas AUDLY*ROA ANOVA Table</p>
<p>Sum of</p>
<p>Mean</p>
<p>Squares</p>
<p>df</p>
<p>Square</p>
<p>F</p>
<p>Sig.</p>
<p> 	AUDLY *	 	 	Between	 	(Combined)<br />
40494.402</p>
<p>90</p>
<p>449.938</p>
<p>899.876</p>
<p>.027</p>
<p> 	ROA	 	 	Groups	 	 	 	 	 	 	 	 	 	 	 	 	 	 	 	 	 	 	 	 </p>
<p> 	 	 	 	 	 	 	Linearity<br />
473.056</p>
<p>1</p>
<p>473.056</p>
<p>946.112</p>
<p>.021</p>
<p> 	 	 	 	 	 	 	Deviation from<br />
40021.346</p>
<p>89</p>
<p>449.678</p>
<p>899.356</p>
<p>.027</p>
<p> 	 	 	 	 	 	 	Linearity	 	 	 	 	 	 	 	 	 	 	 	 	 	 	 	 	 </p>
<p> 	 	 	 	Within Groups<br />
.500</p>
<p>1</p>
<p>.500</p>
<p> 	 	 	 	Total<br />
40494.902</p>
<p>91</p>
<p>Sumber : Data diolah dengan SPSS 17</p>
<p>Tabel 3 menunjukkan bahwa nilai signifikan dari Deviation from Linearity adalah sebesar 0.027 yang berada dibawah 0.05. Hal tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara variabel AUDLY dan variabel ROA tidak linear.<br />
2.  Hasil Uji Normalitas<br />
Tabel 4 Hasil Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test</p>
<p>Zscore:  AUDLY</p>
<p> 	N<br />
92</p>
<p> 	Normal Parametersa,,b	 	 	Mean<br />
.0000000</p>
<p> 	 	 	 	 	Std. Deviation<br />
1.00000000</p>
<p> 	Most Extreme Differences	 	 	 	Absolute<br />
.109</p>
<p> 	 	 	 	 	Positive<br />
.094</p>
<p> 	 	 	 	 	Negative<br />
-.109</p>
<p> 	Kolmogorov-Smirnov Z<br />
1.044</p>
<p> 	Asymp. Sig. (2-tailed)<br />
.226</p>
<p>a. Test distribution is Normal.<br />
b. Calculated from data.<br />
Sumber : Data diolah dengan SPSS 17<br />
Tabel 4 menunjukan bahwa nilai signifikan adalah sebesar 0.226 yang berada di atas 0.05. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam model regresi, data terdistribusi secara normal.<br />
3.  Hasil Uji Multikolinearitas<br />
Tabel 5<br />
Hasil Uji Multikolinearitas Coefficientsa</p>
<p>Collinearity Statistics</p>
<p>Model<br />
Tolerance</p>
<p>VIF</p>
<p>1	 	SIZE<br />
.550</p>
<p>1.818</p>
<p> 	 	PROFIT<br />
.600</p>
<p>1.666</p>
<p> 	 	OPINI<br />
.611</p>
<p>1.636</p>
<p> 	 	ROA<br />
.376</p>
<p>2.660</p>
<p> 	 	REP<br />
.362</p>
<p>2.761</p>
<p>a. Dependent Variable: AUDLY<br />
Sumber : Data diolah dengan SPSS 17<br />
Tabel 5 menunjukan bahwa seluruh variabel independen memiliki nilai tolerance di atas 0.10, dan seluruh variabel memiliki nilai Variance Inflation Factor (VIF) di bawah 10. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam model regresi, tidak terjadi multikolinearitas antar variabel independen.<br />
4.  Hasil Uji Autokorelasi<br />
Tabel 6<br />
Hasil Uji Autokorelasi Model Summaryb</p>
<p>Adjusted R</p>
<p>Std. Error of the</p>
<p> 	Model	 	R<br />
R Square</p>
<p>Square</p>
<p>Estimate</p>
<p>Durbin-Watson</p>
<p> 	1	 	.453a<br />
.205</p>
<p>.163</p>
<p>22.887</p>
<p>1.827</p>
<p>a. Predictors: (Constant), REP, SIZE, PROFIT, OPINI, ROA<br />
b. Dependent Variable: AUDLY<br />
Tabel 6 menunjukkan bahwa nilai Durbin-Watson (dW) sebesar 1.827 (mendekati 2) terletak diantara nilai batas atas (dU) dengan 4-dU. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam model regresi tidak terjadi autokorelasi antara variable independen.<br />
5.  Hasil Uji Heterokedastisitas<br />
Menunjukkan bahwa pada grafik scatterplot terdapat titik-titik yang menyebar dan tidak membentuk pola tertentu. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam model regresi tidak terjadi adanya heterokedastisitas.<br />
C.  Uji Hipotesis<br />
 1.  Analisis Regresi Variabel Dummy<br />
Tabel 7<br />
Hasil Analisis Regresi Varibel Dummy ANOVAb</p>
<p> 	Model<br />
Sum of Squares<br />
 	 	df<br />
Mean Square</p>
<p>F<br />
 	 	Sig.	 </p>
<p> 	1	 	Regression<br />
2754.202</p>
<p>3</p>
<p>918.067</p>
<p>4.141<br />
 	 	.041a	 </p>
<p> 	 	 	Residual<br />
37740.700</p>
<p>88</p>
<p>428.872</p>
<p> 	 	 	Total<br />
40494.902</p>
<p>91</p>
<p>Predictors: (Constant), REP, PROFIT, OPINI<br />
Dependent Variable: AUDLY<br />
Sumber : Data diolah dengan SPSS 17<br />
Tabel 7 menunjukkan nilai signifikan yang diperoleh sebesar 0.041 yang berada dibawah 0.05. Artinya, ada hubungan linier antara variabel independen dengan variabel dependen.<br />
2. Analisis Regresi Linier Berganda<br />
Tabel 8<br />
Hasil Analisis Regresi Linier Berganda Coefficientsa</p>
<p>Standardized</p>
<p>Unstandardized Coefficients</p>
<p>Coefficients</p>
<p>Model<br />
B</p>
<p>Std. Error</p>
<p>Beta</p>
<p>t</p>
<p>Sig.</p>
<p>1	 	 	(Constant)<br />
32.579</p>
<p>33.800</p>
<p>.964</p>
<p>.338</p>
<p> 	 	 	SIZE<br />
3.793</p>
<p>2.083</p>
<p>.251</p>
<p>1.925</p>
<p>.028</p>
<p> 	 	 	PROFIT<br />
-21.320</p>
<p>11.195</p>
<p>-.251</p>
<p>-1.939</p>
<p>.036</p>
<p> 	 	 	OPINI<br />
-7.355</p>
<p>8.443</p>
<p>-.114</p>
<p>-1.971</p>
<p>.049</p>
<p> 	 	 	ROA<br />
.369</p>
<p>.251</p>
<p>.244</p>
<p>1.466</p>
<p>.146</p>
<p> 	 	 	REP<br />
-8.986</p>
<p>8.627</p>
<p>-.177</p>
<p>-1.766</p>
<p>.081</p>
<p>a. Dependent Variable: AUDLY<br />
Sumber : Data diolah dengan SPSS 17<br />
Berdasarkan hasil analisis di atas, dapat dibuat model persamaan regresi berganda sebagai berikut:<br />
AUDLY = 32.579 + Ln 3.793SIZE – 21.320PROFIT – 7.355OPINI + 0.369ROA – 8.986REP<br />
Dari hasil persamaan regresi linier berganda, dapat dijelaskan bahwa:<br />
1. Nilai α (kostanta) adalah positif sebesar 32.579, artinya apabila seluruh variabel independen (SIZE, PROFIT, OPINI, ROA, REP) dianggap konstan, maka audit delay yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang diteliti adalah sebesar 32.579 hari.<br />
2. Koefisien ukuran perusahaan (SIZE) adalah sebesar 3.793, artinya apabila total aset mengalami kenaikan sebesar 1 satuan, sedangkan variabel independen lain (PROFIT, OPINI, ROA, REP) dianggap konstan, maka audit delay yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang diteliti akan bertambah sebesar 3.793 hari.<br />
3. Koefisien laba/rugi operasi (PROFIT) adalah negatif sebesar -21.320 yang berarti bahwa untuk perusahaan yang mengalami laba mempunyai waktu audit yang lebih cepat 21.320 hari dibandingkan perusahaan yang mengalami kerugian. Variabel laba/rugi operasi adalah variabel dummy, dimana perusahaan yang mendapat laba diberi nilai 1 dan perusahaan yang mengalami rugi diberi nilai 0. Dengan kata lain bahwa perusahaan yang mengalami laba akan melakukan proses audit yang lebih cepat dibandingkan perusahaan yang mengalami rugi.<br />
4. Koefisien opini auditor (OPINI) adalah negatif sebesar -7.355 yang berarti bahwa untuk perusahaan yang mendapatkan unqualified opinion mempunyai waktu audit yang lebih cepat 7.355 hari dibandingkan perusahaan yang mendapatkan qualified opinion. Variabel opini auditor adalah variabel dummy, dimana perusahaan yang mendapatkan unqualified opinion diberi nilai 1 dan perusahaan yang mendapatkan qualified opinion diberi nilai 0. Dengan kata lain bahwa perusahaan yang mendapatkan unqualified opinion akan melakukan proses audit yang lebih cepat dibandingkan perusahaan yang mendapatkan qualified opinion.<br />
5. Koefisien tingkat profitabilitas (ROA) adalah positif sebesar 0.369, artinya apabila ROA mengalami kenaikan 1 satuan, sedangkan variabel independen lain (SIZE, PROFIT, OPINI, REP) dianggap konstan, maka audit delay yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang diteliti akan bertambah sebesar 0.369 hari.<br />
6. Koefisien reputasi auditor (REP) adalah negatif sebesar -8.986 yang berarti bahwa untuk perusahaan yang menggunakan jasa auditor yang berafiliasi dengan Big Four mempunyai waktu audit yang lebih cepat sebesar 8.986 hari dibandingkan perusahaan yang tidak menggunakan jasa auditor yang berafiliasi dengan Big Four. Variabel reputasi auditor adalah variabel dummy, dimana perusahaan yang menggunakan jasa KAP kelompok Big Four diberi nilai 1 dan perusahaan yang tidak menggunakan jasa KAP kelompok Big Four diberi nilai 0. Dengan kata lain bahwa perusahaan yang menggunakan jasa auditor yang berafiliasi dengan Big Four akan melakukan proses audit yang lebih cepat dibandingkan perusahaan yang tidak menggunakan jasa auditor yang berafiliasi dengan Big Four.<br />
3. Hasil Uji t<br />
Ø Hipotesis 1<br />
Ho1: Tidak terdapat pengaruh ukuran perusahaan secara parsial terhadap audit delay.<br />
Ha1: Terdapat pengaruh ukuran perusahaan secara parsial terhadap audit delay.<br />
Nilai signifikan untuk variabel ukuran perusahaan (SIZE) adalah 0.028 berada kurang dari 0.05, sehingga dalam penelitian ini menolak Ho1, dan menerima Ha1, hal tersebut menunjukkan bahwa variabel ukuran perusahaan (SIZE) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap audit delay.<br />
Ø Hipotesis 2<br />
Ho2: Tidak terdapat pengaruh laba/rugi operasi secara parsial terhadap audit delay.<br />
Ha2: Terdapat pengaruh laba/rugi operasi secara parsial terhadap audit delay.<br />
Nilai signifikan untuk variabel laba/rugi operasi (PROFIT) adalah 0.036 berada kurang dari 0.05, sehingga dalam penelitian ini menolak Ho2, dan menerima Ha2, hal tersebut menunjukkan bahwa variabel laba/rugi operasi (PROFIT) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap audit delay.<br />
Ø Hipotesis 3<br />
Ho3: Tidak terdapat pengaruh opini auditor secara parsial terhadap audit delay.<br />
Ha3:   Terdapat  pengaruh  opini  auditor  secara  parsial  terhadap  audit delay.<br />
Nilai signifikan untuk variabel opini auditor (OPINI) adalah 0.049 berada kurang dari 0.05, sehingga dalam penelitian ini menolak Ho3, dan menerima Ha3, hal tersebut menunjukkan bahwa variabel opini auditor (OPINI) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap audit delay.<br />
Ø Hipotesis 4<br />
Ho4: Tidak terdapat pengaruh tingkat profitabilitas secara parsial terhadap audit delay.<br />
Ha4: Terdapat pengaruh tingkat profitabilitas secara parsial terhadap audit delay.<br />
Nilai signifikan untuk variabel tingkat profitabilitas (ROA) adalah 0.146 berada lebih dari 0.05, sehingga dalam penelitian ini menolak Ha4, dan menerima Ho4, hal tersebut menunjukkan bahwa variabel tingkat profitabilitas (ROA) secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap audit delay.<br />
Ø Hipotesis 5<br />
Ho5: Tidak terdapat pengaruh reputasi auditor secara parsial terhadap audit delay.<br />
Ha5: Terdapat pengaruh reputasi auditor secara parsial terhadap audit delay.<br />
Nilai signifikan untuk variabel reputasi auditor (REP) adalah 0.081 berada lebih dari 0.05, sehingga dalam penelitian ini menolak Ha5, dan menerima Ho5, hal tersebut menunjukkan bahwa variabel reputasi auditor (REP) secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap audit delay.<br />
4.  Hasil Uji F<br />
Tabel 9<br />
Hasil Uji F (Uji Simultan) ANOVAb</p>
<p> 	Model<br />
Sum of Squares<br />
 	 	df<br />
Mean Square</p>
<p>F<br />
 	 	Sig.	 	 </p>
<p> 	1	 	 	Regression<br />
3898.461</p>
<p>4</p>
<p>974.615</p>
<p>2.317<br />
 	 	.003a	 </p>
<p> 	 	 	 	Residual<br />
36596.441</p>
<p>87</p>
<p>420.649</p>
<p> 	 	 	 	Total<br />
40494.902</p>
<p>91</p>
<p>Predictors: (Constant), REP, SIZE, PROFIT, OPINI, ROA<br />
Dependent Variable: Audit Delay<br />
Sumber : Data diolah dengan SPSS 17<br />
Berdasarkan tabel 9 dapat dilihat bahwa:<br />
Ho6: Tidak terdapat pengaruh ukuran perusahaan, laba/rugi operasi, opini auditor, tingkat profitabilitas, dan reputasi auditor secara simultan terhadap audit delay.<br />
Ha6: Terdapat ukuran perusahaan, laba/rugi operasi, opini auditor, tingkat profitabilitas, dan reputasi auditor secara simultan terhadap audit delay.<br />
Nilai signifikan adalah 0.003 berada kurang dari 0.05, sehingga dalam penelitian ini menolak Ho6, dan menerima Ha6, yang berati bahwa terdapat pengaruh dari variabel bebas (SIZE, PROFIT, OPINI, ROA, REP) secara simultan terhadap audit delay.<br />
5. Pembahasan<br />
Berdasarkan penelitian ini tentang audit delay pada perusahaan LQ 45 tahun 2008-2011 dengan pengukuran terhadap faktor internal (ukuran perusahaan, laba/rugi operasi, tingkat profitabilitas), dan faktor eksternal (opini auditor, reputasi auditor), dengan menggunakan analisis regresi berganda, diperoleh hasil penelitian sebagai berikut:<br />
1. Audit delay yang terjadi pada perusahaan LQ 45 selama tahun 2008-2011, rata-rata 67.97 hari, nilai minimum sebesar 25 hari dimana laporan audit Lippo Karawaci Tbk tahun 2010 selesai pada tanggal 25 Januari 2011, dan nilai maksimum sebesar 131 hari dimana laporan audit Telekomunikasi Indonesia Tbk tahun 2008 selesai pada tanggal 11 Mei 2009 . Pada perusahaan LQ 45 ukuran perusahaan tahun 2008-2011, rata-rata Ln total aset sebesar 17,1768 atau sebesar Rp 1,867,753,280 (dalam jutaan rupiah), nilai minimum sebesar 15.36 atau sebesar Rp 4,700,318 (dalam jutaan rupiah), dan nilai maksimum sebesar 20,13 atau sebesar Rp 551,891,704 (dalam jutaan rupiah). Laba/rugi operasi dalam perusahaan LQ 45 tahun 2008-1011, diketahui bahwa perusahaan yang mengalami laba adalah sebesar 93.5%, sedangkan perusahaan yang mengalami kerugian sebesar 6.5%. Opini auditor yang dihasilkan pada perusahaan LQ 45 tahun 2008-2011, diketahui bahwa perusahaan yang mendapatkan unqualified opinion sebesar 88%, sedangkan perusahaan yang mendapatkan qualified opinion sebesar 12%. Tingkat profitabilitas dalam perusahaan LQ 45 tahun 2008-2001 yang diukur dengan ROA menunjukkan rata-rata ROA sebesar 9.9568, nilai minimum sebesar -62.38, dan nilai maksimumsebesar 40.67. Reputasi auditor yang digunakan oleh perusahaan LQ 45 tahun 2008-2011, diketahui bahwa perusahaan yang menggunakan jasa auditor independen yang berafiliasi dengan Big Four adalah sebesar 78.3%, sedangkan perusahaan yang menggunakan jasa auditor independen yang tidak berafiliasi dengan Big Four adalah sebesar 21.7%.<br />
2. Faktor Internal (Ukuran Perusahaan, Laba/Rugi Operasi, Tingkat Profitabilitas)<br />
Ukuran Perusahaan<br />
Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda dan uji hipotesis 1. Ukuran perusahaan memiliki pengaruh positif dan secara parsial berpengaruh signifikan terhadap audit delay, hal tersebut diketahui dengan melihat nilai signifikan 0.028 berada kurang dari 0.05. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Kartika (2009). Namun hasil penelitian ini bertolak belakang dengan hasil penelitian Subagyo (2009).<br />
Diperkirakan ukuran perusahaan berpengaruh terhadap audit delay, disebabkan perusahaan berskala besar cenderung menghadapi tekanan eksternal yang lebih tinggi untuk segera menyampaikan laporan keuangan, hal tersebut dikarenakan perusahaan besar tersebut dimonitor secara ketat oleh investor, pengawas permodalan, dan pemerintah. Selain itu berdasarkan penelitian Ashton dan Elliot (1987) menunjukkan bahwa faktor aktiva memiliki pengaruh besar terhadap audit delay hal tersebut dikarenakan faktor ukuran perusahaan menggunakan total aktiva dalam kegiatan operasional perusahaan. Pengaruh ini ditunjukkan dengan semakin besar nilai aktiva perusahaan, maka semakin pendek audit delay.<br />
Laba/Rugi Operasi<br />
Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda dan uji hipotesis 2, laba/rugi operasi (PROFIT) memiliki pengaruh negatif, namun secara parsial berpengaruh signifikan terhadap audit delay, hal tesebut diketahui dengan melihat nilai signifikan0.036 berada kurang dari 0.05. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Kartika (2009) karena jika perusahaan mendapatkan laba yang tinggi, maka tidak ada alasan bagi perusahaan untuk menunda penerbitan laporan keuangan auditannya. Alasan lain adalah karena informasi laba perusahaan dapat digunakan sebagai pengukur prestasi manajemen, dan juga sebagai indikator efisiensi penggunaan dana yang tertanam dalam perusahaan yang diwujudkan dengan tingkat pengembalian. Jadi, semakin laba suatu operasi perusahaan, maka audit delay-nya semakin pendek. Namun hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian Imam Subekti (2006), yang berhasil membuktikan bahwa laba/rugi operasi secara signifikan tidak berpengaruh terhadap audit delay. Hal ini berkaitan dengan ketidakstabilan kondisi ekonomi saat ini, dimana kebanyakan perusahaan yang mengalami kerugian diabaikan dalam pelaporan keuangannya karena kerugian dianggap sebagai hal yang biasa.<br />
Tingkat Profitabilitas<br />
Berdasarkan  hasil  analisis  regresi  linier  berganda  dan  uji  hipotesis  4.<br />
Profitabilitas (ROA) memiliki pengaruh positif, namun secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap audit delay, hal tersebut diketahui dengan melihat nilai signifikan 0.146 berada lebih dari 0.05. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Kartika (2009). Pada penelitian ini profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap audit delay, hal tersebut dapat dikarenakan proses audit perusahaan yang memiliki tingkat keuntungan kecil tidak berbeda dengan proses audit yang dilakukan oleh perusahaan dengan tingkat keuntungan yang besar, dimana baik perusahaan yang mengalami tingkat keuntungan besar ataupun kecil akan cenderung mempercepat proses audit.<br />
3. Faktor Eksternal (Opini Auditor, Reputasi Auditor)<br />
a. Opini Auditor<br />
Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda dan uji hipotesis 3. Opini auditor memiliki pengaruh negatif, namun secara parsial berpengaruh signifikan terhadap audit delay, hal tersebut diketahui dengan melihat nilai signifikan 0.049 berada kurang dari 0.05. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Kartika (2009), karena perusahaan yang menerima unqualified opinion cenderung tepat waktu di dalam penerbitan laporan keuangan audit karena hal tesebut dianggap good news sehingga perusahaan tidak akan menunda publikasi laporan keuangannya. Sebaliknya, perusahaan yang mendapatkan qualified opinion akan menunjukkan audit delay lebih lama karena proses pemberian opini auditor melibatkan negosiasi dengan klien, konsultasi dengan partner audit yang lebih senior dan perluasan ruang lingkup.<br />
b.  Reputasi Auditor<br />
Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda dan uji hipotesis 5. Reputasi auditor memiliki pengaruh negatif, namun secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap audit delay, hal tersebut diketahui dengan melihat nilai signifikan 0.081 berada lebih dari 0.05. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Kartika (2009). Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Subekti (2005), bahwa audit delay dipengaruhi secara signifikan oleh ukuran KAP. Perusahaan yang menggunakan jasa auditor independen yang berafiliasi dengan Big Four membutuhkan waktu audit yang lebih singkat, dibandingkan dengan perusahaan yang menggunakan jasa auditor independen yang tidak berafiliasi dengan Big Four. Namun penelitian ini menghasilkan bahwa reputasi auditor tidak berpengaruh signifikan terhadap audit delay, hal ini bisa disebabkan baik KAP yang berafiliasi dengan Big Four ataupun KAP yang tidak berfiliasi dengan Big Four ingin memberikan pelayanan jasa audit yang semakin baik. Seperti yang terdapat dalam penelitian Subagyo (2009) bahwa KAP Non The Big Four sudah meningkatkan jumlah sumber daya manusianya dan sudah meningkatkan kinerjanya dalam melaksanakan perencanaan waktu penyelesaian audit.<br />
Secara simultan seluruh variabel, baik faktor internal (ukuran perusahaan, laba/rugi operasi, tingkat profitabilitas), dan faktor eksternal (opini auditor, reputasi auditor), berpengaruh signifikan terhadap audit delay, hal tersebut diketahui dengan melihat nilai signifikan 0.03 berada kurang dari 0.05.</p>
<p>KESIMPULAN DAN SARAN<br />
Kesimpulan<br />
Berdasarkan hasil uji t (parsial) dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara Ukuran Perusahaan, Laba/Rugi Operasi, dan Opini Auditor terhadap audit delay. Sedangkan berdasarkan hasil uji F (simultan), semua variabel independen yaitu Ukuran Perusahaan, Laba/Rugi Operasi, Opini Auditor, Tingkat Profitabilitas, dan Reputasi Auditor secara bersama-sama berpengaruh terhadap audit delay.<br />
Saran<br />
1. Bagi Perusahaan<br />
Perusahaan diharapkan mampu memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi audit delay sehingga tidak terjadi keterlambatan. Pemilihan Manajemen Perusahaan harus mampu mengefektifkan kinerja keuangan maupun non keuangannnya sehingga dapat mencapai tujuan perusahan dengan efektif dan efisien.<br />
2. Bagi Penelitian Lanjutan<br />
Peneliti menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu peneliti memberikan saran untuk penelitian selanjutnya sebaiknya periode penelitian yang digunakan ditambah sehingga menghasilkan informasi yang lebih mendukung. Jumlah sampel yang digunakan dapat ditambah dan dapat diperluas ke beberapa sektor perusahaan. Variabel yang digunakan dapat ditambah dengan variabel-variabel lain diluar variabel yang telah digunakan dalam penelitian ini. Sehingga dapat lebih menambah pemahaman mengenai audit delay di Indonesia.<br />
Implikasi<br />
Implikasi dari hasil penelitian ini, yaitu:<br />
1. Penelitian ini dapat menjadi bahan referensi bagi penulisan selanjutnya yang berhubungan dengan audit delay.<br />
2. Penelitian ini dapat memberikan informasi bagi pemakai laporan keuangan dalam rangka membantu pengambilan keputusan.<br />
3. Penelitian ini dapat menjadi informasi bagi auditor, tentang faktor-faktor yang mempengaruhi audit delay. Auditor independen dapat memberikan informasi kepada perusahaan tentang faktor yang mempengaruhi audit delay, sehingga perusahaan dapat memberikan perhatian lebih terhadap faktor yang mempengaruhi audit delay. Sehingga audit delay diharapkan dapat berkurang.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA<br />
Arens, Elder &amp; Beasley. 2001. Auditing dan Pelayanan Verifikasi Pendekatan Terpadu. Edisi Kesembilan. Jakarta : PT Indeks Kelompok Gramedia.<br />
Baridwan,Zaki. 2004. Intermediate Accounting. Edisi Kedelapan. Cetakan Pertama. Yogyakarta : BPFE.<br />
Ghozali, Imam. 2006. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.<br />
Halim, Varianada. 2000. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Audit Delay: Studi Empiris Perusahaan-perusahaan di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Bisnis dan Akuntansi 2(1):63-75.<br />
Haron, H, B. Hartadi, dan E. Subroto. 2006. Analysis of Factors Influencing Audit Delay (Empirical Study at Public Companies in Indonesia). Jurnal Riset Akuntansi Indonesia 6(1):95-121.<br />
Ikatan Akuntan Indonesia. 2007. Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: Salemba Empat. Kartika, Andi. 2009. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Audit Delay Di Indonesia:<br />
Studi Empiris Pada Perusahaan-Perusahaan LQ45 Yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Bisnis dan Ekonomi. 16(1): 1-17.<br />
Lestari. Dewi. 2010. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Audit Delay: Studi Empiris Pada Perusahaan Consumer Goods Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Skripsi. Universitas Diponegoro – Semarang.<br />
Rachmawati,Sistya. 2008. Pengaruh Faktor Internal dan Eksternal Perusahaan Terhadap Audit Delay dan Timeliness. Jurnal Akuntansi dan Keuangan, 10(1): 1-10.<br />
Sarwono, Jonathan. 2006. Analisis Data Penelitian Menggunakan SPSS. Edisi 1. Yogyakarta : Penerbit ANDI.<br />
Sekaran, Uma. 2003. Research Methods For Business. New York: John Wiley &amp; Sons, Inc.<br />
Soetedjo, Soegeng. 2006. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Audit Delay Log (ARL). 9(2): 77-92.<br />
Subekti, Imam. dan N.W. Widiyanti. 2004. Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Audit Delay di Indonesia. Simposium Nasional Akuntansi VII:991-1002.<br />
Sulistyo S, Joko. 2011. 6 Hari Jago SPSS. Cetakan Kedua. Yogyakarta : Cakrawala. Syafri Harahap, Sofyan. 2011. Teori Akuntansi. Edisi Revisi 11. Jakarta : PT Grafindo Persada.<br />
Wirakusuma, Made Gde. 2004. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Rentang Waktu Penyajian Laporan Keuangan ke Publik. Simposium Nasional Akuntansi VII: 1202-1222.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwartawarga.gunadarma.ac.id%2F2013%2F05%2Fanalisis-faktor-faktor-yang-mempengaruhi-audit-delay-pada-perusahaan-lq45%2F&amp;title=Analisis%20Faktor-faktor%20yang%20Mempengaruhi%20Audit%20Delay%20pada%20Perusahaan%20LQ45%20yang%20Terdaftar%20di%20Bursa%20Efek%20Indonesia" id="wpa2a_2"><img src="http://wartawarga.gunadarma.ac.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2013/05/analisis-faktor-faktor-yang-mempengaruhi-audit-delay-pada-perusahaan-lq45/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengaruh Kondisi Keuangan Perusahaan, Rasio Likuiditas, Profitabilitas, Aktivitas, dan Solvabilitas Terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern Pada Perusahaan Pertambangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia</title>
		<link>http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2013/05/pengaruh-kondisi-keuangan-rasio-likuiditas-profitabilitas-aktivitas-dan-solvabilitas-terhadap-penerimaan-opini-audit-going-concern/</link>
		<comments>http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2013/05/pengaruh-kondisi-keuangan-rasio-likuiditas-profitabilitas-aktivitas-dan-solvabilitas-terhadap-penerimaan-opini-audit-going-concern/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 May 2013 04:40:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>LASMA MARTHA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wartawarga.gunadarma.ac.id/?p=231337</guid>
		<description><![CDATA[ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah secara bersama-sama dan secara parsial Kondisi Keuangan Perusahaan dan Rasio Keuangan (Likuiditas, Profitabilitas, Aktivitas dan Solvabilitas) berpengaruh signifikan terhadap Opini Audit Going Concern. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan pertambangan yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2001 sampai dengan tahun 2010. Sampel yang digunakan dalam [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>ABSTRAK<br />
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah secara bersama-sama dan secara parsial Kondisi Keuangan Perusahaan dan Rasio Keuangan (Likuiditas, Profitabilitas, Aktivitas dan Solvabilitas) berpengaruh signifikan terhadap Opini Audit Going Concern.<br />
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan pertambangan yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2001 sampai dengan tahun 2010. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini dipilih dengan metode purposive sampling, sehingga sampel yang didapat merupakan representasi dari populasi sampel yang ada serta sesuai dengan tujuan dari penelitian. Dengan menggunakan SPSS 17.0, diperoleh hasil bahwa Kondisi Keuangan Perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern. Rasio Likuiditas tidak berpengaruh signifikan terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern. Rasio Aktivitas tidak berpengaruh signifikan terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern. Rasio Solvabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern. Sedangkan Rasio Profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap Opini Audit Going Concern.<br />
Berdasarkan penelitian ini, agar hasil penelitian dapat digeneralisasi, sebaiknya menambahkan variabel tambahan seperti rasio keuangan dan non keuangan yang lain sehingga hasil penelitian akan lebih baik dalam memprediksi penerbitan opini audit going concern secara tepat.<br />
Kata kunci: Going Concern, Kondisi Keuangan Perusahaan, Rasio Likuiditas, Profitabilitas, Aktivitas, dan Solvabilitas.<br />
ABSTRACT<br />
The Purposes of the research are to know the composite influence and partial influence between Corporate Financial Condition and financial ratios (Liquidity, Profitability, Activity and Solvency) significantly influented to audit opinion going concern.<br />
Sample in this research is mining companies which listed in Bursa Efek Indonesia in 2001 until 2010. Sample which used in this research is choosen by purposive sampling method, so sample which be obtained is representation from avaliable sample population and appropriate with the purpose of research. Used SPSS 17.0 the result is company’s financial condition significantly not influented to audit opinion going concern, liquidity ratio significantly not influented to audit opinion going concern, Activity ratio significantly not influented to audit opinion going concern, solvency ratio significantly not influented to audit opinion going concern. while profitability ratio significantly influented to audit opinion going concern. Based on this research the result of this research can be generalizied should be added additional variable as financial ratio and other non financial ratio , so the result will be better in predict audit opinion going concern publication appropriately.<br />
Key words: Going Concern The Company’s Financial Condition, Liquidity Ratios, Profitability, Activity, and Solvency.<br />
PENDAHULUAN<br />
Keadaan ekonomi yang tidak stabil di Negara Indonesia seiring pertumbuhan ekonomi yang terjadi sejak krisis keuangan berskala global memberi dampak tersendiri terhadap perusahaan yang ada di Indonesia. Perekonomian di Indonesia mengalami keterpurukan, sehingga banyak perusahaan yang gulung tikar tidak bisa meneruskan usahanya. Tidak hanya perusahaan kecil yang mengalami pailit, namun perusahaan besar juga tidak sedikit yang akhirnya gulung tikar.<br />
Dampak dari memburuknya kondisi ekonomi tersebut mengakibatkan makin meningkatnya opini Qualified Going Concern dan Disclaimer untuk penugasan tahun 1998. Auditor tidak bisa lagi hanya menerima pandangan manajemen bahwa segala sesuatunya baik. Penilaian going concern lebih didasarkan pada kemampuan perusahaan untuk melanjutkan operasinya dalam jangka waktu 12 bulan ke depan. (Dewi, 2009). “Untuk sampai pada kesimpulan apakah perusahaan akan memiliki going concern atau tidak, auditor harus melakukan evaluasi secara kritis terhadap rencana-rencana manajemen”.<br />
Permasalahan going concern seharusnya diberikan oleh auditor dan dimasukkan dalam opini auditnya pada saat opini audit tersebut diterbitkan. Laporan audit penting sekali dalam suatu audit atau proses atestasi lainnya karena laporan audit menginformasikan pemakai informasi mengenai apa yang dilakukan auditor dan kesimpulan yang diperolehnya. Tujuan utama auditor menyusun laporan audit adalah untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti tentang laporan-laporan entitas dengan maksud agar dapat memberikan pendapat apakah laporan-laporan tersebut telah disajikan secara wajar sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan, yaitu prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum (GAAP) (Boynton, et al, 2002).<br />
Opini audit going concern (GCAO) merupakan asumsi dalam pelaporan keuangan suatu entitas sehingga jika suatu entitas mengalami kondisi yang berlawanan dengan asumsi kelangsungan usaha, maka entitas tersebut dimungkinkan mengalami masalah. Pengeluaran opini going concern yang tidak diharapkan oleh perusahaan berdampak pada kemunduran harga saham, kesulitan dalam meningkatkan modal pinjaman, ketidakpercayaan investor, kreditur, pelanggan, dan karyawan terhadap manajemen perusahaan. Hilangnya kepercayaan public terhadap citra perusahaan dan manajemen perusahaan tersebut akan memberikan dampak yang signifikan terhadap keberlanjutan bisnis perusahaan di masa yang akan datang. Memburuknya citra perusahaan serta hilangnya kepercayaan dari kreditur akan menyulitkan perusahaan dalam hal tambahan dana guna membiayai operasional usahanya. Begitu juga dengan pelanggan, hilangnya pelanggan akan mengakibatkan terhentinya bisnis perusahaan. Apabila perusahaan tidak segera mengambil tindakan penanganan maka kebangkrutan usaha akan benar-benar terjadi.<br />
Mengingat begitu besar pengaruh diberikannya opini audit going concern atas laporan keuangan auditee yaitu hilangnya kepercayaan publik terhadap manajemen perusahaan dalam mengelola usahanya, maka peneliti tertarik untuk untuk melakukan penelitian terkait opini audit going concern. Berdasarkan uraian di atas penulis bermaksud untuk melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Kondisi Keuangan Perusahaan, Rasio Likuiditas, Profitabilitas, Aktivitas, dan Solvabilitas Terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern Pada Perusahaan Pertambangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”.<br />
KERANGKA PEMIKIRAN<br />
Tanggung jawab auditor sangatlah mempengaruhi eksistensi komunitas emiten. Pendapat yang dikeluarkan tanpa adanya rekayasa pada laporan keuangn yang diaudit sangat menentukan bagi perusahaan untuk tetap melanjutkan hidup perusahaan atau tidak dimasa yang akan datang. Hal ini berarti auditor untuk lebih berhati-hati dalam memperhatikan kondisi perusahaan pada saat itu sampai pada opini audit yang akan dikeluarkan. Sedikit kesalahan atas opini audit, maka bukan hanya perusahan yang bisa terganggu atas kelangsungan hidupnya namun auditor dan kantor akuntannya akan mendapat nama buruk dimata masyarakat. Inilah alasan mengapa auditor memiliki tanggunng jawab terhadap going concern suatu perusahaan.<br />
Hal-hal yang perlu diperhatikan bagi auditor dalam memberikan opini atas kelangsungan hidup perusahaan diantaranya adalah Kondisi keuangan perusahaan, Rasio Likuiditas, Profitabilitas, Aktivitas, dan Solvabilitas.<br />
METODE PENELITIAN<br />
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan pertambangan yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2001 sampai dengan tahun 2010. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini dipilih dengan metode purposive sampling, sehingga sampel yang didapat merupakan representasi dari populasi sampel yang ada serta sesuai dengan tujuan dari penelitian. Proses seleksi sampel berdasarkan kriteria sebagai berikut:<br />
Perusahaan terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode penelitian (2001 – 2010) dan sudah terdaftar di BEI sebelum 1 Januari 2001.<br />
Perusahaan tidak keluar (delisting) di Bursa Efek Indonesia selama periode penelitian (tahun 2001 – 2010).<br />
Menerbitkan laporan keuangan yang telah diaudit oleh auditor independen selama tahun 2001 – 2010.<br />
Berdasarkan kriteria tersebut, diperoleh sampel sebanyak 12 perusahaan. Data diperoleh dari Pusat Referensi Pasar Modal (PRPM) dan Indonesia Capital Market Directory (ICMD), situs resmi BEI dan BI di http://www.idx.co.id dan http://www.bi.go.id serta dari situs masing-masing perusahaan sampel.<br />
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN<br />
1. Pengujian Statistik Deskriptif<br />
Statistik deskriptif berfungsi untuk mengetahui karakteristik sampel yang digunakan dalam penelitian. Tabel 4.4 menampilkan hasil pengujian statistik deskriptif untuk variabel independen dalam penelitian.<br />
Table 4.3<br />
Descriptive Statistics<br />
N<br />
Minimum<br />
Maximum<br />
Mean<br />
Std. Deviation<br />
GC<br />
104<br />
0<br />
1<br />
.35<br />
.478<br />
Zsc<br />
104<br />
-4.941<br />
2.009<br />
-2.05502<br />
1.651719<br />
LIK<br />
104<br />
.312<br />
5.791<br />
2.28384<br />
1.302492<br />
PRO<br />
104<br />
-.158<br />
.280<br />
.05704<br />
.093362<br />
AKT<br />
104<br />
.005<br />
1.833<br />
.68446<br />
.400859<br />
SOL<br />
104<br />
.011<br />
1.019<br />
.47691<br />
.240831<br />
Valid N (listwise)<br />
104<br />
Sumber: Hasil pengolahan data<br />
Tabel diatas menunjukkan statistik deskriptif variabel penelitian opini audit going concern memiliki rata – rata sebesar 0,35 dengan nilai minimum sebesar 0,00 dan maksimum sebesar 1,00 karena merupakan variabel dummy. Standar deviasi untuk variabel ini sebesar 0,478, hal ini dapat diartikan bahwa penyimpangan untuk variabel ini sebesar 0,478.<br />
Z score Zmijeski model memiliki rata – rata sebesar -2,05502 dengan nilai minimum sebesar -4,941dan maksimum sebesar 2,009 Standar deviasi untuk variabel ini sebesar 1,651719, hal ini dapat diartikan bahwa penyimpangan untuk variabel ini sebesar 1,651719.<br />
Rasio Likuiditas memiliki rata – rata sebesar 2,28384 dengan nilai minimum sebesar 0,312 dan maksimum sebesar 5,791. Standar deviasi untuk variabel ini sebesar 1,302492, hal ini dapat diartikan bahwa penyimpangan untuk variabel ini sebesar 1,302492.<br />
Rasio Profitabilitas memiliki rata – rata sebesar 0,05704 dengan nilai minimum sebesar &#8211; 0,158 dan maksimum sebesar 0,280. Standar deviasi untuk variabel ini sebesar 0,093362, hal ini dapat diartikan bahwa penyimpangan untuk variabel ini sebesar 0,093362.<br />
Rasio Aktivitas memiliki rata – rata sebesar 0,68446 dengan nilai minimum sebesar 0,005 dan maksimum sebesar 1,833 Standar deviasi untuk variabel ini sebesar 0,400859, hal ini dapat diartikan bahwa penyimpangan untuk variabel ini sebesar 0,400859.<br />
Rasio Solvabilitas memiliki rata – rata sebesar 0,47691 dengan nilai minimum sebesar 0,011 dan maksimum sebesar 1,019 Standar deviasi untuk variabel ini sebesar 0,240831, hal ini dapat diartikan bahwa penyimpangan untuk variabel ini sebesar 0,240831.<br />
2.      Analisis Hasil Penelitian<br />
a.  Pengujian Kelayakan Model Regresi<br />
Pengujian kelayakan model regresi logistik dapat dilakukan dengan menggunakan Goodness of fit test yang diukur dengan nilai Chi-Square pada bagian bawah uji Hosmer dan Lemeshow. Probalitas signifikansi yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan tingkat signifikansi (α) 5%.<br />
Tabel 4.6<br />
Hosmer and Lemeshow Test<br />
Step<br />
Chi-square<br />
df<br />
Sig.<br />
1<br />
10.829<br />
8<br />
.212<br />
Sumber: output SPSS<br />
Tabel 4.6 menunjukkan hasil pengujian Hosmer dan Lemeshow. Probabilitas signifikansi menunjukkan angka 0,212. Angka tersebut menunjukkan bahwa H0 tidak dapat ditolak (diterima) karena nilai signifikansi yang diperoleh lebih besar daripada 0,05. Hal ini berarti model regresi layak untuk digunakan dalam analisis selanjutnya, karena tidak ada perbedaan yang nyata antara klasifikasi yang diprediksi dengan klasifikasi yang diamati. Atau dapat dikatakan bahwa model mampu memprediksi nilai observasinya.<br />
b.  Pengujian Keseluruhan model (overall model fit)<br />
Pengujian dilakukan dengan membandingkan nilai antara -2 Log Likelihood (-2LL) pada awal ( Block 0= Beginning Block) dengan nilai -2 Log Likelihood (-2LL) pada akhir (Block 1: Method = Enter). Adanya pengurangan nilai antara -2LL awal dengan nilai -2LL pada langkah berikutnya menunjukkan bahwa model yang dihipotesiskan fit dengan data. Hipotesis untuk menilai model fit adalah sebagai berikut: H0 : Model yang dihipotesiskan fit dengan data.<br />
HA : Model yang dihipotesiskan tidak fit dengan data.<br />
Tabel 4.7<br />
Perbandingan Nilai -2LL awal dengan -2LL akhir<br />
-2 LL awal (Block number = 0)<br />
154,112<br />
-2 LL akhir (Block number = 1)<br />
96,252<br />
Sumber: Output SPSS<br />
Tabel 4.7 menunjukkan perbandingan nilai antara -2Log Likelihood (-2LL) pada awal (Block number = 0) dengan nilai -2LL akhir (Block number = 1). Nilai -2LL awal adalah sebesar 154,112. Setelah dimasukkan keempat variabel independen, maka nilai – 2LL akhir mengalami penurunan menjadi sebesar 96,252. Penurunan likelihood (-2LL) ini menunjukkan model regresi yang lebih baik atau dengan kata lain model yang dihipotesiskan fit dengan data.<br />
c.  Koefisien Determinasi (Nagelkerke R Square)<br />
Besarnya nilai koefesien determinasi pada model regresi logistik ditunjukkan oleh nilai Nagelkerke R Square. Nilai Nagelkerke R Square dapat diinterpretasikan seperti nilai R Square pada regresi berganda (Ghozali, 2006). Nilai ini didapat dengan cara membagi nilai Cox &amp; Snell R Square dengan nilai maksimumnya. Nilai Nagelkerke R Square dapat dilihat pada tabel 4.8<br />
Tabel 4.8<br />
Model Summary<br />
Cox &amp; Snell R<br />
Nagelkerke R<br />
Step	-2 Log likelihood<br />
Square<br />
Square<br />
1	89.307a<br />
.417<br />
.577<br />
a. Estimation terminated at iteration number 8 because parameter estimates changed by less than .001.<br />
Sumber: Output SPSS.<br />
Dilihat dari hasil output pengolahan data, nilai Nagelkerke R Square adalah sebesar 0,577 yang berarti variabilitas variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variabel independen adalah sebesar 57,7%, sedangkan sisanya sebesar 42,3% dijelaskan oleh variabel-variabel lain di luar model penelitian. Atau secara bersama-sama variasi variabel bebas (Kondisi keuangan, Rasio Likuiditas, Profitabilitas, Aktivitas, dan Solvabilitas) dapat menjelaskan variasi variabel going concern sebesar 57,7%.<br />
d.  Matriks Klasifikasi<br />
Matrik klasifikasi menunjukkan kekuatan prediksi dari model regresi untuk memprediksi kemungkinan penerimaan opini audit going concern pada perusahaan pertambangan.<br />
Tabel 4.9<br />
Classification Tablea<br />
Predicted<br />
GC<br />
Percentage<br />
Observed<br />
0<br />
1<br />
Correct<br />
Step 1			GC<br />
0<br />
72<br />
7<br />
91.1<br />
1<br />
11<br />
30<br />
73.2<br />
Overall Percentage<br />
85.0<br />
a. The cut value is .500<br />
Sumber: Output SPSS<br />
Kekuatan prediksi dari model regresi untuk memprediksi kemungkinan perusahaan menerima opini audit going concern adalah sebesar 73,2%. Hal ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan model regresi yang digunakan, terdapat sebanyak 30 laporan keuangan yang diberi opini audit going concern dari total 41 laporan keuangan yang seharusnya diberi opini audit going concern. Kekuatan prediksi model perusahaan yang tidak menerima opini audit going concern adalah sebesar 91,1%, yang berarti bahwa dengan model regresi yang digunakan ada sebanyak 72 laporan keuangan yang diberi opini audit non going concern dari total 79 laporan keuangan yang seharusnya diberi opini audit non going concern.<br />
e.  Pengujian Koefisien Regresi<br />
Pengujian koefisien regresi dapat diilakukan dengan regresi logistik yang hasilnya terdapat pada tabel 4.10<br />
Tabel 4.10<br />
Variables in the Equation<br />
95% C.I.for EXP(B)<br />
B<br />
S.E.<br />
Wald<br />
df<br />
Sig.<br />
Exp(B)<br />
Lower<br />
Upper<br />
Step Zsc<br />
-1.885<br />
1.429<br />
1.740<br />
1<br />
.187<br />
.152<br />
.009<br />
2.499<br />
1a<br />
-.239<br />
.308<br />
.601<br />
1<br />
.438<br />
.788<br />
.431<br />
1.440<br />
LIK<br />
PRO<br />
-26.150<br />
10.024<br />
6.806<br />
1<br />
.009<br />
.000<br />
.000<br />
.001<br />
AKT<br />
-.573<br />
.823<br />
.484<br />
1<br />
.487<br />
.564<br />
.112<br />
2.832<br />
SOL<br />
13.129<br />
8.089<br />
2.635<br />
1<br />
.105<br />
503464.413<br />
.066<br />
3.863E12<br />
Constant<br />
-8.788<br />
6.401<br />
1.885<br />
1<br />
.170<br />
.000<br />
a. Variable(s) entered on step 1: LIK, PRO, AKT, SOL, Zsc.<br />
Tabel 4.10 menunjukkan hasil pengujian dengan regresi logistik pada tingkat signifikansi 5%. Dari pengujian dengan regresi logistik di atas maka diperoleh persamaan regresi logistik sebagai berikut:<br />
GC = -8.788 – 26.150PRO – 0.573 AKT + 13.129 SOL – 1.885 Zsc+e<br />
H1 : Kondisi keuangan berpengaruh negatif terhadap penerimaan opini audit going concern<br />
Kondisi keuangan pada tabel 4.10 menunjukkan koefisien negatif sebesar 1.885 dengan tingkat signifikansi 0,187 lebih besar dari 0,05 (5%). Artinya, dapat disimpulkan bahwa kondisi keuangan tidak berpengaruh dengan opini going concern, yang berarti H1 ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik kondisi keuangan perusahaan maka semakin kecil kemungkinan bagi auditor untuk memberikan opini audit going concern. Seorang auditor akan sangat memperhatikan kondisi keuangan perusahaan dalam menerbitkan opini audit going concern. Perusahaan yang tidak mempunyai permasalahan yang serius kemungkinan besar tidak akan menerima opini audit going concern. Berbeda dengan perusahaan yang mengalami permasalahan keuangan secara terus-menerus yang mengakibatkan nilai rasio Z Score rendah sehingga akan berpeluang besar untuk menerima opini audit going concern. Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Arga (2006) dengan sampel perusahaan manufaktur yaitu kondisi keuangan perusahaan tidak berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern.<br />
H2 : Rasio Likuiditas berpengaruh negatif terhadap penerimaan opini audit going concern<br />
Rasio Likuiditas pada tabel 4.10 menunjukkan koefisien negatif sebesar 0,239 dengan tingkat signifikansi 0,438 lebih besar dari 0,05 (5%). Artinya, dapat disimpulkan bahwa Rasio Likuiditas tidak berpengaruh dengan opini going concern yang berarti H2 ditolak. Makin kecil likluiditas, perusahaan kurang likuid karena banyak kredit macet sehingga opini audit harus memberikan keterangan mengenai going concern, dan sebaliknya semakin besar likuiditas perusahaan, maka semakin mampu pula perusahaan dalam membayar kewajiban-kewajiban jangka pendeknya dengan tepat waktu. Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh wulandari (2009) dimana variable keuangan (rasio likuiditas) berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern.<br />
H3 : Rasio Profitabilitas berpengaruh negatif terhadap penerimaan opini audit going concern<br />
Rasio Profitabilitas pada tabel 4.10 menunjukkan koefisien negatif sebesar 26,150 dengan tingkat signifikansi 0,009 lebih kecil dari 0,05 (5%). Artinya, dapat disimpulkan bahwa Rasio Profitabilitas berpengaruh signifikan dengan opini going concern yang berarti H3 diterima.<br />
Jadi, hubungan return on asset dengan opini audit adalah semakin kecil return on asset maka kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba semakin menurun sehingga ada keraguan mengenai going concern perusahaan. Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh wulandari (2009) dimana variabel keuangan (rasio profitabilitas) tidak berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern.<br />
H4 : Rasio Aktivitas berpengaruh negatif terhadap penerimaan opini audit going concern<br />
Rasio aktivitas pada tabel 4.10 menunjukkan koefisien negatif sebesar 0,573dengan tingkat signifikansi 0,487 lebih besar dari 0,05 (5%). Artinya, dapat disimpulkan bahwa Rasio Aktivitas tidak berpengaruh signifikan dengan opini going concern, yang berarti H4 ditolak. Semakin besar rasio aktivitas menunjukkan bahwa kinerja perusahaan semakin baik, sehingga auditor tidak memberikan opini going concern pada perusahaan yang memiliki modal tinggi. Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Ramadhany (2004) dimana variable keuangan (rasio likuiditas, rasio laverage, rasio aktivitas, rasio profitabilitas, dan rasio penilaian) berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern.<br />
H5 : Rasio Solvabilitas berpengaruh positif terhadap penerimaan opini audit going concern<br />
Rasio Solvabilitas pada tabel 4.10 menunjukkan koefisien positif sebesar 13,125 dengan tingkat signifikansi 0,105 lebih besar dari 0,05 (5%). Artinya, dapat disimpulkan bahwa Rasio Solvabilitas tidak berpengaruh signifikan dengan opini going concern, yang berarti H5 ditolak. Semakin tinggi rasio solvabilitas, semakin menunjukkan kinerja keuangan perusahaan yang buruk dan dapat menimbulkan ketidakpastian mengenai kelangsungan hidup perusahaan. Hal ini menyebabkan perusahaan lebih berpeluang mendapatkan opini audit going concern. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahayu (2007) dimana variabel keuangan (rasio likuiditas, rasio profitabilitas, dan rasio solvabilitas) tidak berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern. Rasio solvabilitas tidak dapat dijadikan tolak ukur yang pasti untuk menentukan going concern atau kelangsungan hidup suatu perusahaan. Namun rasio solvabilitas dapat menjadi alat bantu dalam pengukuran kondisi keuangan perusahaan.<br />
KESIMPULAN<br />
a.  Kesimpulan<br />
Berdasarkan analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:<br />
1. Kondisi keuangan yang diproksikan dengan model prediksi kebangkrutan Z Score Zmijeski tidak berpengaruh signifikan dengan opini audit going concern dengan nilai koefisien negatif sebesar 1.885 dengan tingkat signifikansi 0,187. Dari hasil pengamatan, sampel yang dipakai adalah perusahaan – perusahaan yang berskala besar yang menghasilkan laba yang tinggi dan memiliki kinerja perusahaan yang baik sehingga auditor tidak memperhitungkan kondisi keuangan dalam pemberian opini audit going concern.<br />
2. Rasio Likuiditas tidak berpengaruh dengan opini going concern dengan nilai koefisien negatif sebesar 0,239 dengan tingkat signifikansi 0,438 yang berarti H2 ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa auditor dalam memberikan opini audit going concern tidak berdasarkan kemampuan perusahaan membayar hutang-hutang jangka pendeknya.<br />
3. Rasio Profitabilitas berpengaruh signifikan dengan opini going concern dengan nilai koefisien negatif sebesar 26,150 dengan tingkat signifikansi 0,009 yang berarti H3 diterima.<br />
4. Rasio Aktivitas tidak berpengaruh signifikan dengan opini going concern dengan nilai koefisien negatif sebesar 0,573 dengan tingkat signifikansi 0,487, yang berarti H4 ditolak. Rasio Aktivitas tidak berpengaruh signifikan dengan opini going concern karena sampel yang dipakai pada penelitian ini adalah perusahan-perusahaan berskala besar yang rata-rata nilai penjualan bersihnya besar dan mendapatkan keuntungan yang besar.<br />
5. Rasio Solvabilitas tidak berpengaruh signifikan dengan opini going concern dengan nilai koefisien positif sebesar 13,125 dengan tingkat signifikansi 0,105, yang berarti H5 ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa auditor dalam memberikan opini audit going concern tidak berdasarkan seberapa besar utang perusahaan berpengaruh terhadap pengelolaan aktiva akan tetapi lebih cenderung melihat kondisi keuangan secara keseluruhan.<br />
b.  Saran<br />
Dengan berbagai telaah dan analisa yang dilakukan serta berdasarkan keterbatasan-keterbatasan penelitian, maka dapat diberikan saran sebagai berikut:<br />
Memasukkan variabel tambahan seperti rasio keuangan dan non keuangan yang lain sehingga hasil penelitian akan lebih baik dalam memprediksi penerbitan opini audit going concern secara tepat.<br />
Menambah jumlah populasi dan sampel seperti, semakin banyak jumlah perusahaan semakin baik dalam memprediksi penerimaan opini audit going concern.<br />
DAFTAR PUSTAKA<br />
Arga Fajar Santosa, Tahun 2006. Dengan judul “Analisi Faktor-faktor yang mempengaruhi kecenderungan penerimaan Opini Audit Going Concern”<br />
Ikatan Akuntan Indonesia, 2001. Standar Profesional Akuntan Publik. Jakarta: Salemba Empat.<br />
Rahayu, Puji. 2007. ”Assesing Going Concern Opinion: A Study Based On Financial And Non-Financial Informations (Empirical Evidence Of Indonesian Banking Firm Listed On JSX and SSX)”. Simposium Nasional Akuntansi X Makassar.<br />
Ramadhany, Alexander. 2004. Analisi Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Penerimaan Opini Going Concern Pada Perusahaan Manufaktur Yang Mengalami Financial Distress Di Bursa Efek Jakarta. Tesis S2. Universitas Dipenogoro, Semarang. Tidak Dipublikasikan.<br />
Wulandari Juandini, Tahun 2009. “Pengaruh profitabilitas, likuiditas, pertumbuhan perusahaan, dan opini audit tahun sebelumnya terhadap penerimaan opini audit going concern pada perusahaanmanufaktur yang terdaftar di BEI”</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwartawarga.gunadarma.ac.id%2F2013%2F05%2Fpengaruh-kondisi-keuangan-rasio-likuiditas-profitabilitas-aktivitas-dan-solvabilitas-terhadap-penerimaan-opini-audit-going-concern%2F&amp;title=Pengaruh%20Kondisi%20Keuangan%20Perusahaan%2C%20Rasio%20Likuiditas%2C%20Profitabilitas%2C%20Aktivitas%2C%20dan%20Solvabilitas%20Terhadap%20Penerimaan%20Opini%20Audit%20Going%20Concern%20Pada%20Perusahaan%20Pertambangan%20yang%20Terdaftar%20di%20Bursa%20Efek%20Indonesia" id="wpa2a_4"><img src="http://wartawarga.gunadarma.ac.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2013/05/pengaruh-kondisi-keuangan-rasio-likuiditas-profitabilitas-aktivitas-dan-solvabilitas-terhadap-penerimaan-opini-audit-going-concern/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Opini Audit Going Concern</title>
		<link>http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2013/05/analisis-faktor-faktor-yang-mempengaruhi-penerimaan-opini-audit-going-concern-2/</link>
		<comments>http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2013/05/analisis-faktor-faktor-yang-mempengaruhi-penerimaan-opini-audit-going-concern-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 May 2013 04:34:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>LASMA MARTHA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wartawarga.gunadarma.ac.id/?p=231335</guid>
		<description><![CDATA[Abstract This study aims to determine the effect the company’s financial condition (Revised Altman, Springate), debt default, Audit Quality, Company’s Growth, and Going Concern Opinion Audit. Sampling was done by purposive sampling of Commerce sector Mining in Indonesia Stock Exchange during the 10 years from 2001 – 2010. Statistical analysis was performed multivariate testing, using [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Abstract<br />
This study aims to determine the effect the company’s financial condition (Revised Altman, Springate), debt default, Audit Quality, Company’s Growth, and Going Concern Opinion Audit. Sampling was done by purposive sampling of Commerce sector Mining in Indonesia Stock Exchange during the 10 years from 2001 – 2010.<br />
Statistical analysis was performed multivariate testing, using logistic regression analysis to determine the factors that significantly affect the revenue going-concern audit opinion.<br />
The result of logistic regression analysis of the five independent variables that affect the revenue expected going-concern audit opinion indicates Going Concern Opinion Audit and Company’s Growth variables that significantly affect the revenue going-concern audit opinion, and that the variable Financial Condition of the Company, Debt Default, Audit Quality no significant effect on acceptance going audit opinion concern.<br />
Keywords : Financial Condition of the Company, Debt Default, Audit Quality, Company’s Growth, and Going Concern Opinion Audit.</p>
<p>PENDAHULUAN<br />
Salah satu penelitian yang telah banyak dilakukan dibidang auditing adalah penelitian mengenai pemberian opini audit going concern oleh auditor terhadap auditee. Ruiz Barbadillo et al (2004) dalam setyarno (2006) menyatakan bahwa hingga saat ini topik tentang bagaimana tanggung jawab auditor dalam mengungkapkan masalah going concern masih menarik untuk diteliti. Going concern merupakan asumsi dasar dalam penyusunan laporan keuangan, suatu perusahaan diasumsikan tidak bermaksud atau berkeinginan melikuidasi atau mengurangi secara meterial skala usahanya (standar akuntansi keuangan, 2002). Basri (1998) dalam fanny (2005) dan saputra menemukan sekitar 80% dari lebih 280 perusahaan yang sudah go public praktis bisa dikategorikan sudah bangkrut sebab nilai aset perusahaan-perusahaan tersebut saat ini jauh dibawah angka nominal utang atau pinjaman luar negerinya. Berdasarkan fakta ini, beberapa penelitian terdahulu mencoba untuk melihat sejauh mana kebangkrutan tersebut dapat diprediksikan beberapa waktu sebelum kebangkrutan tersebut benar-benar terjadi.<br />
Altman dan McGough (1974) dalam Fanny dan Saputra (2005) mencoba untuk menganalisis tingkat keakuratan prediksi kebangkrutan dengan menggunakan opini auditor dan model prediksi kebangkrutan. Tingkat akurasi dengan menggunakan model prediksi kebangkrutan jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan menggunakan opini audit, yaitu sebesar 82%. Beberapa studi terdahulu telah membuktikan 90% kasus kepailitan dapat diprediksi secara tepat satu tahun sebelum kepailitan terjadi Altman, (1968) dalam fanny dan saputra. .Altman dan McGough (1974) dalam Fanny dan Saputra (2005) juga menyarankan penggunaan model prediksi kebangkrutan sebagai alat bantu auditor untuk memutuskan kemampuan perusahaan mempertahankan kelangsungan hidupnya dengan memberikan signal kepada auditor terhadap suatu masalah tertentu yang akan sulit dideteksi dengan menggunakan prosedur audit tradisional.</p>
<p>Mutchler et al, (1997) dalam Praptitorini dan januarti (2007) menemukan bukti bahwa keputusan opini going concern sebelum terjadinya kebangkrutan secara signifikan berkorelasi dengan probabilitas kebangkrutan dan variable lag laporan audit serta informasi berlawanan yang ekstrim (contrary information), seperti default. Jika default ini telah terjadi atau proses negoisasi tengah berlangsung dalam rangka menghindari default selanjutnya, auditor mungkin cenderung untuk mengeluarkan opini going concern. Pemberian opini going concern oleh auditor juga tidak terlepas dari opini audit yang diberikan tahun sebelumnya, karena kegiatan usaha pada suatu perusahaan untuk tahun tertentu tidak terlepas dari keadaan yang terjadi pada tahun sebelumnya. Penelitian-penelitian tentang opini going concern yang dilakukan di Indonesia antara lain dilakukan oleh. Setyarno (2006) menguji bagaimana pengaruh rasio-rasio keuangan auditee (rasio likuiditas, rasio profitabilitas, rasio aktifitas, rasio leverage dan rasio pertumbuhan penjualan, ukuran auditee, skala auditor dan opini audit tahun sebelumnya terhadap opini audit going concern. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa rasio likuiditas dan opini audit tahun sebelumnya secara signifikan berpengaruh terhadap opini going concern.. Praptitorini dan januarti (2007) menguji bagaimana pengaruh kualitas audit, debt default dan opinion shopping terhadap penerimaan opini going concern, hasil penelitiannya debt default dan opini audit sebelumnya berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern. Penelitian yang menguji bagaimana pengaruh kualitas audit terhadap keputusan going concern dilakukan antara lain oleh Fanny dan Saputra (2005), Ramadhany (2004) dan Setyarno (2006). Fanny dan Saputra (2005) menggunakan Big Five dan Non Big Five sebagai proksi dari reputasi auditor, Ramadhany (2004) dan Setyarno (2006) menggunakan skala auditor sebagai proksi reputasi auditor.</p>
<p>Dari penelitian-penelitian sebelumnya dapat dilihat bahwa masalah going concern merupakan hal yang kompleks dan terus ada, sehingga diperlukan faktor-faktor sebagai tolak ukur yang pasti untuk menentukan status going concern pada perusahaan, dan kekonsisitenan faktor-faktor tersebut harus diuji agar dalam keadaan ekonomi yang fluktuatif going concern masih tetap dapat diprediksi.</p>
<p>Berdasarkan uraian di atas, masalah dalam penelitian ini adalah ‘’Apakah kondisi keuangan perusahaan, debt default, kualitas audit, opini audit tahun sebelumnya, pertumbuhan perusahaan berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern?’’ Penelitian ini berusaha untuk menguji pengaruh kondisi keuangan perusahaan, debt default, kualitas audit, opini audit tahun sebelumnya, pertumbuhan perusahaan terhadap penerimaan opini audit going concern</p>
<p>Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:<br />
1. Manfaat Akademis<br />
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan teori di Indonesia, khususnya mengenai masalah going concern. Penelitian ini juga diharapkan dapat menambah khasanah pengetahuan dan pemahaman tentamg masalah yang berkaitan dengan opini audit going concern.<br />
2. Manfaat praktis<br />
1. Bagi Investor dan calon investor<br />
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk memberi informasi dan sebagai bahan pertimbangan mengenai going concern (kelangsungan usaha suatu perusahaan) sehingga para investor dan calon investor dapat mengambil keputusan yang tepat dalam melakukan investasi.<br />
2. Bagi Auditor Independen<br />
Penelitian ini dapat bermanfaat sebagai pedoman, bahan pertimbangan dan bahan referensi bagi auditor dalam melaksanakan proses auditnya terutama dalam hal pemberian opini audit terhadap klien yang menyangkut masalah pemberian opini audit going concern</p>
<p>TELAAH PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS<br />
Going Concern<br />
Going concern merupakan asumsi dasar dalam penyusunan laporan keuangan, suatu perusahaan diasumsikan tidak bermaksud atau berkeinginan melikuidasi atau mengurangi secara material skala usahanya (Standar Akuntansi Keuangan, 2004)<br />
Hany et. al. (2003) dalam santosa dan wendari (2007) menyatakan Going concern adalah kelangsungan hidup suatu badan usaha. Dengan adanya going concern maka suatu badan usaha dianggap akan mampu mempertahankan kegiatan usahanya dalam jangka panjang atau tidak akan dilikuidasi dalam jangka pendek.<br />
Suatu entitas dianggap going concern apabila perusahaan dapat melanjutkan usahanya dan memenuhi kewajibannya. Apabila perusahaan dapat melanjutkan usahanya dan memenuhi kewajibanya dengan menjual asset dalam jumlah yang besar, perbaikan operasi yang dipaksakan dari luar, merestrukturisasi hutang, atau dengan kegiatan serupa yang lain, hal yang demikian akan menimbulkan keraguan besar terhadap going concern</p>
<p>Opini Audit Going Concern<br />
Auditor bertanggung jawab mengevaluasi apakah terdapat kesangsian besar terhadap kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. Auditor dapat mengidentifikasi informasi mengenai kondisi atau peristiwa tertentu yang menunjukkan adanya kesangsian besar tentang kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam jangka waktu pantas, yaitu tidak lebih dari satu tahun sejak tanggal laporan keuangan yang sedang diaudit (Ikatan Akuntan Indonesia, 2001:seksi 341).<br />
Laporan audit dengan modifikasi mengenai going concern merupakan suatu indikasi bahwa dalam penilaian auditor terdapat risiko auditee tidak dapat bertahan dalam bisnis. SPAP (PSA No. 30) memberikan pedoman kepada auditor tentang dampak kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya terhadap opini auditor.<br />
1. Jika auditor yakin bahwa terdapat kesangsian mengenai kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam jangka waktu pantas, ia harus:<br />
- memperoleh informasi mengenai rencana manajemen yang ditujukan untuk mengurangi dampak kondisi dan peristiwa tersebut,<br />
- menetapkan kemungkinan bahwa rencana tersebut secara efektif dilaksanakan.<br />
2. Jika manajemen tidak memiliki rencana yang mengurangi dampak kondisi dan peristiwa terhadap kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan keberlangsungan hidupnya, auditor mempertimbangkan untuk memberikan pernyataan tidak memberikan pendapat.<br />
3. Jika manajemen memiliki rencana tersebut, langkah selanjutnya yang harus dilakukan oleh auditor adalah menyimpulkan efektivitas rencana tersebut.<br />
4. Jika auditor berkesimpulan rencana tersebut tidak efektif, auditor menyatakan tidak memberikan pendapat.<br />
5. Jika auditor berkesimpulan rencana tersebut efektif dan klien mengungkapkan dalam catatan laporan keuangan, auditor menyatakan pendapat wajar tanpa pengecualian.<br />
6. Jika auditor berkesimpulan rencana tersebut efektif akan tetapi klien tidak mengungkapkan dalam catatan laporan keuangan, auditor memberikan pendapat tidak wajar.</p>
<p>Kondisi Keuangan Perusahaan<br />
Kondisi keuangan perusahaan adalah suatu tampilan atau keadaan secara utuh atas keuangan perusahaan selama periode / kurun waktu tertentu. Kondisi keuangan merupakan gambaran atas kinerja sebuah perusahaan. Media yang dapat dipakai untuk meneliti kondisi kesehatan perusahaan adalah laporan keuangan yang terdiri dari neraca, perhitungan laba rugi, ikhtisar laba yang ditahan, dan laporan posisi keuangan. Laporan keuangan adalah hasil akhir proses akuntansi.<br />
Kondisi keuangan perusahaan merupakan tingkat kesehatan perusahaan sesungguhnya. Pada perusahaan yang sakit banyak ditemukan masalah going concern (Ramadhany, 2004). Kondisi ini digambarkan oleh rasio keuangan yang dapat memberikan indikasi apakah perusahaan dalam kondisi baik (sehat) atau dalam kondisi buruk (sakit). Perusahaan yang baik (sehat) mempunyai profitabilitas yang besar dan cenderung memiliki laporan keuangan yang sewajarnya sehingga potensi untuk mendapatkan opini yang baik akan lebih besar dibandingkan dengan jika profitabilitasnya rendah (Petronela, 2004).<br />
Analisis keuangan yang mencakup analisis rasio keuangan, analisis kelemahan dan kekuatan di bidang finansial akan sangat membantu dalam menilai prestasi manajemen masa lalu dan prospeknya di masa datang (Santosa dan Wedari, 2007). Dengan analisis keuangan ini dapat diketahui kekuatan serta kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan. Rasio tersebut dapat memberikan indikasi apakah perusahaan memiliki kas yang cukup memadai untuk memenuhi kewajiban finansialnya, besarnya piutang cukup rasional, efisiensi manajemen persediaan, perencanaan pengeluaran investasi yang baik, dan struktur modal yang sehat sehingga tujuan memaksimumkan kemakmuran pemegang saham dapat dicapai.<br />
Semakin buruk kondisi keuangan perusahaan maka semakin besar probabilitas perusahaan menerima opini going concern (Setyarno, Indira &amp; Faisal, 2006). Dengan menggunakan model prediksi Zscore Altman, hasil penelitian Ramadhany (2004) selaras dengan penelitian Mc Kweon, Mucthler &amp; Hopwood (1991), Carcello dan Neal (2000). Mengacu pada penelitian yang dilakukan Fanny dan Saputra (2005), dalam penelitian ini akan digunakan dua model prediksi kebangkrutan untuk mengukur kondisi keuangan perusahaan yaitu Revised Altman Model, dan springate model.<br />
1. Revised Altman Model (1993)<br />
Model yang telah dikembangkan oleh Altman ini mengalami suatu revisi. Model yang lama mengalami perubahan pada salah satu variabel yang digunakan, yaitu mengubah market value of equity pada X4 menjadi book value of equity karena perusahaan privat tidak memiliki harga pasar untuk ekuitasnya. Selain itu tujuan dari revisi model Altman adalah agar model prediksinya tidak hanya digunakan pada perusahaan manufaktur yang go public tetapi juga dapat digunakan untuk perusahaan disektor swasta baik yang go public maupun non go public.<br />
2.  The Springate Model (1978)<br />
Springate menggunakan analisis multidiskriminan untuk meprediksi 40 perusahaan sampelnya. Model ini dapat digunakan untuk meprediksi kebangrutan dengan tingkat keakuratan 92,5 %.</p>
<p>Debt Default<br />
Dalam PSA 30, indikator going concern yang banyak digunakan auditor dalam memberikan keputusan opini audit adalah kegagalan dalam memenuhi kewajiban hutangnya (default). Debt default didefinisikan sebagai kegagalan debitor (perusahaan) untuk membayar hutang pokok dan/ atau bunganya pada waktu jatuh tempo (Chen dan Church, 1992). Manfaat status default hutang sebelumnya telah diteliti oleh Chen dan Church (1992) yang menemukan hubungan yang kuat status default terhadap opini going concern. Semenjak auditor lebih cenderung disalahkan karena tidak berhasil mengeluarkan opini going concern setelah peristiwa-peristiwa yang menyarankan bahwa opini seperti itu mungkin telah sesuai, biaya kegagalan untuk mengeluarkan opini going concern ketika perusahaan dalam keadaan default, tinggi sekali. Karenanya, diharapkan status default dapat meningkatkan kemungkinan auditor mengeluarkan laporan going concern.</p>
<p>Kualitas Audit<br />
Auditor bertanggung jawab untuk menyediakan informasi yang mempunyai kualitas tinggi yang akan berguna untuk pengambilan keputusa para pemakai laporan keuangan. Audit yang baik lebih cenderng akan mengeluarkan opini audit going concern apabilah klien terdapat masalah mengenai going concren.<br />
Mutchler et al. (1997) dalam Praptitorini dan januarti (2007) menemukan bukti univariat bahwa auditor big 6 lebih cenderung menerbitkan opini audit going concern pada perusahaan yang mengalami financial distress dibandingkan auditor non big 6. Auditor skala besar dapat menyediakan kualitas audit yang lebih baik dibanding auditor skala kecil, termasuk dalam mengungkapkan masalah going concern. Semakin besar skala auditor, akan semakin semakin besar kemungkinan auditor untuk menerbitkan opini audit going concern.<br />
Penelitian De Angelo (1981) dalam setyarno et. Al (2006) menyatakan bahwa auditor skala besar memiliki insentif yang lebih untuk menghindari kritikan kerusakan reputasi dibandingkan pada auditor skala kecil. Auditor skala besar juga lebih cenderung untuk mengungkapkan masalah-masalah yang ada karena mereka lebih kuat menghadapi resiko proses pengadilan. Argumen tersebut bearti bahwa auditor skala besar memiliki kemungkinan untuk melaporkan masalah going concern kliennya apabila terbukti klien terdapat masalah untuk kelangsungan usahanya dibandingkan dengan auditor skala kecil.<br />
Di Indonesia terdapat Kantor Akuntan Big Four dan non-Big Four. Auditor Empat besar adalah kelompok empat firma jasa professional dan akuntansi internasional terbesar, yang menangani mayoritas pekerjaan audit untuk perusahaan publik maupun perusahaan tertutup.</p>
<p>Opini Audit Tahun Sebelumnya<br />
Opini audit going concern tahun sebelumnya ini akan menjadi faktor pertimbangan penting auditor untuk menerbitkan opini audit going concern tahun berikutnya. Apabila auditor menerbitkan opini audit going concern tahun sebelumnya maka akan semakin besar kemungkinan perusahaan menerima opini audit going concern. Nogler (1995) dalam carcello dan Neal (2000) memberikan bukti bahwa setelah auditor mengeluarkan opini going concern, perusahaan harus menunjukkan peningkatan keuangan yang signifikan untuk memperoleh opini bersih pada tahun berikutnya. Jika tidak mengalami peningkatan keuangan maka pengeluaran opini audit going concern dapat diberikan. Ramadhany (2004) dalam penelitian analisis faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan opini audit going concern pada perusahaan manufaktur yang mengalami financial distress di BEJ. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa variabel opini audit tahun sebelumnya berpengaruh positif terhadap penerimaan opini audit going concern.</p>
<p>Pertumbuhan Perusahaaan<br />
Dalam penelitian ini pertumbuhan perusahaan diproksikan dengan rasio pertumbuhan laba. Laba yang tinggi pada umumnya menandakan arus kas yang tinggi (weston dan brigham, 1993) dalam Santosa dan Wedari (2007). Perusahaan yang mempunyai pertumbuhan laba yang tinggi cenderung memiliki potensi untuk mendapatkan opini yang baik (opini non-going concern) akan lebih besar.<br />
Altman (1968) dalam petronela (2004) mengemukakan bahwa perusahaan dengan negative growth mengindikasikan kecederungan yang lebih besar kearah kebangrutan sehingga perusahaan yang laba tidak akan mengalami kebangrutan, karena kebangrutan merupakan salah satu dasar bagi auditor untuk memberikan opini audit going concern maka perusahaan yang negatif akan makin tinggi kecenderungan untuk menerima opini audit going concern.</p>
<p>Pengembangan Hipotesis Penelitian<br />
Berdasarkan landasan teori di atas, maka dalam penelitian ini diajukan hipotesis sebagai berikut:<br />
H1: Kondisi keuangan perusahaan berpengaruh negatif terhadap penerimaan opini audit going concern.<br />
Debt default berpengaruh positif terhadap penerimaan opini audit going concern. Kualitas Audit berpengaruh positif terhadap penerimaan audit going concern<br />
Opini audit tahun sebelumnya berpengaruh positif terhadap penerimaan opini audit going concern. Pertumbuhan perusahaan berpengaruh negatif terhadap penerimaan opini audit going concern</p>
<p>METODE PENELITIAN<br />
Populasi dan sampel<br />
Pada penelitian ini populasi perusahaan yang digunakan adalah perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI dari tahun 2001– 2010, perusahaan pertambangan dipilih sebagai populasi karena total perdagangan dari sektor ini merupakan yang terbesar dari sektor lainnya, semakin besar total perdagangan yang dimiliki perusahaan maka semakin besar ukuran perusahaan tersebut sehingga semakin kecil perusahaan tersebut untuk menerima opini audit going concern.<br />
Sedangkan tahun penelitian dipilih dari tahun 2001 karena perekonomian Indonesia nampaknya masih belum mampu mempercepat proses pemulihan ekonomi Indonesia setelah krisis, hal ini disebabkan karena berbagai kendala menghadang laju perekonomian nasional diantaranya fundamental ekonomi yang masih lemah, sehingga menyebabkan daya beli masyarakat melemah, tidak ada investor asing yang mau menanamkan investasinya di Indonesia, kondisi ini menyebkan banyak perusahaan yang tidak dapat mempertahankan kelangsungan hidup perusahaannya..<br />
Pengambilan Sampel dalam penelitian ini diperoleh dengan metode purposive sampling, dengan kriteria sebagai berikut :<br />
1. Perusahaan pertambangan terdaftar di BEI 1 Januari 2001 – 2010.<br />
2. Perusahaan tidak keluar (delisting) dari BEI selama periode penelitian (2001-2010).<br />
3. Menerbitkan laporan keuangan yang telah diaudit oleh auditor independen per 31 Desember dari tahun 2001-2010.<br />
Data/Variabel yang Digunakan<br />
Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder adalah data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media prantara, yaitu laporan keuangan auditan perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2001-2010 yang telah dipublikasikan.<br />
Identifikasi dan Pengukuran Variabel<br />
Variabel tidak bebas ( dependen variable )<br />
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah opini audit going concern (GCAO), yaitu opini audit modifikasi yang dalam pertimbangan auditor terdapat ketidakmampuan atau ketidakpastian signifikan atas kelangsungan hidup perusahaan dalam menjalankan operasinya. Pada perusahaan GCAO diberi kode 1, sedangkan  NGCAO diberi kode 0.<br />
Variabel bebas ( independen variable )<br />
1. Kondisi Keuangan Perusahaan<br />
Dalam penelitian ini Kondisi Keuangan Perusahaan diproksikan dengan menggunakan model prediksi kebangkrutan Revised Altman dan springate.<br />
1. Model Revised Altman<br />
Model Revised Altman (1993), model yang dikembangkan sebelumnya mengalami revisi yang tujuannya adalah agar model prediksinya tidak hanya digunakan manufaktur saja, melainkan juga dapat digunakan untuk perusahaan selain manufaktur. Rumus yang digunakan adalah :<br />
Z =  0,717 Z1 + 0,847 Z2 + 3,107 Z3 + 0,420 Z4 + 0,998 Z5<br />
Dimana :<br />
Z1 : Working capital to Total Asset Z2 : Retained earnings to Total Asset<br />
Z3 : Earnings before interest and tax to Total asset Z4 :Book value of equity to Book value of debt<br />
Z5 : Sales to Total Asset<br />
2. Model Springate<br />
Springate menggunakan analisis multi diskriminan untuk meprediksi 40 perusahaan sampelnya. Rumus yang digunakan adalah:<br />
S= 1.03 A + 3.07 B + 0.66 C + 0.4 D Dimana:<br />
A = Working Capital to Total  Assets<br />
B = Net profit before interest and taxes/total asset<br />
C = Net profit before taxes/curent liability<br />
D = Sales/Total asset<br />
3. Debt default (DEFAULT)<br />
Debt default atau kegagalan membayar hutang didefinisikan sebagai kelalaian atau kegagalan perusahaan untuk membayar hutang pokok atau bunganya pada saat jatuh tempo. Variabel dummy yang digunakan (1 = status debt default, 0 = tidak debt default) untuk menunjukkan apakah perusahaan dalam keadaan default atau tidak sebelum pengeluaran opini audit.<br />
 2. Kualitas Auditor<br />
Variabel kualitas auditor dalam penelitian ini, dapat dilihat melalui laporan auditor independen melalui KAP yang digunakan oleh masing-masing perusahaan. Apabila KAP yang mengaudit laporan keuangan perusahaan termasuk KAP BIG FOUR maka diberi kode 1, sedangkan untuk selain KAP BIG FOUR diberi kode 0.<br />
3. Opini audit tahun Sebelumnya<br />
Variabel independen dalam penelitian ini adalah opini audit tahun sebelumnya, yaitu opini audit modifikasi yang dalam pertimbangan auditor terdapat ketidakmampuan atau ketidakpastian signifikan atas kelangsungan hidup perusahaan dalam menjalankan operasinya pada tahun sebelumnya. Apabila pada tahun sebelumnya terdapat opini GC diberi kode 1, sedangkan opini NGC diberi kode 0.<br />
4. Pertumbuhan Perusahaan<br />
Dalam penelitian ini, variabel pertumbuhan perusahaan dilihat dengan pertumbuhan laba perusahaan setiap tahunnya. Variabel pertumbuhan laba perusahaan dalam penelitian dapat dicari melalui rumus:<br />
Pertumbuhan labat = laba bersiht- lababersiht-1</p>
<p><span id="more-231335"></span>HASIL DAN PEMBAHASAN<br />
Analisis Deskriptif<br />
Opini Audit Going Concern (GCAO)<br />
Opini Audit Going concern adalah variabel dependen dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini variabel dependennya adalah variabel dummy. Dimana perusahaan yang mendapat opini audit going concern diberi kode 1, sedangkan perusahaan yang tidak mendapat opini audit going concern diberi kode 0. Tabel 4.2.1 menyajikan frekuensi data perusahaan yang mendapat opini going concern dan yang tidak mendapat opini going concern per tahun penelitian, mulai dari 2001-2010. Secara rata-rata dapat diketahui bahwa perusahaan yang menerima opini audit going concern sebanyak 31 perusahaan atau 33,3%. Sedangkan perusahaan yang tidak menerima opini audit going concern sebanyak 62 perusahaan atau 66,7%. jadi dapat diketahui bahwa secara keseluruhan, mayoritas perusahaan sampel mendapat non opini audit going concern yang berarti perusahaan mampu mempertahankan kegiatan usahanya.</p>
<p>Kondisi Keuangan<br />
Kondisi keuangan bermasalah jika perusahaan memiliki modal kerja negatif, arus kas negatif, pendapatan operasi negatif, kerugian pada tahun berjalan, dan defisit saldo berjalan. Tabel 4.2.2 menampilkan secara ringkas mengenai distribusi kondisi keuangan perusahaan baik yang menerima opini audit going concern maupun yang tidak menerima opini audit going concern jika dilihat dari total modal kerja, laba rugi tahun berjalan, dan saldo laba tahun berjalan. Berdasarkan tabel 4.2.2 dari 31 perusahaan yang menerima opini audit going concern 54,8% diantaranya memiliki modal kerja yang positif, 58,1% memiliki laba positif dan 61,3% memiliki saldo laba ditahan positif, rata-rata ini lebih besar dari perusahaan yang memiliki modal kerja negatif yaitu sebesar 45,2%, 41,9% memiliki laba yang negatif, dan 38,7% memiliki saldo laba ditahan yang negatif. Sedangkan dari 62 perusahaan yang tidak menerima opini audit going concern 91,9% diantaranya memiliki modal kerja positif dan sisanya 8,1% memiliki modal kerja negatif, perusahaan yang memiliki laba positif sebesar 100% dan 95,2% perusahaan yang memiliki saldo laba positif, sisanya 4,8% memiliki saldo laba ditahan negatif. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan baik perusahaan yang menerima opini audit going concern (GCAO) maupun yang tidak menerima opini audit going concern (NGCAO) mayoritas memiliki modal kerja positif, laba positif, saldo laba ditahan positif.<br />
Tabel 4.2.2.1 menampilkan classify data (pengelompokan data) mengenai kondisi keuangan perusahaan baik yang menerima opini audit going concern maupun yang tidak menerima opini audit going concern jika dilihat dari variabel – variabel pembentuk model kebangrutan Revised Altman. Dari tabel 4.2.2.1 dapat dilihat bahwa variabel-variabel pembentuk model kebangrutan prediksi revised altman mengelompok, kelompok 1 adalah perusahaan yang rata-rata menerima opini audit going concern sebesar 17,7% rata-rata ini lebih kecil dibanding perusahaan yang tidak menerima opini audit going concern yaitu sebesar 82,3%. sedangkan kelompok 2 perusahaan yang menerima opini audit going concern sebesar 34,8% dan tidak menerima opini audit going concern sebesar 65,6%. Dari data tersebut dapat disimpulkan baik kelompok 1 maupun kelompok 2 mayoritas rata-rata perusahaan tidak menerima opini audit going concern (NGCAO).<br />
Dari tabel 4.2.2.2 dapat dilihat bahwa perusahaan yang menerima opini audit going concern dan tidak menerima opini audit going concern tidak mengelompok sesuai dengan opini yang diterima, hal ini dibuktikan dengan mengelompoknya perusahaan yang menerima opini audit going concern dan tidak menerima opini audit going concern menjadi satu kelompok.<br />
Kondisi keuangan perusahaan dikatakan buruk jika nilai proksi pengukuran kebangrutan semakin besar, begitu pula sebaliknya ketika nilai proksi semakin kecil maka kondisi keuangan perusahaan semakin sehat. Pada tabel 4.2.2.3 kondisi keuangan perusahaan model kebangrutan prediksi Revised Altman memperlihatkan bahwa dari 31 perusahaan yang menerima opini audit going concern diantaranya 18 perusahaan atau 58,1% perusahaan yang bangrut, 9 perusahaan atau 29,0% perusahaan yang gray area dan 4 perusahaan atau 12,9% perusahaan tidak bangrut. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa mayoritas perusahaan yang menerima opini audit going concern merupakan perusahaan yang bangrut.<br />
Pada tabel 4.2.2.4 kondisi keuangan perusahaan model kebangrutan prediksi Springate memperlihatkan bahwa dari 31 perusahaan yang menerima opini audit going concern diantaranya 22 perusahaan atau 71,0% perusahaan yang bangrut, 9 perusahaan atau 29,0% perusahaan yang tidak bangrut. Sedangkan dari 62 perusahaan yang tidak menerima opini audit going concern diantaranya 15 perusahaan atau 24,2% perusahaan bangrut, dan 47 perusahaan atau 75,8% perusahaan tidak bangrut. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa mayoritas perusahaan yang menerima opini audit going concern merupakan perusahaan yang bangrut, sedangkan perusahaan yang tidak menerima opini audit going concern mayoritas adalah perusahaan tidak bangrut.<br />
Tabel 4.2.1<br />
Distribusi observasi berdasarkan opini audit going concern<br />
2001	2002<br />
2003<br />
2004	2005	2006	2007	2008	2009	2010	Total<br />
GCAO	5	7	4	3	4	2	3	3	0	0	31	33.3%<br />
(dummy=<br />
1)<br />
NGCAO	4	4	6	5	5	6	6	8	10	8	62	66.7%<br />
(dummy=<br />
0)<br />
Total	9	11	10	8	9	8	9	11	10	8	93	100%<br />
Sumber : Data Sekunder yang telah diolah<br />
Tabel 4.2.2<br />
Kondisi Modal Kerja, Earning After Tax, Retained Earning Menerima Opini Audit Going concern<br />
working			Retained<br />
Capital	Earning After Tax		Earning<br />
+	17	54.8%	18	58.1%	19	61.3%<br />
-	14	45.2%	13	41.9%	12	38.7%<br />
Jumlah	31	100%	31	100%	31	100%<br />
Tidak Menerima Opini Audit Going concern<br />
working			Retained<br />
capital	Earning After Tax		Earning<br />
+	57	91.9%	62<br />
100%<br />
59	95.2%<br />
-	5	8.1%	0		3	4.8%<br />
Jumlah	62	100%	62<br />
100%<br />
62	100%<br />
 Sumber : Data Sekunder yang telah diolah<br />
Tabel 4.2.2.1<br />
Classify Revised Altman<br />
Kelompok 1<br />
Klompok 2<br />
GCAO<br />
3<br />
17,7%<br />
22<br />
34,8%<br />
NOGC<br />
14<br />
82,3%<br />
42<br />
65,6%<br />
Sumber : Data Sekunder yang telah diolah<br />
Tabel 4.2.2.2<br />
Classify springate<br />
Kelompok 1<br />
Kelompok 2<br />
GCAO<br />
33<br />
34.3%<br />
-		-<br />
NOGC<br />
62<br />
64.6%<br />
1		1,56<br />
Sumber : Data Sekunder yang telah diolah<br />
Tabel 4.2.2.3<br />
Frekuensi Kondisi Keuangan Model Revised Altman<br />
Menerima opini audit going concern		Tidak Menerima opini  audit<br />
going concern<br />
Perusahaan yang bangrut<br />
18<br />
58.1%<br />
8<br />
12.9%<br />
Perusahaan yang gray area<br />
9<br />
29.0%<br />
27<br />
43.5%<br />
Perusahaan tidak bangkrut<br />
4<br />
12.9%<br />
27<br />
43.5%<br />
Total<br />
31<br />
100%<br />
62<br />
100%<br />
Sumber : Data Sekunder yang telah diolah<br />
Tabel 4.2.2.4<br />
Frekuensi Kondisi Keuangan Model Springate<br />
Menerima opini audit going concern	Tidak Menerima opini audit<br />
going concern<br />
Perusahaan<br />
yang<br />
22	71.0%	15	24.2%<br />
bangkrut<br />
Perusahaan<br />
tidak<br />
9	29.0%	47	75.8%<br />
bangkrut<br />
Total		31	100%	62	100%<br />
 Sumber : Data sekunder yang telah diolah.<br />
Debt Default<br />
Variabel Debt default adalah variabel dummy. Untuk perusahaan default diberi kode 1, sedangkan untuk perusahaan yang tidak default diberi kode 0. Berdasarkan tabel 4.2.3 debt default pada perusahaan sampel sebesar 16,1% atau 15 perusahaan, jumlah ini lebih sedikit dibanding perusahaan yang tidak debt default yaitu sebesar 83,9% atau 78 perusahaan. berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan mayoritas perusahaan sampel tidak mengalami debt default.<br />
Kualitas Audit<br />
Variabel kualitas audit adalah variabel dummy. Untuk KAP BIG FOUR diberi kode 1, sedangkan untuk KAP NON BIG FOUR diberi kode 0. Berdasarkan Tabel 4.2.4 dapat disimpulkan bahwa perusahaan sampel tidak terlalu memilih untuk diaudit oleh KAP BIG FOUR, hal ini dapat dilihat dari jumlah perusahaan sampel yang diaudit oleh KAP BIG FOUR tidak jauh berbeda dengan perusahaan sampel yang diaudit oleh KAP NON BIG FOUR.<br />
Opini Audit Tahun Sebelumnya<br />
Variabel opini audit tahun sebelumnya (opini) juga merupakan variabel dummy. Apabila pada tahun sebelumnya terdapat opini going concern diberi kode 1, sedangkan opini non going concern diberi kode 0. Dari tabel 4.2.5 dapat disimpulkan bahwa mayoritas perusahaan sampel 63,4% atau 59 perusahaan tidak menerima opini audit going concern pada tahun sebelumnya<br />
Pertumbuhan Perusahaan<br />
Variabel pertumbuhan perusahaan dilihat dengan pertumbuhan laba perusahaan setiap tahunnya, apakah perusahaan mengalami pertumbuhan laba positif atau pertumbuhan laba negatif. Berdasarkan tabel 4.2.6 pertumbuhan laba positif pada sampel sebesar 50,5% atau 47 perusahaan, jumlah ini lebih banyak dibanding pertumbuhan laba negatif yaitu sebesar 49,5% atau 46 perusahaan. untuk melihat frekuensi pertumbuhan laba yang dialami perusahaan yang menerima opini audit going concern atau tidak menerima opini audit going concern dapat dilihat pada tabel 4.2.6.1.<br />
Tabel 4.2.3<br />
Frekuensi Debt Default<br />
2001	2002	2003	2004	2005	2006	2007	2008	2009	2010	Total<br />
Debt Default	2	3	2	1	1	2	2	2	0	0	15	16.1%<br />
(dummy=1)<br />
Tidak debt	7	8	8	7	8	6	7	9	10	8	78	83.9%<br />
default<br />
(dummy=0)<br />
Total	9	11	10	8	9	8	9	11	10	8	93	100%<br />
Sumber : Data Sekunder yang telah diolah<br />
Tabel 4.2.4<br />
Frekuensi Kualitas Audit<br />
2001	2002	2003	2004	2005	2006	2007	2008	2009	2010	TOTAL<br />
KAP<br />
BIG<br />
5	7	6	4	6	6	3	5	6	4	52	55.9%<br />
FOUR<br />
(dummy=1)<br />
KAP<br />
NON<br />
4	4	4	4	3	2	6	6	4	4	41	44.1%<br />
BIG FOUR<br />
(dummy=0)<br />
TOTAL	9	11	10	8	9	8	9	11	10	8	93	100%<br />
Sumber : Data Sekunder yang telah diolah<br />
Tabel 4.2.5<br />
Frekuensi Opini Audit Tahun Sebelumnya<br />
2001	2002	2003	2004	2005	2006	2007	2008	2009	2010	Total<br />
GCAO	5	7	6	3	2	2	5	3	1	0	34	36.6%<br />
(dummy=1)<br />
NOGC	4	4	4	5	7	6	4	8	9	8	59	63.4%<br />
(dummy=0)<br />
Total	9	11	10	8	9	8	9	11	10	8	93	100%<br />
 Sumber : Data Sekunder yang telah diolah<br />
Tabel 4.2.6<br />
Frekuensi Pertumbuhan Laba<br />
2001	200	200	200	2005	2006	2007	2008	2009	2010	Total<br />
2	3	4<br />
Pertumbu	2	6	7	5	5	5	5	3	4	5	47	50.5<br />
han	laba												%<br />
(positif)<br />
Pertumbu	7	5	3	3	4	3	4	8	6	3	46	49.5<br />
han	laba												%<br />
(negatif)<br />
Total		9	11	10	8	9	8	9	11	10	8	93	100<br />
%<br />
Sumber : Data Sekunder yang telah diolah<br />
Tabel 4.2.6.1<br />
Frekuensi Pertumbuhan Laba Berdasarkan Opini<br />
GCAO		NOGC<br />
Pertumbuhan laba (positif)	5		16.1%<br />
42<br />
67.7%<br />
Pertumbuhan laba (negatif)	26		83.9%<br />
20<br />
32.3%<br />
Total	31		100%<br />
62<br />
100%<br />
Sumber : Data Sekunder yang telah diolah<br />
Berdasarkan tabel 4.2.6.1 perusahaan yang menerima opini audit going concern (OGC) memiliki rata-rata pertumbuhan laba negatif yang lebih besar dari pada perusahaan yang tidak menerima opini audit going concern (NOGC), selain itu Perusahaan yang tidak menerima opini audit going concern juga memiliki pertumbuhan laba positif yang lebih besar dibanding pertumbuhan laba negatif.<br />
Analisis Statistik Deskriptif<br />
Berdasarkan analisa statistik deskriptif dapat diperoleh dan diketahui jumlah sampel yang diteliti, nilai maksimum, nilai minimum, mean, standar deviasi. Dari data yang ada diperoleh nilai statistik deskriptif sebagai berikut:<br />
Tabel 4.3<br />
Statistik Deskriptif<br />
Tidak Menerima Opini Going<br />
Menerima Opini Going Concern<br />
Concern<br />
St.<br />
St.<br />
Min<br />
Max<br />
Mean<br />
Deviasion<br />
Min<br />
Max<br />
Mean<br />
Deviasion<br />
Revised<br />
-1.956<br />
4.511<br />
.98397<br />
1.626419<br />
-.662<br />
5.124<br />
2.58755<br />
1.228964<br />
Springate<br />
-.651<br />
3.326<br />
.51597<br />
.902411<br />
.160<br />
4.285<br />
1.67298<br />
1.018495<br />
Default<br />
0<br />
1<br />
.48<br />
.508<br />
0<br />
0<br />
.00<br />
.000<br />
Kualitas<br />
0<br />
1<br />
.23<br />
.425<br />
0<br />
1<br />
.73<br />
.450<br />
Opini<br />
0<br />
1<br />
.87<br />
.341<br />
0<br />
1<br />
.11<br />
.319<br />
Tumbuh<br />
-1.655<br />
2.171<br />
-.52184<br />
.756231<br />
-1.512<br />
2.576<br />
.45750<br />
1.039601<br />
Jumlah<br />
31<br />
62<br />
Sumber: Data sekunder diolah, 2011<br />
Berdasarkan tabel 4.3 dari 31 perusahaan yang menerima opini audit going concern, nilai rata-rata model kebangrutan perusahaan prediksi revised altman adalah 0,98 dan springate 0,51 sedangkan pada perusahaan yang tidak menerima opini audit going concern memiliki nilai rata-rata 2,58 untuk model revised altman dan 1,67 untuk model springate. Hasil diatas menunjukkan dimana nilai mean perusahaan yang menerima opini audit going concern lebih kecil dari perusahaan yang tidak menerima opini audit going concern. Hal ini disebabkan karena pada perusahaan yang menerima opini audit going concern (GCAO) maupun yang tidak menerima opini audit going concern (NGCAO) mayoritas memiliki modal kerja positif, laba positif, saldo laba ditahan positif. Nilai Rata-rata pertumbuhan laba pada perusahaan yang menerima opini audit going concern adalah -0,52 sedangkan pada perusahaan yang tidak menerima opini audit going concern memiliki nilai rata-rata 0,45. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan yang menerima opini audit going concern rata-rata mengalami pertumbuhan laba yang negatif, sedangkan perusahaan yang tidak menerima opini audit going concern rata-rata mengalami pertumbuhan laba yang positif.<br />
Menguji Kelayakan Model Regresi<br />
Analisis pertama yang dilakukan adalah menilai kelayakan model regresi logistik yang akan digunakan. Pengujian kelayakan model regresi logistik dilakukan dengan menggunakan Goodness of fit test yang diukur dengan nilai Chi-Square pada bagian bawah uji Homser and Lemeshow. Probabilitas signifikansi yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan tingkat signifikansi (α) 5 persen. Ghozali (2006) mengatakan jika nilai statistik Hosmer and Lameshow Goodness Of Fit sama dengan atau kurang dari 0,05, maka Ho ditolak yang berarti ada perbedaan signifikan antara model dengan nilai observasinya sehingga Goodness fit model tidak baik karena model tidak dapat memprediksi nilai observasinya. Jika nilai Statistik Hosmer and Lameshow Goodness of fit lebih besar dari 0,05, maka Ho tidak dapat ditolak dan berarti model mampu memprediksi nilai observasinya atau dapat dikatakan model dapat diterima karena cocok dengan data observasinya.<br />
Tabel 4.3.1<br />
Uji Kelayakan Model Regresi<br />
Step		Chi-square			df			Sig.<br />
1		4.880			8			.770<br />
Tabel 4.3.1 menunjukkan hasil pengujian Hosmer and Lemeshow. Dengan probabilitas signifikansi menunjukkan angka 0,770 nilai signifikansi yang diperoleh ini jauh lebih besar dari pada 0,05 (α) 5%, maka H0 tidak dapat ditolak (diterima). Hal ini berarti model regresi layak untuk digunakan dalam analisis selanjutnya, karena tidak ada perbedaan yang nyata antara model dengan nilai observasinya.<br />
Menguji Model Fit (Overall Model Fit Test)<br />
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah data baik sebelum maupun sesudah variabel bebas dimasukkan kedalam model telah fit. Hipotesis untuk menilai model fit adalah : H0 : Model yang dihipotesiskan fit dengan data<br />
Ha : Model yang dihipotesiskan tidak fit dengan data<br />
Pengujian dilakukan dengan membandingkan nilai antara –2 Log Likelihood pada awal (Block Number = 0) dengan nilai –2 Log Likelihood pada akhir (Block Number = 1). Adanya pengurangan nilai antara &#8211; 2LL awal (initial – 2LL function) dengan nilai &#8211; 2LL pada langkah berikutnya (-2LL akhir) menunjukkan bahwa model yang dihipotesiskan fit dengan data (Ghozali, 2005).<br />
Tabel 4.3.2<br />
Uji keseluruhan model<br />
2	log<br />
likelihood<br />
-2LL Awal	118.392<br />
-2LL Akhir	34.714<br />
Berdasarkan tabel 4.3 terlihat angka -2LL pada -2LL Awal sebesar 118,392, sedangkan pada – 2LL Akhir angka -2LL mengalami peurunan sebesar 34,714. Penurunan likelihood ini menunjukkan model regresi yang lebih baik atau dengan kata lain model yang dihipotesiskan fit dengan data.<br />
Menguji Koefisien Determinasi<br />
Pengujian ini dimaksudkan untuk mengukur seberapa besar variabel independen mampu menjelaskan variabel dependennya. Nilai Nagelkerke R Square dapat diinterpretasikan seperti nilai R Square pada regresi berganda (Ghozali, 2005).<br />
Tabel 4.3.3<br />
Koefisisen Determinasi<br />
Ste	-2	Log Cox &amp; Snell Nagelkerke<br />
p	likelihood	R Square	R Square<br />
1	34.714a		.593	.824<br />
Dari Tabel 4.3.3 dapat dilihat nilai Nagelkerke R Square adalah sebesar 0,824 yang berarti variabilitas variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variabel independen adalah sebesar 82,4 persen, sisanya 17,6 persen dijelaskan oleh variabel–variabel lain di luar model penelitian.<br />
Pengujian Hipotesis<br />
Pengujian hipotesis menggunakan model regresi logistik. Regresi logistik digunakan untuk menguji pengaruh variabel-variabel indepeden yaitu kondisi keuangan (Revised, Springate), debt default, kualitas audit, opini audit tahun sebelumnya dan pertumbuhan laba. Pengujian dilakukan (α) 5%.<br />
Tabel 4.3.4<br />
Uji Regresi logistik<br />
B	Sig.<br />
Constant	-2.850	.023<br />
Revised	.637	.213<br />
Springate	-.685	.385<br />
Default	22.294	.998<br />
Kualitas	-1.773	.114<br />
Opini	3.861	.000<br />
Tumbuh	-1.506	.018<br />
Sumber: Data sekunder diolah, 2011<br />
Tabel 4.3.4 menunjukkan hasil pengujian dengan regresi logistik pada tingkat signifikasi 5 persen. Dari pengujian persamaan regresi logistik diatas maka diperoleh model regresi logistik sebagai berikut :<br />
Ln GC = -2.850 + 0.637 revised – 0.685 springate +22.294 default – 1.773 kualitas + 3.861 opini – 1.506 tumbuh GC-1<br />
Setiap koefisien yang negatif atau positif pada variabel-variabel independennya pada tahun pengamatan 2001 hingga 2010 memiliki pengaruh terhadap tingkat penerimaan opini audit going concern. Diketahui koefisien konstanta sebesar -2,850 mempunyai arti bahwa dengan tidak melakukan perhitungan nilai pada variabel-variabel independen pada penelitian ini, maka penerimaan terhadap going concern sebesar -2,850. Sedangkan setiap perubahan satu unit revised, springate, default, kualitas, opini, dan tumbuh, maka akan mempengaruhi kenaikan going concern sebesar masing-masing 0,637; 0,685; 22,294; 1,773; 3,861; dan 1,506. Begitupula sebaliknya.<br />
H1: Kondisi keuangan berpengaruh negatif terhadap penerimaan opini going concern<br />
Variabel kondisi keuangan perusahaan yang diproksikan dengan dua model prediksi kebangkrutan menunjukkan nilai koefisien masing-masing sebesar revised (0,637;0,213), springate (-0,685;0,385). Berdasarkan hasil-hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa dari kedua model prediksi kebangkrutan yang dijadikan sebagai proksi kondisi keuangan perusahaan model kebangrutan prediksi Revised Altman yang dinotasikan dengan revised dan model kebangrutan prediksi Springate menunjukkan hasil yang tidak signifikan, dengan nilai signifikansi 0,213 dan 0,385 lebih besar dari 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa H1 ditolak yang artinya kondisi keuangan tidak berpengaruh terhadap pemberian opini audit going concern. Walaupun variabel ini tidak signifikan tetapi tanda dari nilai koefisiennya pada model prediksi springate telah sesuai dengan hipotesis yang diajukan (negatif). Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh setyarno et al. (2006), santosa dan wedari (2007) dimana variabel kondisi keuangan perusahaan model prediksi Revised Altman tidak berpengaruh. Negatif terhadap penerimaan opini audit going concern.<br />
H2:  Debt default berpengaruh positif terhadap penerimaan opini  audit  going concern<br />
Variabel debt default menunjukkan nilai koefisien positif 22,924 dengan signifikansi 0,998 lebih besar dari 0,05 sehingga H2 ditolak, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa debt default tidak berpengaruh terhadap pemberian opini audit going concern. Hal ini menunjukkan bahwa auditor dalam memberikan opini audit going concern tidak berdasarkan kegagalan perusahaan untuk membayar hutang pokok atau bunganya pada saat jatuh tempo, disebabkan karena objek penelitian ini adalah perusahaan pertambangan yang kondisi keuangannya lebih kuat, hal ini ditunjukkan dengan lebih sedikitnya perusahaan sampel yang mengalami debt default. Walaupun variabel ini tidak signifikan tetapi tanda dari nilai koefisiennya telah sesuai dengan hipotesis yang diajukan (positif). Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh praptorini dan januarti (2007) dimana variabel debt default secara signifikan berpengaruh positif terhadap penerimaan opini audit going concern. Meskipun demikian hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Susanto (2009) dimana variabel debt default tidak berpengaruh signifikan terhadap pemberian opini audit going concern oleh auditor.<br />
H3:      Kualitas Audit berpengaruh positif terhadap penerimaan  opini audit going concern<br />
Variabel kualitas audit yang diproksikan dengan besaran Kantor Akuntan Publik (KAP) menunjukkan nilai koefisien negatif sebesar 1,773 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,114 lebih besar dari 0,05 Artinya bahwa H3 ditolak, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kualitas audit tidak berpengaruh terhadap opini audit going concern. perusahaan yang menggunakan KAP berskala besar tidak dapat menentukan apakah perusahannya akan mendapat opini audit going concern atau tidak. Kantor akuntan publik baik berskala besar maupun berskala kecil, akan selalu bersikap obyektif dalam memberikan opini. Jika suatu perusahaan mengalami keraguan dalam kelangsungan hidup maka akan diberikan opini audit going concern. Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Mutchler et al. (1997) yang menemukan bukti univariate bahwa auditor berskala besar (Big 6) lebih cenderung untuk mengeluarkan opini audit going concern pada perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan dibandingkan auditor berskala kecil (non-Big 6). Meskipun demikian hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Ramadhany (2004) dimana variabel skala auditor (Big Four dan Non Big Four) tidak berpengaruh signifikan atas kemungkinan penerbitan opini audit going concern oleh auditor.<br />
H4: Opini audit tahun sebelumnya berpengaruh positif terhadap penerimaan opini audit going concern<br />
Variabel opini audit tahun sebelumnya menunjukkan nilai koefisien positif sebesar 3,861 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05. Artinya bahwa H4 diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa opini audit tahun sebelumnya berpengaruh positif terhadap opini audit going concern. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Carcello dan Neal (2000) dan Rahmadhany (2004) yang menemukan bukti bahwa opini audit going concern yang diterima pada tahun sebelumnya mempengaruhi keputusan auditor untuk menerbitkan kembali opini audit going concern tersebut. Hasil temuan ini memberikan bukti empiris bahwa auditor dalam menerbitkan opini audit going concern akan mempertimbangkan opini audit going concern yang telah diterima oleh auditee pada tahun sebelumnya.<br />
H5: Pertumbuhan perusahaan berpengaruh negatif terhadap penerimaan opini audit going concern<br />
Variabel rasio pertumbuhan perusahaan yang diproksi dengan pertumbuhan laba menunjukkan nilai koefisien negatif sebesar 1,506 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,018 lebih kecil dari 0,05, Artinya bahwa H5 diterima. Dengan demikian terbukti bahwa rasio pertumbuhan perusahaan berpengaruh negatif terhadap opini audit going concern. Penerimaan hipotesis ini sesuai dengan data yang terdapat pada tabel 4.1.6.2, dari 93 sampel yang diamati nilai rata-rata dari rasio pertumbuhan laba kelompok perusahaan dengan opini GCAO lebih sedikit yang bernilai positif, sedangkan kelompok perusahaan dengan NGCAO lebih banyak yang bernilai positif. Hal ini berarti perusahaan yang menjadi sampel dengan opini GCAO lebih sedikit mengalami peningkatan laba, sedangkan perusahaan NGCAO lebih banyak mengalami peningkatan dalam laba bersihnya, sehingga perusahaan yang mengalami peningkatan laba cenderung memiliki laporan sewajarnya, dan potensi untuk mendapatkan opini non going concern akan lebih besar. Penelitian ini memberikan bukti empiris bahwa rasio pertumbuhan laba yang positif bisa menjamin auditee untuk tidak menerima opini audit going concern. Temuan empiris pada penelitian ini tidak konsisten dengan penelitian santosa dan wedari (2007) yang menemukan bukti empiris bahwa rasio pertumbuhan laba tidak mempengaruhi pemberian opini audit going concern.</p>
<p>KESIMPULAN DAN SARAN<br />
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:<br />
1. Kondisi Keuangan Perusahaan<br />
Berdasarkan model Revised altman dan Springate variabel kondisi keuangan tidak berpengaruh negatif signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern.<br />
2. Debt Default<br />
Variabel debt default tidak berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern, tetapi arah koefisiennya menunjukkan arah positif sesuai dengan hipotesis.<br />
3. Kualitas Audit<br />
Variabel kualitas audit tidak berpengaruh positif terhadap penerimaan opini audit going concern.<br />
4. Opini Audit Tahun Sebelumnya<br />
Variabel opini audit tahun sebelumnya berpengaruh positif signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern.<br />
5. Pertumbuhan Perusahaan<br />
Variabel Pertumbuhan Perusahaan berpengaruh negatif signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern.<br />
Saran untuk penelitian mendatang yaitu :<br />
1. Memasukkan variabel independen lain yang mungkin berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern, seperti teknologi, sumber daya manusia, budaya perusahaan dan sebagainya yang juga harus diperhatikan dalam memprediksi perusahaan dalam menerima opini audit going concern.<br />
2. Penelitian  selanjutnya  sebaiknya  memperluas  populasi  selain  perusahaan  pertambangan</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA<br />
A. Komalasari, Argianti. (2004). “Analisis Pengaruh Kualitas Auditor Dan Proxi Going Concern Terhadap Opini Auditor”. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Vol.9 No. 2 Juli, Bandar Lampung.<br />
Altman, Edward I., (2000), “Predicting Financial, Distress of Companies: Revisiting the Z-Score and Zeta ® Models”, New York University, Stern School of Business.<br />
Arens, Alvin A, Randal J Elder dan Mark S Beasley. 2003. Auditing dan Pelayanan Verifikasi: Pendekatan Terpadu. Edisi Kesembilan. Jakarta: Indeks.<br />
Chen, K. C. W., and B. K. Church. (1992). “Default on Debt Obligations and the Issuance of Going Concern Report”. Auditng: A Journal of Practice &amp; Theory,<br />
Carcello, J. V. and Neal, T.L. (2000). “Audit Committee Composition and Auditor Reporting.” The Accounting Review. 117-128<br />
Fanny, Margaretta dan Saputra, S. 2005. Opini Audit Going Concern : Kajian Berdasarkan Model Prediksi Kebangkrutan, Pertumbuhan Perusahaan, Dan Reputasi Kantor Akuntan Publik (Studi Pada Emiten Bursa Efek Jakarta). Simposium Nasional Akuntansi VIII. 966-978.<br />
Ghozali, Imam. (2006). ”Aplikasi Analisis Multivariant dengan Program SPSS”. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang.<br />
Ikatan Akuntan Indonesia. (2001). ”Standar profesional akuntan publik”, Jakarta : Salemba Empat.<br />
_____________________. (2004). ”Standar Akuntansi Keuangan”, Jakarta : Salemba Empat. Lennox, C., (2002). “Opinion Shopping and Audit Committees”. Center for economic institutions working paper series. 21 januari 2002, diakses dari http://cei.ier.hit-u.ac.jp/working/2002/2002WorkingPapers/wp2002-12.pdf pada tanggal 26 april 2011.<br />
Mckeown, J. C., J. F. Mucthler; and W. Hopwood. (1991). “Toward an Explanation of auditor Failure to Modify the Audit Reports of Bankrupt Companies”. Auditing: A Journal of Practice &amp; Theory. Supplement pp. 1-13.<br />
Mirna,P. dan Indira. 2007. “Analisis Pengaruh Kualitas Audit, Debt Default dan Opinion Shopping terhadap penerimaan Opini Going Concern”. SNA 10, Makasar. Juli.<br />
Mulyadi. (2002). “Auditing”. Buku 2. Jakarta : Salemba Empat.<br />
Petronela, Thio. 2004. Pertimbangan Going Concern Perusahaan Dalam Pemberian Opini Audit. Jurnal Balance. 47 – 55.<br />
Praptitorini, Mirna Dyah dan Indira Januarti. (2007). “Analisis Pengaruh Kualitas Audit, Debt Default dan Opinion Shopping Terhadap Penerimaan Opini Going Concern.” Simposium Nasional Akuntansi X. 26-28 juli, Universitas Diponegoro, Semarang<br />
Ramadhany, Alexander. (2004). “Analisis Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Penerimaan Opini Going Concern Pada Perusahaan Manufaktur Yang Mengalami Financial Distress Di Bursa Efek Jakarta“. Tesis S2, Universitas Diponegoro, Semarang.<br />
Santosa, Arga Fajar dan Linda Kusumaning Wedari. (2007). “Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecenderungan Penerimaan Opini Audit Going Concern.” Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Universitas UNIKA Soegijapranata, Semarang.<br />
Santoso, Singgih. 2010. “Statistik Multivariat”. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.<br />
Setyarno, Eko Budi, Indira dan Faisal. (2006). “Pengaruh Kualitas Audit, Kondisi Keuangan Perusahaan, Opini Audit Tahun Sebelumnya, Pertumbuhan Perusahaan terhadap Opini Audit Going Concern.” Simposium Nasional Akuntansi 9 Padang. 1-25.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwartawarga.gunadarma.ac.id%2F2013%2F05%2Fanalisis-faktor-faktor-yang-mempengaruhi-penerimaan-opini-audit-going-concern-2%2F&amp;title=Analisis%20Faktor-faktor%20yang%20Mempengaruhi%20Penerimaan%20Opini%20Audit%20Going%20Concern" id="wpa2a_6"><img src="http://wartawarga.gunadarma.ac.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2013/05/analisis-faktor-faktor-yang-mempengaruhi-penerimaan-opini-audit-going-concern-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perubahan kebudayaan</title>
		<link>http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2013/03/perubahan-kebudayaan-2/</link>
		<comments>http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2013/03/perubahan-kebudayaan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Mar 2013 07:56:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>IRWAN ZULKIFLI</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wartawarga.gunadarma.ac.id/?p=231264</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Perubahan kebudayaan &#160; Perubahan kebudayaan Perubahan kebudayaan adalah perubahan yang terjadi dalam system ide yang dimiliki bersama oleh para warga masyarakat atau sejumlah warga masyarakat yang bersangkutan, antara lain atura-aturan, norma-norma yang digunakan sebagai pegangan dalam kehidupan. Juga teknologi, selera, rasa keindahan (kesenian) dan bahasa. Perubahan kebudayaan atau akulturasi terjadi apabila suatu kelompok manusia dengan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<header>
<h1>Perubahan kebudayaan</h1>
</header>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Perubahan kebudayaan</strong></p>
<p>Perubahan kebudayaan adalah perubahan yang terjadi dalam system ide yang dimiliki bersama oleh para warga masyarakat atau sejumlah warga masyarakat yang bersangkutan, antara lain atura-aturan, norma-norma yang digunakan sebagai pegangan dalam kehidupan. Juga teknologi, selera, rasa keindahan (kesenian) dan bahasa. Perubahan kebudayaan atau akulturasi terjadi apabila suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan pada unsu-unsur suatu kebudayaan asing yang berbeda sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu dengan lambat laun diterima dan diolah kedalam kebudayaan sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.</p>
<p><a href="http://irwanzulkifli.files.wordpress.com/2013/03/images-4.jpg"><img src="http://irwanzulkifli.files.wordpress.com/2013/03/images-4.jpg?w=286" alt="Gambar" /></a></p>
<p>Proses akulturasi didalam sejarah kebudayaan terjadi dalam masa-masa silam. Biasanya suatu masyarakat hidup bertetangga dengan masyarakat-masyarakat lainnya dan antara mereka terjadi hubungan-hubungan, mungkin dalam lapangan perdagangan, pemerintahan dan sebagainya. Pada saat itulah unsur-unsur masing-masing kebudayaan saling menyusup. Proses migrasi besar-besaran, dahulu kala, mempermudah berlangsungnya akulturasi tersebut. Beberapa masalah yang menyangkut proses tadi adalah :</p>
<ol>
<li>Unsur-unsur kebudayaan asing manakah yang diterima,</li>
<li>Unsur-unsur kebudayaan asing manakah yang sulit diterima.</li>
<li>Individu-individu manakah yang cepat menerima unsur-unsur yang baru,</li>
<li>Ketegangan-ketegangan apakah yang timbul sebagai akibat akulturasi tersebut,</li>
</ol>
<p><a href="http://irwanzulkifli.files.wordpress.com/2013/03/images.jpg"><img src="http://irwanzulkifli.files.wordpress.com/2013/03/images.jpg?w=265" alt="Gambar" /></a></p>
<ol>
<li>Pada umumnya unsur-unsur kebudayaan asing yang mudah diterima adalah:
<ol>
<li>Unsur kebudayaan kebendaan seperti peralatan yang terutama sangat mudah dipakai dan dirasakan sangat bermanfaat bagi masyarata yang menerimanya. Contohnya alat tulis menulis yang benyak dipergunakan orang Indonesia diambil dari unsur-unsur kebudayaan Barat.</li>
<li>Unsur-unsur yang terbukti membawa manfaat besar, misalnya radio, computer, telephone yang banyak membawa kegunaan terutama sebagai alat komunikasi</li>
<li>Unsur-unsur yang dengan mudah disesuaikan dengan keadaan masyarakat yang menerima unsur-unsur tersebut, seperti mesin penggilingan padi yang dengan biaya murah serta pengetahuan teknis yang sederhana, dapat digunakan untuk memperlengkapi pabrik-pabrik penggilingan.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>2. Unsur-unsur kebudayaan yang sulit diterima oleh sesuatu masyarakat adalah misalnya:</p>
<ul>
<li>Unsur yang menyangkut system kepercayaan seperti ideology, filsafah hidup dan lain-lain.</li>
</ul>
<ul>
<li>Unsur-unsur yang dipelajari pada taraf pertama proses sosialisasi. Contoh yang paling mudah adalah soal makanan pokok masyarakat. Nasi sebagai makanan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia sukar sekali diubah dengan makanan pokok yang lainnya.</li>
</ul>
<p>3. Pada umumnya generasi muda dianggap sebagai individu-individu yang cepat menerima unsur-unsur kebudayaan asing yang masuk melalui proses akulturasi. Sebaliknya generasi tua, dianggap sebagai orang-orang kolot yang sukar menerima unsur baru. Hal itu disebabkan karena norma-norma yang tradisional sudah mendarah daging dan menjiwai sehingga sukar sekali untuk mengubah norma-norma yang sudah demikian meresapnya dalam jiwa generasi tua tersebut. Sebaliknya belum menetapnya unsur-unsur atau norma-norma tradisional dalam jiwa generasi muda. Menyebabkan bahwa mereka lebih mudah meneriam unsur-unsur baru yang kemungkinan besar dapat mengubah kehidupan mereka.</p>
<p>4. Suatu masyarakat yang terkena proses akulturasi, selalu ada kelompok-kelompok individu yang sukar sekali atau bahkan tak dapat menyesuaikan diri denagn prubahan-perubahan yang terjadi. Perubahan-perubahan masyarakat dianggap oleh golongan tersebut sebagai keadaan krisis yang membahayakan keutuhan masyarakat. Apabila mereka merupakan golongan yang kuat, maka mungkin proses perubahakn dapat ditahan. Sebaliknya bila mereka berada di pihak yang lemah, maka hanya dapat menunjukkan sikap yang tidak puas.</p>
<p>Bebagai factor yang mempengaruhi diterma atau tidaknya suatu unsur kebudayaan baru diantaranya :</p>
<ol>
<li>Terbatasnya masyarakat memiliki hubungan kontak dengan kebudayaan dan dengan orang-orang yang berasal dari luar masyarakat tersebut.</li>
<li>Jika pandangan hidup dan nilai-nilai yang dominan dalam suatu kebudayaan ditentukan oleh nilai-nilai agama, dan ajaran ini terjalin erat dalam keseluruhan pranata yang ada, maka penerimaan unsur baru itu mengalami hambatan dan harus disensor dulu oleh berbagai ukuran yang berlandaskan ajaran agama yang berlaku.</li>
<li>Corak srtuktur sosial suatu masyarakat turut menentukan proses penerimaan kebudayaan baru. Misalnya system otoriter akan sukar menerima unsure kebudayaan baru.</li>
<li>Suatu unsur kebudayaan diterima jika sebelumnya sudah ada unsur- unsur kebudayaan yang menjadi landasa bagi diterimanya unsur kebudayaan yang baru tersebut</li>
<li>Apabila unsur yang baru itu memiliki skala kegiatan yang terbatas, dan dapat dengan mudah dibuktikan kegunaannya oleh warga masyarakat yang bersangkutan.</li>
</ol>
<p><a href="http://irwanzulkifli.files.wordpress.com/2013/03/images-6.jpg"><img src="http://irwanzulkifli.files.wordpress.com/2013/03/images-6.jpg?w=251" alt="Gambar" /></a></p>
<p>Tidak ada kebudayaan yang statis, semua kebudayaan mempunyai dinamika dan gerak. Gerak kebudayaan sebenarnya adalah gerak manusia yang hidup dalam masyarakat yang menjadi wadah kebudayaan. Gerak manusia terjadi oleh karena terjadi hubungan antara kelompok manusia di dalam masyarakat.</p>
<p>Terjadinya gerak / perubahan ini disebabkan oleh beberapa hal:</p>
<ol>
<li>Disebabkan oleh perubahan jumlah dan komposisi penduduk.</li>
<li>Disebabkan oleh perubahan lingkungan alam dan fisik tempat mereka hidup.</li>
</ol>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwartawarga.gunadarma.ac.id%2F2013%2F03%2Fperubahan-kebudayaan-2%2F&amp;title=Perubahan%20kebudayaan" id="wpa2a_8"><img src="http://wartawarga.gunadarma.ac.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2013/03/perubahan-kebudayaan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orientasi nilai budaya</title>
		<link>http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2013/03/orientasi-nilai-budaya/</link>
		<comments>http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2013/03/orientasi-nilai-budaya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Mar 2013 07:54:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>IRWAN ZULKIFLI</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wartawarga.gunadarma.ac.id/?p=231262</guid>
		<description><![CDATA[Orientasi nilai budaya Kebudayaan sebagai karya manusia memiliki system nilai. Menurut C.Kluckhohn dalam karyanya Variations in Value Orientation (1961) system nilai budaya dalam semua kebudayaan di dunia, secara universal menyangkut lima masalah pokok kehidupan manusia, yaitu : Hakekat Hidup Hidup itu buruk Hidup itu baik Hidup bisa buruk dan baik, tetapi manusia tetap harus bisa [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Orientasi nilai budaya</strong><a href="http://irwanzulkifli.files.wordpress.com/2013/03/images-5.jpg"><img src="http://irwanzulkifli.files.wordpress.com/2013/03/images-5.jpg?w=243" alt="Gambar" /></a></p>
<p>Kebudayaan sebagai karya manusia memiliki system nilai. Menurut <strong>C.Kluckhohn</strong> dalam karyanya Variations in Value Orientation (1961) system nilai budaya dalam semua kebudayaan di dunia, secara universal menyangkut lima masalah pokok kehidupan manusia, yaitu :</p>
<ol>
<li><em><strong>Hakekat Hidup</strong></em></li>
</ol>
<ul>
<li>Hidup itu buruk</li>
<li>Hidup itu baik</li>
<li>Hidup bisa buruk dan baik, tetapi manusia tetap harus bisa berikthtiar agar hidup bisa menjadi baik.</li>
<li>Hidup adalah pasrah kepada nasib yang telah ditentukan.</li>
</ul>
<p><em><strong>2. Hakekat karya manusia (MK)               </strong></em><em><strong></strong></em></p>
<ul>
<li>Karya itu untuk menafkahi hidup</li>
<li>Karya itu untuk kehormatan.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://irwanzulkifli.files.wordpress.com/2013/03/images-6.jpg"><img src="http://irwanzulkifli.files.wordpress.com/2013/03/images-6.jpg?w=525" alt="images (6)" /></a></p>
<p><em><strong>3</strong></em> <em><strong>. Hakekat waktu manusia (WM)</strong></em></p>
<p>Hakekat waktu untuk setiap kebudaayan berbeda, ada yang berpandangan mementingkan orientasi masa lampau, ada pula yang berpandangan untuk masa kin atau masa yang akan datang.</p>
<p><em><strong>4. Hakekat alam manusia (MA)</strong></em></p>
<p>Ada kebudayaan yang mengaggap manusia harus mengeksploitasi alam atau    <a href="http://irwanzulkifli.files.wordpress.com/2013/03/download.jpg"><img src="http://irwanzulkifli.files.wordpress.com/2013/03/download.jpg?w=525" alt="download" /></a>memanfaatkan alam semaksimal mungkin, ada pula kebudaan yang beranggapan manusia harus harmonis dengan alam dan manusia harus menyerahkan kepada alam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em><strong>5. Hakekat hubungan manusia (MN)<br />
</strong></em></p>
<p>Dalam hal ini ada yang mementingkan hubungan manusia dengan manusia. Baik secara horizontal (sesamanya) maupun secara vertical (orientasi kepada tokoh-tokoh). Ada pula yang berpandagan individualistis (menilai tinggi kekuatan sendiri).</p>
<p><a href="http://irwanzulkifli.files.wordpress.com/2013/03/0.png"><img src="http://irwanzulkifli.files.wordpress.com/2013/03/0.png?w=710" alt="Gambar" /></a></p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwartawarga.gunadarma.ac.id%2F2013%2F03%2Forientasi-nilai-budaya%2F&amp;title=Orientasi%20nilai%20budaya" id="wpa2a_10"><img src="http://wartawarga.gunadarma.ac.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2013/03/orientasi-nilai-budaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Unsur-unsur kebudayaan</title>
		<link>http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2013/03/unsur-unsur-kebudayaan-2/</link>
		<comments>http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2013/03/unsur-unsur-kebudayaan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Mar 2013 07:50:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>IRWAN ZULKIFLI</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wartawarga.gunadarma.ac.id/?p=231257</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Unsur-unsur kebudayaan &#160; Pengertian dari budaya adalah berasal dari kata sansekerta buddayah yang merupakan bentuk jamak dari kata budhi yang artinya akal. Budaya artinya mempunyai pikiran dan akal budi. Kebudayaan adalah hasil dari kegiatan, pengetahuan dan penciptaan akal budi manusia sebagai makhluk individu dan sosial yag digunakan bagi kesejahteraan hidupnya. Sedangkan kebudayaan itu sendiri juga [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<header>
<h1>Unsur-unsur kebudayaan</h1>
</header>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://irwanzulkifli.files.wordpress.com/2013/03/images-1.jpg"><img src="http://irwanzulkifli.files.wordpress.com/2013/03/images-1.jpg?w=249" alt="Gambar" /></a></p>
<p>Pengertian dari budaya adalah berasal dari kata sansekerta buddayah yang merupakan bentuk jamak dari kata budhi yang artinya akal. Budaya artinya mempunyai pikiran dan akal budi. Kebudayaan adalah hasil dari kegiatan, pengetahuan dan penciptaan akal budi manusia sebagai makhluk individu dan sosial yag digunakan bagi kesejahteraan hidupnya.</p>
<p>Sedangkan kebudayaan itu sendiri juga dapat diartikan sebagai hasil cipta, rasa dan karsa manusia yang dilakukan secara sadar. Cipta, rasa dan karsa adalah faktor yang menghasilkan kebudayaan. Cipta adalah kemampuan akal pikiran yang menghasilkan ilmu pengetahuan. Rasa adalah kemampuan indra yang mendorong manusia mengembangkan rasa indah yang mampu menghasilkan karya-karya seni atau kesenian. Dan karsa adalah sebuah kehendak manusia terhadap kesempurnaan hidup, kemuliaan dan kebahagiaan.</p>
<p>Pengertian dari unsu-unsur kebudayaan adalah komponen-komponen pokok yang menjadi pembentuk suatu kebudayaan.Beberapa orang sarjana, telah mencoba merumuskan unsur-unsur pokok kebudayaan, misalnya <strong>Melville J. Herkovits</strong> mengajukan pendapatnya tentang unsur kebudayaan, dikatakannya bahwa hanya ada empat unsur dalam kebudayaan, yaitu alat-alat teknologi, system ekonomi, keluarga, dan kekuatan politik, sedangkan <strong>Bronislaw Malinowski</strong> mengatakan bahwa unsur-unsur itu terdiri dari system norma, organisasi ekonomi, alat-alat atau lembaga ataupun petugas pendidikan, dan organisai kekuatan. <strong>C.Kluckhohn</strong> di dalam karyanya berjudul Universal Categories ofCulture mengemukakan, bahwa ada tujuh unsur kebudayaan Universal, yaitu:</p>
<p><a href="http://irwanzulkifli.files.wordpress.com/2013/03/download-12.jpg"><img src="http://irwanzulkifli.files.wordpress.com/2013/03/download-12.jpg?w=184" alt="Gambar" /></a></p>
<p><em><strong>1. System Religi (system kepercayaan)</strong></em></p>
<p>Merupakan produk manusia sebagai homo religious. Manusia yang memiliki kecerdasan pikiran dan perasaan luhur, tanggap bahwa di atas kekuatan dirinya terdapat kekuatan lain yang maha besar, karena itu manusia takut, sehingga menyembahnya dan lahirlah kepercayaan yang sekarang menjadi agama</p>
<p><em><strong>2. </strong><strong>System organisasi kemasyarakatan</strong></em>.</p>
<p>Merupakan produk manusia sebagai homo socius. Manusia sadar bahwa tubuhnya lemah, namun memiliki akal, maka disusunlah organisasi kemasyarakatan dimana manusia bekerja sama untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya.</p>
<p><em><strong>3. </strong><strong>System pengetahuan</strong></em></p>
<p>Merupakan produk manusia sebagai homo sapiens. Pengetahuan dapat diperoleh dari pemikiran sendiri, disamping itu didapat juga dari orang lain. Kemampuan manusia mengingat- ingat apa yang telah diketahui kemudian menyampaikannya kepada orang lain melalui bahasa. Menyebabkan pengetahuan menyebar luas. Lebih-lebih bila pengetahuan itu dibukukan, maka penyebaran dapat dilakukan dari satu generasi ke generasi berikutnya.</p>
<p><em><strong>4. </strong><strong>System mata pencaharian hidup dan system-sistem ekonomi.</strong></em></p>
<p>Merupakan produk manusia sebagai homoeconomicus menjadi tingkat kehidupan manusia secara umum terus meningkat.</p>
<p><em><strong>5. </strong><strong>System Teknologi dan Peralatan</strong></em>.</p>
<p>Merupakan produk manusia sebagai homo faber. Bersumber dari pemikiranya yang cerdas dan dibantu dengan tangannya yang dapat memegang sesuatu dengan erat, manusia dapat membuat dan mempergunakan alat . dengan alat-alat ciptaannya itulah manusia dapat lebih mampu mencukupi kebutuhannya dari pada binatang</p>
<p><em><strong>6.</strong><strong>Bahasa</strong></em>.</p>
<p>Merupakan produk manusia sebagai homo longuens. Bahasa manusia pada mulanya diwujutkan dalam bentuk tanda (kode) yang kemudian disempurnakan dalam bentuk lisan, dan akhirnya menjadi bentuk bahasa tulisan.</p>
<p><em><strong>7.</strong><strong>Kesenian</strong></em></p>
<p>Merupakan produk manusia sebagai homo aesteticus. Setelah manusia dapat mencukupi kebutuhan fisiknya, maka dibutuhkan kebutuhan psikisnya untuk dipuaskan. Manusia bukan lagi semata-mata memenuhi kebutuhan isi perut saja, mereka juga perlu pandangan mata yang indah, suara yang merdu, yang semuanya dapat dipenuhi melalui kesenian.</p>
<p><strong>Wujud kebudayaan</strong></p>
<p>Menurut <strong>J.J. Hoenigman</strong>, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga yaitu :gagasan, aktivitas, dan wujud sebagai benda adalah sebagai berikut :</p>
<p><em><strong>1. Kompleks gagasan, konsep, dan pikiran manusia :</strong></em></p>
<p>Wujud ini disebut system budaya, sifatnya abstrak, tidak dapat dilihat, dan berpusat pada kepala- kepala manusia yang menganutnya, atau dengan perkataan lain, dalam alam pikiran warga masyarakat dimana kebudayaan bersangkutan hidup. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.</p>
<p><em><strong>2. Kompleks aktivitas :</strong></em></p>
<p>Berupa aktifitas manusia yang salaing berinteraksi, bersifat kongkret, dapat diamati atau diobservasi. Wujud ini sering disebut system sosial. System sosial ini terdiri dari aktifitas-aktifitas  manusia-manusia yang berinteraksi, berhungan, serta bergaul satu dengan yang lain dari detik ke detik, dari hari ke hari. Dan dari tahun ke tahun, slain menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sebagai rangkaian aktifitas manusia dalam masyarakat, system sosial bersifat kongkret, terjadi di sekeliling kita sehari-hari, biasa diobservasi, difoto dan didokumentasikan.</p>
<p><em><strong>3. Wujud sebagai benda :</strong></em></p>
<p>Aktifitas manusia yang saling berinteraksi tidak lepas dari berbagai penggunaan peralatan sebagai hasil karya manusia untuk mencapai tujuannya. Aktifitas karya manusia tersebut menghasilkan benda untuk berbagai keperluan hidupnya. Kebudayaan dalam bentuk fisik yang kongkret bisa juga disebut kebudayaan fisik, mulai dari benda yang diam sampai  benda yang bergerak.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwartawarga.gunadarma.ac.id%2F2013%2F03%2Funsur-unsur-kebudayaan-2%2F&amp;title=Unsur-unsur%20kebudayaan" id="wpa2a_12"><img src="http://wartawarga.gunadarma.ac.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2013/03/unsur-unsur-kebudayaan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Love Indonesia</title>
		<link>http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2013/03/love-indonesia-5/</link>
		<comments>http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2013/03/love-indonesia-5/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Mar 2013 04:23:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>SAIFUL ULUM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wartawarga.gunadarma.ac.id/?p=231233</guid>
		<description><![CDATA[Assalamualaikum Wr. Wb. Ketemu lagi dengan saya yang bernama Saiful Ulum mahasiswa Universitas Gunadarma kelas 1EB01,pada kesempatan kali ini saya akan berbagi pendapat tentang bumi kita tercinta ini yaitu INDONESIA. Menurut saya itu INDONESIA adalah Negara yang terletak di Asia Tenggara dan dilalui garis khatulistiwa. Indonesia termasuk Negara kepulauan, bayangkan saja Indonesia adalah Negara kepulauan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamualaikum Wr. Wb.<br />
Ketemu lagi dengan saya yang bernama Saiful Ulum mahasiswa Universitas Gunadarma kelas 1EB01,pada kesempatan kali ini saya akan berbagi pendapat tentang bumi kita tercinta ini yaitu INDONESIA. Menurut saya itu INDONESIA adalah Negara yang terletak di Asia Tenggara dan dilalui garis khatulistiwa. Indonesia termasuk Negara kepulauan, bayangkan saja Indonesia adalah Negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 13.487 pulau yang menyebabkan Negara RI atau Indonesia disebut juga sebagai Nusantara. Indonesia juga sebagai Negara peringkat 4 di Dunia dalam masalah jumlah penduduk, tercatat populasi penduduk nya mencapai kira – kira 222 juta penduduk yang mendiami tanah air tercinta ini dan pastinya angka kependudukan nya pasti akan naik seiring berjalannya waktu melihat pertumbuhan penduduk yang pesat di Indonesia.<br />
Next kita sekarang berbicara tentang <strong>PEMERINTAHAN  di INDONESIA.</strong> Menurut saya pemerintahan di Indonesia yang saya ketahui itu adanya pemerintahan pusat yang terdiri dari: Presiden,Wakil Presiden,MPR,DPR,DPD,MA,MK,dll. Serta juga adanya pemerintahan daerah yang meliputi provinsi,kabupaten/kota,serta kecamatan dan kelurahan/desa. Namun saya akan berbicara pemerintahan menurut sejarahnya saja, Secara teori, berdasarkan UUD 1945, Indonesia menganut sistem pemerintahan presidensiil. Namun dalam prakteknya banyak bagian-bagian dari sistem pemerintahan parlementer yang masuk ke dalam sistem pemerintahan di Indonesia. Sehingga secara singkat bisa dikatakan bahwa sistem pemerintahan yang berjalan i Indonesia adalah sistem pemerintahan yang merupakan gabungan atau perpaduan antara sistem pemerintahan presidensiil dengan sistem pemerintahan parlementer.</p>
<p>Apalagi bila dirunut dari sejarahnya, Indonesia mengalami beberapa kali perubahan sistem pemerintahan. Indonesia pernah menganut sistem kabinet parlementer pada tahun 1945 – 1949. kemudian pada rentang waktu tahun 1949 – 1950, Indonesia menganut sistem pemerintahan parlementer yang semu. Pada tahun 1950 – 1959, Indonesia masih menganut sistem pemerintahan parlementer dengan demokrasi liberal yang masih bersifat semu. Sedangkan pada tahun 1959 – 1966, Indonesia menganut sistem pemerintahan secara demokrasi terpimpin.</p>
<p>Perubahan dalam sistem pemerintahan tidak hanya berhenti sampai disitu saja. Karena terjadi perbedaan pelaksanaan sistem pemerintahan menurut UUD 1945 sebelum UUD 1945 diamandemen  dan setelah terjadi amandemen UUD 1945 pada tahun 1999 – 2002. Berikut ini adalah perbedaan sistem pemerintahan sebelum terjadi amandemen dan setelah terjadi amandemen pada UUD 1945 :</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong># Sebelum terjadi amandemen :</strong></p>
<p>MPR menerima kekuasaan tertinggi dari rakyat</p>
<p>Presiden sebagai kepala penyelenggara pemerintahan</p>
<p>DPR berperan sebagai pembuat Undang – Undang</p>
<p>BPK berperan sebagai badan pengaudit keuangan</p>
<p>DPA berfungsi sebagai pemberi saran/pertimbangan kepada presiden / pemerintahan</p>
<p>MA berperan sebagai lembaga pengadilan dan penguki aturan yang diterbitkan pemerintah.</p>
<p><strong># Setelah terjadi amandemen :</strong></p>
<p>Kekuasaan legislatif lebih dominan</p>
<p>Presiden tidak dapat membubarkan DPR</p>
<p>Rakyat memilih secara langsung presiden dan wakil presiden</p>
<p>MPR tidak berperan sebagai lembaga tertinggi lagi</p>
<p>Anggota MPR terdiri dari seluruh anggota DPR ditambah anggota DPD yang dipilih secar langsung oleh rakyat</p>
<p>Dalam sistem pemerintahaan presidensiil yang dianut di Indonesia, pengaruh rakyat terhadap kebijaksanaan politik kurang menjadi perhatian. Selain itu, pengawasan rakyat terhadap pemerintahan juga kurang begitu berpengaruh karena pada dasarnya terjadi kecenderungan terlalu kuatnya otoritas dan konsentrasi kekuasaan yang ada di tangan presiden. Selain itu, terlalu sering terjadi pergantian pejabat di kabinet karena presiden mempunyai hak prerogatif untuk melakukan itu.</p>
<p>Oke next skrng kita membahas tentang <strong>SENI &amp; BUDAYA di INDONESIA</strong>. Hmm Indonesia itu sangat kaya akan kebudayaan, pulau nya saja sudah banyak, demikian juga dengan kebudayaannya pasti. Kita ambil sebagai contoh suku sunda, saya ini orang sunda lhoo, Suku Sunda itu yang saya ketahui berasal dari bagian Jawa Barat dan mayoritas penduduk suku Sunda tinggal di daerah tersebut. Jangan salah lho,suku Sunda itu merupakan etnis kedua terbesar di Indonesia. Mayoritas kepercayaan/agama dari suku sunda adalah mayoritas agama Islam/Muslim. Akan tetapi ada juga sebagian kecil yang beragama Kristen,Hindu,serta Sunda Wiwitan. Jati diri yang mempersatukan orang Sunda adalah bahasanya dan budayanya. Orang Sunda dikenal memiliki sifat optimistis, ramah, sopan, dan riang serta tak lupa bahwa orang sunda itu memiliki jiwa jujur dan pemberani. Dalam percakapan sehari-hari, etnis Sunda banyak menggunakan bahasa Sunda. Namun kini telah banyak masyarakat Sunda terutama yang tinggal di perkotaan tidak lagi menggunakan bahasa tersebut dalam bertutur kata. Seperti yang terjadi di pusat-pusat keramaian kota Bandung dan Bogor, dimana banyak masyarakat yang tidak lagi menggunakan bahasa Sunda. Seni tari utama dalam Suku Sunda adalah Tari Jaipongan, tari Merak, dan tari Topeng. Tanah Sunda terkenal dengan kesenian Wayang Golek-nya. Wayang Golek adalah pementasan sandiwara boneka yang terbuat dari kayu dan dimainkan oleh seorang sutradara merangkap pengisi suara yang disebut Dalang. Seorang Dalang memiliki keahlian dalam menirukan berbagai suara manusia. Seperti halnya Jaipong, pementasan Wayang Golek diiringi musik Degung lengkap dengan Sindennya. Secara tradisional rumah orang Sunda berbentuk panggung dengan ketinggian 0,5 m – 0,8 m atau 1 meter di atas permukaan tanah. Pada rumah-rumah yang sudah tua usianya, tinggi kolong ada yang mencapai 1,8 meter. Kolong ini sendiri umumnya digunakan untuk tempat mengikat binatang-binatang peliharaan seperti sapi, kuda, atau untuk menyimpan alat-alat pertanian seperti cangkul, bajak, garu dan sebagainya. Untuk naik ke rumah disediakan tangga yang disebut Golodog yang terbuat dari kayu atau bambu, yang biasanya terdiri tidak lebih dari tiga anak tangga. Golodog berfungsi juga untuk membersihkan kaki sebelum naik ke dalam rumah. Sistem keluarga dalam suku Sunda bersifat bilateral, garis keturunan ditarik dari pihak bapak dan ibu. Dalam keluarga Sunda, bapak yang bertindak sebagai kepala keluarga. Ikatan kekeluargaan yang kuat dan peranan agama Islam yang sangat mempengaruhi adat istiadat mewarnai seluruh sendi kehidupan suku Sunda.</p>
<p>Next,saya akan membahas tentang <strong>SISTEM EKONOMI di INDONESIA</strong>. Menurut saya Sistem ekonomi bisa diartikan sebagai suatu sistem yang digunakan oleh suatu negara yang bertujuan  untuk mengalokasikan sumber daya yang dimiliki kepada individu maupun organisasi yang terdapat di negara tersebut. Berarti, sistem ekonomi Indonesia adalah suatu sistem yang digunakan oleh negara kita yang tujuannya untuk mengalokasikan berbagai sumber daya yang negara kita miliki kepada setiap warga negara Indonesia.</p>
<p>Walaupun secara keseluruhan sistem ekonomi memiliki berbagai macam jenis dan turunannya, secara umum suatu sistem ekonomi memiliki 3 macam jenis yakni sistem ekonomi kapitalis, Sistem ekonomi sosialis, dan sistem ekonomi campuran.</p>
<p>Sistem ekonomi sosialis bercirikan wewenang serta campur tangan negara yang besar terhadap perekonomian, sementara sistem ekonomi kapitalis bercirikan wewenang swasta dan masyarakat yang bebas bersaing dalam memperoleh keuntungan dan campur tangan pemerintah sangat minim, sementara sistem ekonomi campuran adalah paduan dari kedua sistem ekonomi tersebut dan merupakan sistem ekonomi Indonesia.</p>
<p><strong><br />
Sistem Ekonomi Campuran Sebagai Sistem Ekonomi Indonesia</strong></p>
<p>Indonesia sebagai salah satu negara yang ikut bersaing dan berjuang dalam perekonomian global menganut sistem ekonomi campuran yakni suatu sistem ekonomi yang memadukan antara kedua sistem perekonomian tersebut. Ciri dari sistem ekonomi Indonesia yang merupakan sistem ekonomi campuran dengan berlandaskan pancasila diantaranya adalah ;</p>
<p>Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.</p>
<p>Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.</p>
<p>Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.</p>
<p>Sumber-sumber kekayaan dan keuangan negara digunakan dengan permufakatan lembaga-lembaga perwakilan rakyat, serta pengawasan terhadap kebijaksanaannya ada pada lembaga-lembaga perwakilan pula.</p>
<p>Warga negara memiliki kebebasan dalam memilih pekerjaan yang dikehendaki serta mempunyai hak akan pekerjaan dan penghidupan yang layak.</p>
<p>Hak milik perorangan diakui dan pemanfaatannya tidak boleh bertentangan dengan kepentingan masyarakat.</p>
<p>Potensi, inisiatif dan daya kreasi setiap warga dikembangkan sepenuhnya dalam batas-batas yang tidak merugikan kepentingan umum.</p>
<p>Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.</p>
<p><strong>Sistem Ekonomi Lain yang Terdapat Dalam Sistem Ekonomi Indonesia</strong></p>
<p>Selain dari pada sistem ekonomi campuran yang berasakan pancasila, dalam sistem ekonomi Indonesia juga masih ada sistem ekonomi lain yaitu sistem ekonomi syariah dan sistem ekonomi tradisional. Sistem ekonomisyariah memiliki ciri yakni sistem perekonomian menganut asas-asas syariah yang tidak mengedepankan keuntungan tetapi mengutamakan keuntungan diantara kedua belah pihak dan menghidari hal-hal yang mendekati riba dan hal yang tidak baik dalam proses perekonomian.</p>
<p>Dan sistem ekonomi tradisional adalah salah satu sistem ekonomi indonesia yang teknik produksi serta perekonomiannya bersifat sederhana dan di dapatkan secara turun temurun, karena masih sederhana modal yang di gunakan pun sedikit dan belum memiliki pembagian kerja yang tidak pasti. Dalam sistem ekonomi tradisional kekeluargaan adalah yang utama sehingga tidak terjadi persaingan menjurus tidak sehat. Namun karena masih sederhana sistem ekonomi tradisional juga memiliki kelemahan yakni teknologi yang digunakan masih rendah sehingga produktivitas terbatas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dan yang terakhir, saya akan membahas tentang <strong>PARIWISATA di INDONESIA. </strong>Pariwisata di Indonesia merupakan sektor ekonomi penting di Indonesia. Pada tahun 2009, pariwisata menempati urutan ketiga dalam hal penerimaan devisa setelah komoditi minyak dan Gas Bumi serta minyak kelapa sawit. Berdasarkan data tahun 2010, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia sebesar 7 juta lebih atau tumbuh sebesar 10,74% dibandingkan tahun sebelumnya.dan pastinya angka ini akan meningkat dari tahun ke tahun. Dengan kekayaan alam dan budaya di Indonesia tentunya menghasilkan banyak sekali objek/wisata yg menarik bahkan indah untuk di kunjungi. Di Indonesia banyak sekali objek/wisata yang bisa tak hanya memanjakan mata, tetapi juga merupakan salah satu yang terbaik di DUNIA.sebagai contoh Pulau Kuta Bali yang menjadi favorit wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke tempat tersebut. Selain itu, Indonesia memiliki kawasan terumbu karang terkaya di dunia dengan lebih dari 18% terumbu karang dunia, serta lebih dari 3.000 spesies ikan, 590 jenis karang batu, 2.500 jenis moluska, dan 1.500 jenis udang-udangan.</p>
<p>Demikian penjelasan dari saya tentang All About Indonesia, kurang lebih nya mohon maaf dan mohon dimaklumi adanya,terima kasih<br />
Wassalamualaikum Wr.Wb</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwartawarga.gunadarma.ac.id%2F2013%2F03%2Flove-indonesia-5%2F&amp;title=Love%20Indonesia" id="wpa2a_14"><img src="http://wartawarga.gunadarma.ac.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2013/03/love-indonesia-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Love Indonesia</title>
		<link>http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2013/03/love-indonesia-4/</link>
		<comments>http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2013/03/love-indonesia-4/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Mar 2013 10:24:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>BUNGA IKA SARI</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wartawarga.gunadarma.ac.id/?p=231221</guid>
		<description><![CDATA[Love Indonesia Proud of Indonesia Republik Indonesia (RI) atau yang biasa disebut Indonesia adalah Negara kepulauan terbesar didunia. Indonesia memiliki 13.487 pulau baik pulau-pulau yang besar maupun pulau yang kecil, oleh karena itu Indonesia disebut juga sebagai Nusantara. Indonesia adalah negara yang memiliki penduduk terbesar ke 4 di dunia dengan populasi sebesar 237 juta jiwa [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Love Indonesia<br />
Proud of Indonesia</p>
<p>Republik Indonesia (RI) atau yang biasa disebut Indonesia adalah Negara kepulauan terbesar didunia. Indonesia memiliki 13.487 pulau baik pulau-pulau yang besar maupun pulau yang kecil, oleh karena itu Indonesia disebut juga sebagai Nusantara.<br />
Indonesia adalah negara yang memiliki penduduk terbesar ke 4 di dunia dengan populasi sebesar 237 juta jiwa penduduk pada tahun 2010. Sedangkan, pada tahun 2012 lalu Indonesia memiliki penduduk sebesar. Dan Indonesia adalah negara terbesar di dunia yang memiliki penduduk agama islam, selain agama islam ada juga agama-agama lain yang adaa di Indonesia seperti: Kristen protestan, Kristen katolik, hindu, budha, dan agama kepercayaan khonghucu.<br />
Bentuk pemerintahan Indonesia itu sendiri yaitu republik, presiden (yang memimpin negara) dan juga wakil presiden, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang semuanya itu dipilih oleh rakyat dengan semboyan “Dari Rakyat, Untuk rakyat, dan Oleh Rakyat”. Selain semboyan itu, semboyan nasional Indonesia yaitu “ Bhinneka Tunggal Ika” yang artinya adalah Berbeda-beda tapi tetap satu. Selain memiliki populasi padat dan wilayah yang luas, Indonesia memiliki wilayah alam yang mendukung tingkat keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia.<br />
1.	Sistem Ekonomi Indonesia<br />
Sistem perekonomian di Indonesia tidak mengacu kepada 2 hal yaitu system ekonomi kapitalis yang berlandaskan liberalisme dan sistem ekonomi sosialis yang berlandaskan komunis. Tetapi, sistem ekonomi yang diterapkan di Indonesia adalah sistem ekonomi pancasila.</p>
<p>Sistem pancasila ini dirancang agar dapat menampung semua aspirasi bangsa. Sistem perekonomian Indonesia haruslah sesuai dengan nilai-nilai pancasila seperti sila yang pertama “ketuhanan yang maha esa”.</p>
<p>Kegiatan perekonomian yang dijalankan juga semata-mata untuk membentuk persatuan bangsa yang semakin kuat. Sistem perekonomian Indonesia dijalankan dengan mengacu pada Undan-Undang Dasar (UUD) yang menjadi dasar peraturan Indonesia terutama pada pasal 33.<br />
Dalam UUD 1945 pasal 33, dijelaskan panduan dalam menjalankan roda perekonomian Indonesia<br />
1.	Pada pasal 1, dijelaskan perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas dasar kekeluargaan.<br />
2.	Pada pasal 2, dijelaskan bahwa cabang-cabang produksi yang penting bagi dan hajat hidup orang banyak dikuasai sepenuhnya oleh negara.<br />
3.	Pada pasal 3, dijelaskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.<br />
4.	Pada pasal 4, dijelaskan bahwa perekonomian nasional diselenggarakan atas dasar demokrasi ekonomi, dengan prinsip-prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. </p>
<p>http://www.anneahira.com/sistem-perekonomian-di-indonesia.html</p>
<p>Sistem ekonomi yang dianut Indonesia saat ini sudah mengikuti ekonomi global. Penerapan ekonomi Indonesia juga dinilai tidak pernah melihat ekonomi Pancasila yang dahulu pernah diterapkan.</p>
<p>http://economy.okezone.com/read/2013/02/23/320/766398/ekonomi-pancasila-kalah-dengan-sistem-ekonomi-global</p>
<p>2.	Seni dan Budaya Indonesia<br />
Kata &#8220;seni&#8221; adalah sebuah kata yang semua orang di pastikan mengenalnya, walaupun dengan kadar pemahaman yang berbeda. Konon kabarnya kata seni berasal dari kata &#8220;SANI&#8221; yang kurang lebih artinya &#8220;Jiwa Yang Luhur/ Ketulusan jiwa&#8221;.</p>
<p>http://seninusantara.blogspot.com/</p>
<p>Seni budaya Indonesia merupakan seni budaya yang dimiliki Indonesia. Seni budaya ini tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Setiap daerah memilki ciri khas kebudayaan yang berbeda. Berikut ini beberapa kebudayaan Indonesia berdasarkan jenisnya (yang ada di pulau jawa):</p>
<p>Rumah adat<br />
•	Jakarta: Rumah Kebaya<br />
•	Jawa Barat dan Banten: Rumah Kesepuhan<br />
•	Yogyakarta: Bangsal Kencono<br />
•	Jawa: Joglo (Jawa Tengah dan Jawa Timur)<br />
Tanean Lanjhang (Madura)</p>
<p>Tarian<br />
Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki berbagai tarian khasnya sendiri; Di Indonesia terdapat lebih dari 3000 tarian asli Indonesia. Tradisi kuno tarian dan drama dilestarikan di berbagai sanggar dan sekolah seni tari yang dilindungi oleh pihak keraton atau akademi seni yang dijalankan pemerintah.</p>
<p>Dalam kategori sejarah, seni tari Indonesia dapat dibagi ke dalam tiga era: era kesukuan prasejarah, era Hindu-Buddha, dan era Islam. Berdasarkan pelindung dan pendukungnya, dapat terbagi dalam dua kelompok, tari keraton (tari istana) yang didukung kaum bangsawan, dan tari rakyat yang tumbuh dari rakyat kebanyakan. Berdasarkan tradisinya, tarian Indonesia dibagi dalam dua kelompok; tari tradisional dan tari kontemporer.</p>
<p>Lagu<br />
Lagu kedaerahan mirip dengan lagu kebangsaan, namun statusnya hanya bersifat kedaerahan saja. Lagu kedaerahan biasanya memiliki lirik sesuai dengan bahasa daerahnya masing-masing seperti Manuk Dadali dari Jawa Barat dan Rasa Sayange dari Maluku.</p>
<p>Selain lagu daerah, Indonesia juga memiliki beberapa lagu nasional atau lagu patriotik yang dijadikan sebagai lagu penyemangat bagi para pejuang pada masa perang kemerdekaan.</p>
<p>Perbedaan antara lagu kebangsaan dengan lagu patriotik adalah bahwa lagu kebangsaan ditetapkan secara resmi menjadi simbol suatu bangsa. Selain itu, lagu kebangsaan biasanya merupakan satu-satunya lagu resmi suatu negara atau daerah yang menjadi ciri khasnya. Lagu Kebangsaan Indonesia adalah Indonesia Raya yang diciptakan oleh Wage Rudolf Soepratman.</p>
<p>Musik<br />
Musik-musik suku tradisional Indonesia umumnya menggunakan instrumen perkusi, terutama gendang dan gong.<br />
Musik di Indonesia sangat beragam dikarenakan oleh suku-suku di Indonesia yang bermacam-macam, sehingga boleh dikatakan seluruh 17.508 pulaunya memiliki budaya dan seninya sendiri. Indonesia memiliki ribuan jenis musik, kadang-kadang diikuti dengan tarian dan pentas. Musik tradisional yang paling banyak digemari adalah gamelan, angklung dan keroncong, sementara musik modern adalah pop dan dangdut.</p>
<p>Pakaian Adat<br />
Jakarta :<br />
•	Baju Koko dan Caping<br />
•	Kebaya Encim/Hwa Kun dan Kembang Goyang</p>
<p>Jawa:<br />
•	Batik<br />
•	Beskap dan Blangkon<br />
•	Kebaya<br />
•	Dodotan<br />
•	Baju Pesa&#8217;an (Madura)</p>
<p>http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya_Indonesia</p>
<p>3.	Pariwisata Indonesia<br />
Berbicara mengenai pariwisata indonesia, tentu tidak ada habisnya. Keindahan alam Indonesia menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Pariwisata di Indonesia merupakan sektor ekonomi penting di Indonesia. Pada tahun 2009, pariwisata menempati urutan ketiga dalam hal penerimaan devisa setelah komoditi minyak dan gas bumi serta minyak kelapa sawit.</p>
<p>Kekayaan alam dan budaya merupakan komponen penting dalam pariwisata di Indonesia. Alam Indonesia memiliki kombinasi iklim tropis, 17.508 pulau yang 6.000 di antaranya tidak dihuni, serta garis pantai terpanjang ketiga di dunia setelah Kanada dan Uni Eropa. Indonesia juga merupakan negara kepulauan terbesar dan berpenduduk terbanyak di dunia. Pantai-pantai di Bali, tempat menyelam di Bunaken, Gunung Rinjani di Lombok, dan berbagai taman nasional di Sumatera merupakan contoh tujuan wisata alam di Indonesia. Tempat-tempat wisata itu didukung dengan warisan budaya yang kaya yang mencerminkan sejarah dan keberagaman etnis Indonesia yang dinamis dengan 719 bahasa daerah yang dituturkan di seluruh kepulauan tersebut. Candi Prambanan dan Borobudur, Toraja, Yogyakarta, Minangkabau, dan Bali merupakan contoh tujuan wisata budaya di Indonesia. Hingga 2010, terdapat 7 lokasi di Indonesia yang telah ditetapkan oleh UNESCO yang masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia. Sementara itu, empat wakil lain juga ditetapkan UNESCO dalam Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia yaitu wayang, keris, batik dan angklung.</p>
<p>Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, sebelas provinsi yang paling sering dikunjungi oleh para turis adalah Bali, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, Sumatera Utara, Lampung, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, Banten dan Sumatera Barat. Sekitar 59% turis berkunjung ke Indonesia untuk tujuan liburan, sementara 38% untuk tujuan bisnis. Singapura dan Malaysia adalah dua negara dengan catatan jumlah wisatawan terbanyak yang datang ke Indonesia dari wilayah ASEAN. Sementara dari kawasan Asia (tidak termasuk ASEAN) wisatawan Jepang berada di urutan pertama disusul RRC, Korea Selatan, Taiwan dan India. Jumlah pendatang terbanyak dari kawasan Eropa berasal dari negara Britania Raya disusul oleh Perancis, Belanda dan Jerman.</p>
<p>http://id.wikipedia.org/wiki/Pariwisata_di_Indonesia</p>
<p>4.	Transportasi Indonesia<br />
Transportasi adalah pemindahan manusia atau barang dari satu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan sebuah kendaraan yang digerakkan oleh manusia atau mesin. Transportasi digunakan untuk memudahkan manusia dalam melakukan aktivitas sehari-hari.</p>
<p>Transportasi sendiri dibagi 3 yaitu, transportasi darat, laut, dan udara. Transportasi udara merupakan transportasi yang membutuhkan banyak uang untuk memakainya. Selain karena memiliki teknologi yang lebih canggih, transportasi udara merupakan alat transportasi tercepat dibandingkan dengan alat transportasi lainnya.</p>
<p>Darat<br />
•	Angkutan jalan<br />
•	Kereta api<br />
•	sepeda<br />
•	becak<br />
•	bajaj<br />
•	bemo<br />
•	helicak<br />
•	delman<br />
•	sepeda motor listrik</p>
<p>Laut<br />
•	Kapal<br />
•	Feri<br />
•	Sampan</p>
<p>Udara<br />
•	Pesawat<br />
•	Helikopter</p>
<p>Mode transportasi paling umum di Indonesia termasuk feri dan kapal lainnya, dan juga berbagai macam kendaraan jalan, dengan pelayanan jalur kereta api yang terbatas, dan pelayanan penerbangan komersial yang luas.</p>
<p>Karena Indonesia merupakan negara kepulauan, transportasi kapal merupakan sarana penting yang menghubungkan banyak tempat di negara ini. Kapal yang banyak digunakan termasuk kapal kontainer besar, berbagai jenis feri, kapal penumpang, kapal layar, dan kapal bermotor kecil.</p>
<p>http://id.wikipedia.org/wiki/Transportasi</p>
<p>Bunga Ika Sari<br />
21212527<br />
1EB01</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwartawarga.gunadarma.ac.id%2F2013%2F03%2Flove-indonesia-4%2F&amp;title=Love%20Indonesia" id="wpa2a_16"><img src="http://wartawarga.gunadarma.ac.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2013/03/love-indonesia-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LOVE INDONESIA</title>
		<link>http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2013/03/love-indonesia-3/</link>
		<comments>http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2013/03/love-indonesia-3/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Mar 2013 09:16:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PUTRI KUSUMANDARI</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wartawarga.gunadarma.ac.id/?p=231216</guid>
		<description><![CDATA[LOVE INDONESIA &#160; Indonesia adalah negara yang mempunyai akan beragam keindahan. Dari kebudayaan dan seni, tempat pariwisata, kaya akan penduduk dengan beragam suku dan masih memiliki alat transportasi tradisional Kecintaan terhadap indonesia dapat di buktikan dengan berkembangnya budaya dan seni wayang kulit yang diiringi dengan musik trdisional angklung, WAYANG salah satu puncak seni budaya bangsa [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>LOVE INDONESIA</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Indonesia adalah negara yang mempunyai akan beragam keindahan. Dari kebudayaan dan seni, tempat pariwisata, kaya akan penduduk dengan beragam suku dan masih memiliki alat transportasi tradisional</p>
<p>Kecintaan terhadap indonesia dapat di buktikan dengan berkembangnya budaya dan seni wayang kulit yang diiringi dengan musik trdisional angklung, WAYANG salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya. Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Budaya wayang, yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan.<br />
Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Keberadaan wayang sudah berabad-abad sebelum agama Hindu masuk ke Pulau Jawa. Walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk menyesuaikannya dengan falsafah asli Indonesia.<br />
Penyesuaian konsep filsafat ini juga menyangkut pada pandangan filosofis masyarakat Jawa terhadap kedudukan para dewa dalam pewayangan. Para dewa dalam pewayangan bukan lagi merupakan sesuatu yang bebas dari salah, melainkan seperti juga makhluk Tuhan lainnya, kadang-kadang bertindak keliru, dan bisa jadi khilaf. Hadirnya tokoh panakawan dalam pewayangan sengaja diciptakan para budayawan In­donesia (tepatnya budayawan Jawa) untuk mem­perkuat konsep filsafat bahwa di dunia ini tidak ada makhluk yang benar-benar baik, dan yang benar-benar jahat. Setiap makhluk selalu menyandang unsur kebaikan dan kejahatan.</p>
<p>Indonesia juga memiliki banyak tempat pariwisata yang sangat menawan, tapi siapa menyangka bahwa sesungguhnya ada tempat menarik di pelosok desa, tepatnya ada di Bumijawa Tegal Jawa Tengah. Sedikit sejarah tentang guci pada zaman dulu sekitar tahun <a title="1767" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1767">1767</a> tersebutlah seorang bangsawan dari Keraton <a title="Kesultanan Demak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Demak">Demak Bintoro</a>, bernama Raden Aryo Wiryo yang merasa jenuh dengan keadaan, kehidupan keraton yang seringkali terjadi konflik perang saudara dan persaingan perebutan tahta di antara sesama saudara dalam lingkup keraton. Keadaan itu membuat Raden Aryo Wiryo merasa jenuh dan berniat meninggalkan keraton. Akhirnya beliau berangkat meninggalkan keraton dengan mengajak istrinya yang kemudian dikenal dengan Nyai Tumbu, selang beberapa tahun kemudian beliau sempat mengabdi di <a title="Kesultanan Mataram" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Mataram">Keraton Mataram</a> pada zaman kejayaan Sultan Agung Hanyorokusumo kemudian beliau sempat pula ditugaskan oleh Sultan Agung untuk berangkat ke <a title="Cirebon" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Cirebon">Cirebon</a> pada masa itu. Kemudian beliau kembali mengembara hingga sampai di lereng <a title="Gunung Slamet" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Slamet">Gunung Slamet</a> sebelah utara dan beliau menetap di daerah tersebut . Beliau orang pertama yang membuka lahan perkampungan di tempat itu sampai banyak orang berdatangan ke daerah itu untuk berguru kepada Raden Aryo Wiryo dan akhirnya menetap di daerah tersebut. Oleh karenanya Raden Aryo Wiryo memeberi nama tempat itu “ Kampung Keputihan “, (daerah yang masih asli tak terjamah peradaban agama selain Islam). Suatu saat datanglah pengembara dari Pesantren Gunungjati yang merupakan santri <a title="Sunan Gunungjati" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Gunungjati">Syech Syarif Hidayatulloh</a>. Sunan Gunungjati bernama Kyai Elang Sutajaya bermaksud menyebarkan agama <a title="Islam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Islam">Islam</a> dan kemudian Raden Aryo Wiryo dan pengikutnya berkenan mendalami ajaran agama islam untuk lebih memantapkan keimanan para pengikutnya. Pada saat itu kampung keputihan sedang dilanda wabah <strong>pageblug</strong> seperti banyak tanah longsor dan penyakit gatal – gatal (gudigen, bahasa setempat)sehingga Kyai Elang Sutajaya mengajak Raden Aryo Wiryo dan warganya untuk berdoa kepada <a title="Alllah (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Alllah&amp;action=edit&amp;redlink=1">Alllah</a> SWT dengan ritual yang sekarang dikenal sebagai <strong>ruwat bumi</strong> dengan menyembelih kambing Kendit dan menyajikan hasil bumi seperti Pala Pendem dan sayur mayur yang akan disedekahkan kepada fakir miskin. Acara ritual tersebut terjadi pada bulan Asyuro atau bulan Mukharom dan turun temurun sampai sekarang. Pada saat berdoa dengan tasyakuran Tahlilan dan Manaqib kala itu, Kanjeng <a title="Sunan Gunungjati" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Gunungjati">Sunan Gunungjati</a> berkenan hadir secara ghoib dan memeberikan sebuah guci sakti yang sudah diisi dengan do’a Kanjeng Sunan agar supaya penduduk Kampung Keputihan yang terjangkit wabah gatal segera meminum air guci tersebut dan pojok – pojok Kampung Keputihan agar dipercikkan air guci tersebut untuk menghilangkan kerusakan akibat bencana alam. Sehingga pada saat Radenn Aryo Wiryo berkeliling bersama Kyai Elang Sutajaya beliau menemukan sumber mata air panas dibawah sebuah <a title="Gua" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gua">Gua</a> yang sekarang terkenal dengan nama <strong>Pancuran 13</strong>. Adapun guci sakti tersebut ditempatkan di sebuah dukuh tempat Raden Aryo Wiryo biasa semedi, daerah tersebut sekarang dikenal dengan nama Telaga Ada di Dukuh Engang <strong>Desa Guci</strong>, sehingga karena kekeramatan guci tersebut maka Kampung Keputihan dapat pulih kembali, bebas dari pageblug. Untuk mengenang peristiwa tersebut maka Kampung Keputihan diubah namanya menajadi Desa Guci. Adapun guci sakti tersebut sekarang ada di <a title="Museum Nasional (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Museum_Nasional&amp;action=edit&amp;redlink=1">Museum Nasional</a> karena pada zaman Adipati Cokroningrat dari Brebes memindahkannya dari Desa Guci ke pendopo Kadipaten Brebes yang kala itu Desa Guci adalah bagian dari Kabupaten <a title="Brebes" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Brebes">Brebes</a>. Untuk lebih membaur dengan warga, Raden Aryo Wiryo menggunakan nama samaran yaitu Kyai Ageng Klitik atau untuk lebih akrab dengan sebutan Kyai Klitik. Selain itu penyamaran tersebut juga mengandung maksud lain, sebab keturunan darah biru atau bangsawan dari keraton banyak yang diburu penjajah <a title="Belanda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda">Belanda</a> . Sampai sekarang tidak diketahui maksud dan asal muasal makna yang sesungguhnya, beliau juga menemukan tuk atau mata air panas lain yang sekarang terkenal dengan <strong>Pemandian Kasepuhan</strong> dan <strong>Pemandian Pengasihan</strong> yang berkasiat untuk sababiyah berbagai penyakit kulit dan tulang dan sarana mengabulkan khajat tertentu bagi yang meyakininya. Konon kabarnya Pemandian tersebut adalah tempat untuk penjamasan atau memandikan keris Kyai Klitik agar pamornya menjadi sepuh sehingga tempat itu dinamakan Kasepuhan dan tempat untuk memandikan pusaka – pusaka lain yang berpamor welas asih, sehingga tempat tersebut dinamakan Pengasihan. Tempat tersebut sekarang dipergunakan untuk pemandian umum yang didatangi pengunjung dari berbagai tempat. Setelah Desa Guci semakin ramai maka datanglah seorang pengembara bernama Mbah Segeong dan bertapa di dalam Gua, yang sekarang terkenal dengan Gua Segeong terletak di sebelah selatan Pos I Retribusi sekitar 350 m jaraknya. Pada saat Kyai Elang Sutajaya mensyiarkan agama islam beliau sering melakukan semedi di atas sebuah bukit. Di sekitar tempat itu banyak terdapat hewan badak (warak, dalam bahasa jawa), maka Kyai Elang Sutajaya menyebutnya dengan Kandang Warak yang sekarang nama tersebut digunakan sebagai nama sebuah dukuh di sebelah timur Desa Guci yaitu Dukuh Pekandangan.</p>
<p>Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki beragam penduduk yang memiliki banyak perbedaan, dari suku, bahasa, jenis kulit, ras dan lain-lain. Ras Indonesia Ras yang sempurna, kami menyebutnya dengan demikian. Ras ini terdiri dari seluruh suku yang ada di Indonesia seperti Jawa, Sunda, Minang, Melayu, Dayak, Bugis, Bali, Sasak, Papua dan sebagainya. Seluruh suku ini rata-rata memiliki persamaan fisik yaitu kulit sawo matang, ukuran tubuh kecil, hidung kecil dan rambut hitam.<br />
Umumnya orang Indonesia menganggap orang asing yang putih, tinggi, langsing, hidung mancung, bibir tipis, dan rambut pirang lebih cantik atau tampan. Kita harus mulai belajar memahami cantik dari berbagai sudut pandang. Ternyata beberapa orang Indonesia yang di Indonesia dianggap biasa aja, menurut pandangan orang negara lain malah dianggap cantik. Begitu juga sebaliknya, yang di Indonesia dianggap cantik, belum tentu cantik di mata orang asing. Sebenarnya orang berpredikat tampan-cantik itu berkulit coklat, hidung kecil, mata hitam, rambut hitam. Ciri fisik itu dimiliki ras Indonesia. Kita sebagai ras Indonesia, tercipta dengan pigmen kulit dominan yaitu pigmen eumelanin (pigmen yang menyebabkan kulit coklat sampai hitam) dan pigmen karoten (penyebab warna kuning), makanya sebagian besar orang-orang Indonesia mempunyai kulit sawo matang dan kuning langsat. Orang Indonesia yang paling putih berwarna kuning langsat lebih indah dari kulit orang Eropa yang pucat kemerahan. Yang paling hitamnya tidak kalah manis, orang Ambon, Flores dan Papua memiliki warna kulit lebih coklat tapi tidak sehitam orang Afrika. Warna coklatnya pas. Warna cokelat-hitam terlihat lebih menggemaskan dan manis daripada warna putih. Kulit coklat memang lebih keren, seksi, dan eksotis. Di Amerika Serikat orang berkulit cokelat dianggap tampan dan disukai mahasiswi kulit putih AS.<br />
Kelebihan lainnya dari kulit kita yaitu lebih tahan radiasi ultraviolet. Dalam tubuh kita ada zat yang bernama melanin yang membuat kulit kita berwarna kecoklatan. Melanin mempunyai fungsi utama yaitu melindungi epidermis dan dermis dari bahaya radiasi ultraviolet.</p>
<p>Indonesia juga masih mengandalkan alat transortasi tradisional, seperti di daerah Jogja yang masih mengandalkan Andong. <strong>Andong</strong> merupakan salah satu alat transportasi tradisional di <a title="Yogyakarta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Yogyakarta">Yogyakarta</a> dan sekitarnya, seperti <a title="Solo" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Solo">Solo</a> dan <a title="Klaten" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Klaten">Klaten</a>. Keberadaan andong sebagai salah satu warisan budaya <a title="Jawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa">Jawa</a> memberikan ciri khas kebudayaan tersendiri yang kini masih terus dilestarikan. Walaupun sudah banyak kendaraan bermotor yang lebih cepat dan murah, tetapi pengguna Andong di <a title="Yogyakarta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Yogyakarta">Yogyakarta</a> ini masih cukup banyak. Andong-andong ini dapat ditemui dengan mudah di sepanjang jalan <a title="Malioboro" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Malioboro">Malioboro</a>, pasar <a title="Ngasem (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ngasem&amp;action=edit&amp;redlink=1">Ngasem</a>, serta di <a title="Kotagede" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kotagede">Kotagede</a>. Andong dibeberapa tempat disebut delman, bendi, ataupun sado. Di Yogyakarta dahulu merupakan satu kebanggaan tersendiri jika mempunyai kendaraan ini, karena ini sebagai penanda satus sosialnya yankni sebagai bangsawan atau priyayi atau kerabat keraton. Hal ini terjadi pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VII, waktu itu rakyat kecil tidak diperkenankan untuk menggunakan kendaraan tersebut. Namun pada masa Sultan Hamengku Buwono VIII barulah kendaraan ini boleh digunakan oleh masyarakat umum meskipun masih di terbatas bagi masyarakat berada yakni kalangan pengusaha dan pedagang saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber : Wikipedia</p>
<p>PUTRI KUSUMANDARI</p>
<p>1EB01</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwartawarga.gunadarma.ac.id%2F2013%2F03%2Flove-indonesia-3%2F&amp;title=LOVE%20INDONESIA" id="wpa2a_18"><img src="http://wartawarga.gunadarma.ac.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2013/03/love-indonesia-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PROUD OF INDONESIA</title>
		<link>http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2013/03/proud-of-indonesia-3/</link>
		<comments>http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2013/03/proud-of-indonesia-3/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Mar 2013 10:57:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>NOVI YANTI</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wartawarga.gunadarma.ac.id/?p=230949</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka. Sebelumnya, Indonesia dijajah oleh Belanda selama 350 tahun dan dijajah oleh Jepang selama 3,5 tahun. Dibutuhkan semangat, kekuatan, pengorbanan, bahkan pertumpahan darah. Menghilangkan perbedaan dan menyatukan pemikiran menjadi kunci utama untuk bangsa Indonesia. Banyak pahlawan yang berguguran untuk memeperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kelahiran bangsa Indonesia berasal dari masyarakat yang [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka. Sebelumnya, Indonesia dijajah oleh Belanda selama 350 tahun dan dijajah oleh Jepang selama 3,5 tahun. Dibutuhkan semangat, kekuatan, pengorbanan, bahkan pertumpahan darah. Menghilangkan perbedaan dan menyatukan pemikiran menjadi kunci utama untuk bangsa Indonesia. Banyak pahlawan yang berguguran untuk memeperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kelahiran bangsa Indonesia berasal dari masyarakat yang memiliki jiwa nasioanlisme dan patriotisme. Tanpa jiwa nasionalisme dan patriotisme negara Indonesia tidak mungkin merdeka. ‘Bhineka Tunggal Ika’ itulah semboyan Indonesia. Semboyan tersebut mempunyai arti yaitu walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu. Indonesia juga memiliki beragam macam seni dan budaya, pariwisata, kependudukan, dan transportasi. Di tulisan ini saya akan membahasnya tentang keanekaragaman tersebut.</p>
<p>•Seni dan Budaya Indonesia<br />
Seni dan kebudayaan Indonesia sangat unik, karena tidak dapat ditemukan di negara lain.<br />
Berikut adalah beberapa seni dan kebudayaan Indonesia antara lain :<br />
1. Alat musik dan lagu daerah<br />
    Misalnya alat musik dan lagu daerah dari Jawa Barat yaitu angklung. Angklung adalah alat musik tradisional yang berasal dari Jawa Barat, terbuat dari bambu, yang dibunyikan dengan cara digoyangkan. Lagu daerah dari Jawa Barat adalah Bubuy Bulan, Cing Cangkeling, Manuk Dadali, Tokecang, dan lain sebagainya.</p>
<p>2. Ondel-ondel Jakarta<br />
    Ondel-ondel adalah salah satu kebudayaaan yang ada di Jakarta. Ketika kita mendengar kata ondel-ondel, maka pikiran kita langsung tertuju pada masyarakat Betawi. Wajah ondel-ondel ini bisa dibilang menyeramkan karena matanya besar-bulat melotot dan kepalanya dilapisi ijuk atau kertas-kertas warna-warni, sebagai rambut. Terkadang ada anak kecil yang ketakutan gara-gara ondel-ondel ini mungkin karena matanya besar-bulat melotot. Kalo yang lelaki wajahnya berwarna merah tua sedangkan yang perempuan biasanya berwarna putih. Entah ada atau tidak hubungannya antara pewarnaan ini dengan warna bendera kita yaitu merah-putih.</p>
<p>3. Batik<br />
    Batik adalah salah satu pakaian khas Indonesia. Batik ditulis dan dilukis pada daun lontar. Corak-coraknya pun mulai berkembang, dari awalnya bercorak hewan dan tumbuhan, kini beralih pada corak abstrak seperti awan, relief candi, dan lain-lain. Pada saat ini ada batik yang becorak lambang bola.</p>
<p>•Pariwisata<br />
  Indonesia memiliki banyak tempat pariwisata yang tidak dimiliki oleh negara-negara lainnya. Selain itu, banyak tempat-tempat wisata Indonesia yang terkenal di dunia. Tempat wisata Indonesia yang terkenal di dunia yaitu Kuta Bali, Danau Toba, Candi Borobudur, dan lain sebagainya.<br />
Misalnya saja tempat pariwisata seperti Kuta Bali. Kuta adalah sebuah tempat pariwisata yang terletak di sebelah selatan Denpasar, ibu kota Bali, Indonesia. Daerah ini merupakan sebuah destinasi turis mancanegara yang sangat terkenal. Banyak keindahan di pantai Kuta ini yang tidak pernah ada di negara lain selain di negara Indonesia. Di Kuta sendiri banyak terdapat pertokoan, restoran dan tempat pemandian serta menjemur diri. Pantai Kuta sering pula disebut sebagai Sunset Beach atau pantai matahri terbenam sebagai lawan dari pantai Sanur. Lapangan udara I Gusti Ngurah Rai terletak tidak jauh dari Kuta.<br />
Selain Kuta Bali yang terkenal di dunia, ada juga tempat wisata Danau Toba. Danau Toba adalah sebuah danau vulkanik dengan ukuran luas 100 km x 30 km di Sumatera Utara, Sumatera, Indonesia. Di tengah danau ini terdapat sebuah pulau vulkanik bernama Pulau Samosir. Danau Toba sejak lama menjadi daerah tujuan wisata penting di Sumatera Utara selain Bukit Lawang dan Nias. Danau toba ini menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.</p>
<p>•Kependudukan<br />
  Indonesia adalah negara di Asia Tenggara, yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada di antara benua Asia dan Australia serta antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 13.487 pulau. Oleh karena itu ia disebut juga sebagai Nusantara.<br />
Penduduk Indonesia adalah mereka yang tinggal di Indonesia pada saat dilakukan sensus dalam kurun waktu minimal 6 bulan. Penduduk Indonesia secara resmi diumumkan pemerintah berdasarkan hasil Sensus Penduduk dan berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus.<br />
Indonesia memiliki jumlah penduduk yang banyak. Dapat dilihat dari hasil sensus penduduk yang semakin tahun semakin meningkat. Dibanding dengan negara-negara berkembang lainnya, Indonesia menempati urutan ketiga dalam jumlah penduduk setelah Cina dan India. Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk yang sangat besar disertai dengan tingkat pertumbuhan yang relatif tinggi dan persebaran penduduk yang tidak merata. Masalah kependudukan merupakan masalah umum yang dimiliki oleh setiap negara di dunia ini termasuk Indonesia. Mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. </p>
<p>•Transportasi<br />
  Transportasi di Indonesia merupakan jasa kendaraan yang digunakan oleh masyarakat Indonesia yang paling mudah dan efektif. Di Indonesia ada alat transportasi yang tidak ada di kota lain, misalnya saja bajaj hanya ada di kota Jakarta tetapi tidak ada di kota Depok. Busway hanya ada di kota Jakarta tetapi tidak ada di kota Semarang.<br />
Berikut ini jenis-jenis transportasi di Indonesia antara lain :<br />
1. Transportasi darat<br />
    Transportasi darat merupakan sarana transportasi antar provinsi atau antar daerah. Salah satu transportasi darat yang populer saat ini adalah Busway TransJakarta yang berada di Jakarta. Transportasi darat selain kereta api, mobil, bus ataupun sepeda motor, ada juga transportasi darat yang digunakan di perkampungan seperti bajaj, becak, bemo, sepeda, dan lain sebagainya.</p>
<p>2. Transportasi air<br />
     Sebagai negara kepulauan, transportasi laut memegang peranan penting di Indonesia. Transportasi laut menghubungkan antar pulau baik besar maupun kecil. Transportasi kapal merupakan sarana penting yang menghubungkan banyak tempat di Indonesia ini. Kapal yang banyak digunakan yaitu kapal kontainer besar, berbagai jenis feri, kapal penumpang, kapal layar, dan kapal bermotor kecil.</p>
<p>3. Transportasi udara<br />
    Transportasi udara merupakan sarana transportasi yang paling cepat untuk antar provinsi, antar benua, antar negara bila dibandingkan dengan transportasi darat ataupun air. Transportasi udara yaitu seperti Garuda Indonesia.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwartawarga.gunadarma.ac.id%2F2013%2F03%2Fproud-of-indonesia-3%2F&amp;title=PROUD%20OF%20INDONESIA" id="wpa2a_20"><img src="http://wartawarga.gunadarma.ac.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2013/03/proud-of-indonesia-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
